My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Kecemasan bu liza



"zayyan kau apakan adikku?" silvi terkejut melihat gambar tersebut


"aku tidak berbuat apa apa, dia sendiri yang menyerahkan tubuhnya demi dirimu aku hanya tidak ingin menyianyiakan kesempatan" zayyan tersenyum licik


"zayyan" pekik silvi


"kenapa? Kau terkejut? Bukan kah itu yang kau inginkan Agar aku mau menikahimu? Sekarang berbahagialah lusa kita akan menikah" ucap zayyan


"zayyan kenapa kau melakukan itu padanya, dia adikku" silvi menangis frustasi


"sudahlah sil, aku muak dengan semua sandiwara mu dan mamamu, yang kalian inginkan sudah tercapai, aku hanya mengingatkan satu hal padamu sil, walaupun kita akan menikah dan tinggal bersama jangan pernah berharap aku akan bisa mencintaimu, aku mungkin bisa menerima keberadaanmu tapi perasaanku sepenuhnya hanya untuk ziva dan tidak menutup kemungkinan aku akan menikahi ziva juga nanti" ucap zayyan


silvi terdiam sesaat, ia berusaha menelan perkataan zayyan barusan, walaupun dari awal ia memang tidak mengharapkan perasaan dari zayyan tetapi tetap saja ucapan zayyan yang cukup tajam itu mampu menyayat hati silvi saat ini.


"aku sudah selesai, oh iya aku titip pesan kalau bunda mencari ziva katakan dia ada bersamaku besok aku akan mengantarnya pulang" ucap zayyan dengan enteng


"what? Kau tidak berfikir bagaimana reaksi bunda saat tau anaknya menginap bersama calon suami kakaknya?" protes silvi


"I dont care, kalau perlu berikan alamat apartemenku pada bunda" ucap zayyan dengan santainya


silvi terdiam, ia tidak tau ingin berkata apa lagi pada zayyan, cukup lama tidak bertemu dengan pria yang akan menikahinya ini tetapi sekali bertemu malah menyakitkan seperti ini.


"masuklah, sudah cukup larut tidak baik untuk ibu hamil sepertimu masih berada diluar" zayyan menyelipkan perhatiannya pada wanita yang sampai saat ini masih dianggapnya seorang sahabat lama


"iya, hati hati mengemudi" ucap silvi


Ia keluar dari mobil zayyan dan masuk kedalam rumahnya. Sesampainya dikamar ia mendapatkan telefon dari bunda liza, seketika silvi menjadi panik dan juga takut ia memutuskan tidak menjawab telefon itu.


Keesokan harinya


Saat seluruh anggota keluarga bersiap siap berangkat menuju mark hotel, tempat diselenggarakannya pernikahan silvi dan zayyan besok, berbeda dengan bu liza yang bertambah panik karena sampai saat ini ziva belum juga kembali, ia sudah menelefon vanya untuk menanyakan apakah ziva menginap dikediaman smith namun vanya menjawab ziva tidak menginap dirumah itu ziva hanya datang disiang hari dan langsung pergi setelah terlibat perselisihan dengan silvi.


Sedangkan disisi lain ada zayyan yang juga bukannya berangkat ke hotel, tapi malah masuk kantor hari ini.


"pak seharusnya bapak tidak masuk lagi hari ini" protes defri


"def kenapa kau malah mengurusi hidupku" ketus zayyan


"maaf pak" ucap defri asisten zayyan


"kau cek apakah seluruh keluargaku sudah sampai di mark hotel? Dan cepat kabari aku" perintah zayyan sambil memijit mijit tulang hidungnya


"baik pak, saya pamit undur diri" defri keluar dari ruangan zayyan


Kepala zayyan menjadi sangat pening, memikirkan bagaimana cara agar pernikahan itu dibatalkan. Namun tiba tiba ponselnya berdering dan menunjukkan nama bu liza


"halo bun" ucap zayyan setelah menjawab panggilan itu


"bunda tenangkan diri bunda, aku minta maaf seharusnya aku sudah mengabari bunda sejak semalam supaya bunda tidak cemas seperti ini" ucap zayyan


"apa maksudmu nak? Bunda tidak mengerti" tanya bu liza


"ziva menginap diapartemenku semalam bun" ucap zayyan


"apa?" pekik bu liza


"bunda maafkan aku, semalam aku sudah titip pesan ke silvi untuk memberitahu bunda tapi seharusnya aku sendiri lah yang menghubungi bunda" ucap zayyan


"begini nak, bunda cukup tenang setelah mengetahui ziva ada bersamamu, tapi yang membuat bunda syok kenapa bisa anak bunda menginap diapartemenmu, apa penyebabnya dan kenapa harus diapartemenmu" ucap bu liza dengan heran


"begini bunda .." baru saja zayyan ingin menjelaskan namun ucapannya langsung dipotong bu liza


"tidak sekarang sayang, simpan dulu penjelasanmu itu sekarang tolong cepat kau hantarkan ziva pulang karena kita akan berangkat ke hotel" ucap bu liza


"baiklah bunda" patuh zayyan


"bunda tunggu ya nak" ucap bu liza sebelum memutus panggilannya


"yaampun aku lupa kalau ziva masih diapartemenku" zayyan buru-buru pergi dari kantor


"pak anda akan pulang?" tanya defri yang bertepatan baru akan masuk keruangan zayyan


"iya, tolong kau handle urusan kantor ya" ucap zayyan


"baik pak" ucap defri


zayyan mengemudikan mobilnya menuju apartemennya. Tidak butuh waktu yang lama zayyan sampai diapartemennya, saat pintu apatemennya terbuka ia kaget kenapa lampu diapartemennya mati, lalu ia menuju kamarnya ia menatap setiap sudut kamar itu dan tidak menemukan ziva. ia langsung menuju kamar mandi baru saja ia mengetuk pintu itu ziva sudah membukanya dari dalam. Ziva keluar dengan memakai kameja zayyan yang kebesaran dibadannya.


"ziva apa yang kau lakukan?" tanya zayyan


"aku mandi" jawab ziva sambil duduk diatas kasur


"bukan bukan itu yang aku maksud, kenapa kau memakai kamejaku?" tanya zayyan lagi


"jadi kau ingin aku memakai lagi pakaianku yang kemarin kak" ucap ziva


"tidak bukan begitu, kau kan bisa menelfonku untuk membawakanmu pakaian yang baru" ucap zayyan


"aku tidak menemukan handphoneku, dan perkara baju saja kau marah, omg yang benar saja" ucap ziva yang mulai sewot


"yaampun kau itu sensitif sekali" gerutu zayyan


ia lalu merogoh ponselnya disaku jasnya dan menelepon defri untuk membelikan satu setel pakaian untuk ziva.