
Perawat itu menoleh pada ziva yang berpegangan pada ujung ranjang pasien dengan tubuh bergetar menahan sakit dan darah yang mengalir di sela sela betis kakinya.
Perawat itu meletakkan nampan yang berisi obat obatan yang seharusnya ia beri pada zayyan untuk dikonsumsi pagi ini, ia langsung berlari dan meraih tubuh ziva.
"nyonya, tarik nafas lalu hembuskan perlahan lahan, tenangkan dirimu nyonya" ucap perawat tersebut
ia berlari mengambil kursi roda yang memang kebetulan ada diruangan itu, zayyan juga ikut membantu perawat itu memampah tubuh ziva agar bisa duduk dikursi roda.
"ziva hey, dengarkan aku tenangkan dirimu kau wanita yang kuat dan aku sangat yakin kau bisa melahirkan putra kita ini" ucap zayyan sembari mengecup punggung tangan istrinya yang melingkar dilengannya.
"aku...aku butuh dirimu suamiku" ucap ziva terbata bata
"aku akan mendampingimu, kau tenang saja" ucap zayyan sambil menghapus peluh yang ada dikening istrinya
"tuan maaf anda tidak bisa kemana mana, anda masih dalam perawatan dan lihat darah anda berceceran dimana mana sebab anda mencabut injeksi secara paksa" ucap perawat tersebut
Dan memang benar dilantai putih itu terdapat banyak tetesan tetesan darah akibat dari luka terbuka milik zayyan.
"tapi.." belum sempat zayyan membanta perawat itu sudah lebih dulu memotong ucapannya
"akan ada perawat yang datang untuk memasang kembali injeksi sekaligus memeriksa kondisi anda tuan" ucap perawat tersebut
"aaah sakit" pekik ziva
"hey dia kesakitan kenapa kau malah banyak bicara" sarkas zayyan
"baik nyonya kita ke ruang bersalin sekarang" perawat tersebut mendorong kursi roda yang duduki ziva dan meninggalkan zayyan sendirian disana.
Zayyan menarik laci nakas yang ada disamping ranjangnya dan menemukan sebuah plester, ia lalu menutup luka dilengannya agar darah berhenti keluar. Baru saja zayyan akan keluar dari ruangan itu untuk menyusul ziva tiba tiba seorang perawat datang.
"tuan, ada mau kemana?" tanya perawat tersebut
"sebentar lagi dokter akan datang dan anda harus segera dipasangi injeksi yang baru" lanjut perawat tersebut
"tapi aku ingin.." zayyan tidak diberi waktu berbicara karena perawat itu langsung mencecarnya
"ayo tuan kembali ke ranjang anda" ucap perawat tadi
"seharusnya anda tidak melakukan hal ini tuan, kondisi anda belum cukup pulih jika perlu sesuatu panggil saja kami tuan" cecar perawat tersebut sembari memasangkan kembali infus ditangan zayyan
"tidak bisakah aku mendampingi istriku melahirkan sebentar saja?" tanya zayyan
"tidak bisa tuan, kami mengerti apa yang anda rasakan tapi kami tidak bisa memberikan izin, jika anda sangat ingin coba tanyakan pada dokter andrew saat ia datang memeriksa kondisi anda" ucap perawat itu
"kapan dia akan datang?" tanya zayyan dengan frustasi
"mungkin 10menit lagi dokter akan tiba tuan" jawab perawat itu
"ck, istriku sudah keburu selesai melahirkan jika harus menunggunya" ucap zayyan
"kalau begitu anda kirimkan saja doa untuk kemudahan istri anda tuan" saran perawat itu
"kau membuatku tambah stres saja" gerutu zayyan
Karena sudah selesai dengan tugasnya, perawat itu pun keluar meninggalkan zayyan yang pusing tujuh keliling memikirkan cara untuk menyusul ziva.
Ia lalu melirik kearah nakas disampingnya ternyata ada ponsel milik ziva tertinggal disana, tiba tiba dikepalanya muncul sebuah ide.
Ia mengambil ponsel itu dan mencari kontak orang tuanya, tidak butuh waktu lama ia langsung mendapatkan sebuah nomor atas nama mommy, tanpa membuang waktu ia langsung menghubungi nomor tersebut.
"mom, kau dimana? Cepatlah kemari" ucap zayyan
"kak, ada apa? kau kenapa?" tanya bu bianca dengan cemas
"ziva, dia akan melahirkan" jawab zayyan tidak kalah cemas
"what? Lalu dimana istrimu sekarang?" tanya bu bianca
"dia sudah dibawa oleh perawat menuju ruangan bersalin" jawab zayyan
"baiklah, mommy sudah ada diparkiran rumah sakit" ucap bu bianca
"cepatlah" ucap zayyan dengan frustasi lalu ia memutus sambungan telepon itu.
Tidak lama kemudian pak william masuk ke dalam ruangan anak sulungnya.
"dimana mommy?" tanya zayyan
"mommy mu sudah bersama ziva" jawab pak william
"apa sudah selesai?" tanya zayyan
"entahlah, daddy tidak masuk kedalam" jawab pak will
"dad aku ingin menemani ziva" ucap zayyan
"tapi nak.." ucap pak will
"dad pergilah minta izin pada dokter agar aku bisa menemani ziva" pinta zayyan
Pak will menghembuskan nafasnya dengan berat, ia kehabisan kata kata untuk membuat putranya mengerti karena jika ia yang berada diposisi putranya pasti ia juga akan melakukan hal yang sama yaitu menemani istri yang sedang berjuang melahirkan keturunannya apapun caranya.
"tunggu disini, jangan melakukan hal nekat sebelum daddy kembali" pesan pak will
"ya, dan tolong secepatnya dad" ucap zayyan
Sementara ditempat lain tepatnya diruangan bersalin ziva masih terus berusaha mengejan, tenaganya terkuras banyak karena terus mengejan sedari tadi namun sang putra belum juga keluar.
"mommy aku sudah tidak kuat" pekik ziva
"sayang, ayo kau harus berusaha lagi nak" ucap bu bianca memberi semangat pada menantunya
"ziva, kepala bayi sudah kelihatan ayo lebih kencang lagi" ucap dokter alesya
"aku butuh suamiku, aku ingin suamiku" lirih ziva
"nyonya apa zayyan benar benar tidak bisa datang?" tanya alesya pada bu bianca
"entahlah ale" jawab bu bianca dengan panik
"mommy panggilkan zayyan tolong mommy" pinta ziva
bu bianca dan dokter alesya saling pandang, tidak ada jalan lain ia harus membawa putranya itu kemari demi dua nyawa yang sedang dipertaruhkan yaitu ziva dan cucunya.
"tunggu sebentar, akan mommy bawa dia kemari" ucap bu bianca