My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Mandi bersama



"terima kasih aku sangat menikmatinya nyonya richard, aku bahkan bertemu kakakmu tadi" ucap syaquel sengaja memanasi ziva dan benar saja ziva langsung melotot kearahnya


"sayang sudahlah, lihat semua orang menatap kita jangan menebar kebencian disini" ucap zayyan memperingatkan ziva, ia merasa aura diantara mereka bertiga menjadi memanas


"ayolah tuan fernando percepatlah, lihat banyak yang mengantri untuk naik ke sini" sambung zayyan membuat syaquel menatap ujung pelaminan itu dan benar saja beberapa orang sudah menunggu giliran untuk mengucapkan selamat pada pengantin


"oh ya maafkan aku, selamat atas pernikahan kalian tuan dan nyonya richard semoga kalian selalu bahagia. Eh dan satu lagi tolong doakan aku agar segera dipertemukan dengan jodohku" ucap syaquel sembari menjabat tangan zayyan dan ziva.


Awalnya ziva menolak menjabat tangan syaquel namun zayyan berbisik padanya untuk menerima jabatan tangan syaquel karena bagaimana pun ia datang untuk mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga mereka dan alhasil ziva berjabat tangan dengan syaquel diiringi dengan senyum terpaksa.


"wait, roy tolong foto aku bersama mereka" perintah syaquel dan langsung dipatuhi oleh asistennya


Cekrek..


roy berhasil mengambil satu foto bosnya bersama kedua pengantin dan lansung pergi.


setelah berjam-jam akhirnya acara resepsi itu selesai juga, sedari tadi ziva sudah merengek pada zayyan karena ia sudah sangat letih juga gerah.


"huh" ziva langsung menghempaskan dirinya dikasur setelah mereka berdua memasuki kamar


"oke sayang ayo biar ku bantu membersihkan diri" ucap zayyan


"hah? Maksudmu kak?" tanya ziva tidak paham


"kita harus mandi dulu bukan? Supaya badan kita segar" goda zayyan dengan mengedipkan sebelah matanya


"iya tapi aku akan mandi sendiri kak" jawab ziva


"aku tau kau akan mandi sendiri sayang, aku hanya ingin membantumu melepas gaunmu yang berat itu" ucap zayyan


"aku bisa kak" sahut ziva


tanpa aba-aba zayyan langsung menggendong ziva menuju kamar mandi, ziva berusaha memberontak namun ia takut jatuh.


zayyan mengunci pintu kamar mandi lalu mendudukkan ziva disamping bathtup karena ia harus mengisi air di dalam bathtup dulu.


"ayo berbalik" ucap zayyan


"untuk?" tanya ziva dengan jantung yang berdegup kencang


"untuk menurunkan resleting gaunmu" jawab zayyan


"ah aku bisa kak aku bisa sendiri" ucap ziva gelagapan


"benarkah? kalau begitu lepaslah aku ingin lihat" ucap zayyan sembari melipat kedua tangannya didada


"kau ingin lihat apa?" tanya ziva heran


"sayang aku ingin lihat apa benar kau bisa melepasnya sendiri jika gaun itu bisa terlepas aku akan meninggalkanmu" ucap zayyan


"baiklah lihat" ziva berusaha menurunkan resleting gaun itu namun walaupun telah berbagai usaha yang dilakukan ziva tetap saja tidak dapat menurunkan resleting tersebut dan ziva sudah sangat kewalahan


"bisa tidak?" tanya zayyan, senyuman licik mulai menghiasi wajah tampan zayyan


"wait" ucap ziva frustasi


"sudahlah biar aku bantu" zayyan tidak mendengarkan lagi ucapan ziva ia melangkah dan menurunkan resleting gaun itu dengan perlahan lahan


zayyan membelai punggung mulus nan bening milik istrinya, sedangkan ziva menutup matanya ia seperti tersengat aliran listrik.


setelah gaun terlepas dan menyisakan pakaian dalam ziva, zayyan menggendong istrinya lalu membantunya untuk berendam didalam bathtup.


Tidak sampai disitu saja, zayyan menciumi bibir istrinya juga ********** dan ziva sama sekali tidak menolak malah mengalungkan tangannya dileher zayyan


Ciuman itu semakin dalam dan makin menuntut, zayyan pun hendak masuk kedalam bathtup bersama ziva namun istrinya itu malah menahannya dan juga melepas ciuman mereka


"hey kak nanti pakaianmu basah" ucap ziva menahan zayyan yang hendak masuk kedalam bathtup


"aku memang mau mandi sayangku" zayyan hendak merendam kaki kirinya namun lagi lagi ditahan oleh ziva


"what? Kau bilang kau akan meninggalkanku kalau gaun ini sudah terbuka kenapa malah jadi mandi bersama" ziva menolak keras


"hey kenapa kau marah, kau akan mendapat pahala jika mandi bersama suamimu sayangku" ucap zayyan santai ia tidak jadi masuk kedalam bathtup, ia berdiri dan membuka semua pakaian yang melekat pada tubuhnya didepan ziva tanpa dosa.


"oh my god kak, apa urat malu mu sudah putus?" pekik ziva sambil menutup matanya.


"apa? Apa kau bilang? Kemaluanku putus?" tanya zayyan ia tidak begitu dengar karena suara air yang menyala menjadi kamar mandi begitu bising


"ck dasar gila" gerutu ziva


zayyan lalu masuk kedalam bathtup dan ikut berendam disana bersama ziva, tetapi tentunya hal itu mendapat amukan dari istrinya.


"kak kenapa kau malah ikut masuk?" pekik ziva pasalnya bathtup menjadi sangat sempit karena zayyan ikut masuk dengan posisi mereka yang berhadapan


"aku juga ingin membersihkan diriku sayang" ucap zayyan


"kak tapi kau bisa mandi menggunggunakan shower" ucap ziva sembari menunjuk shower box


"aku ingin disini bersama mu sayang" zayyan mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir istrinya


"tapi jadinya sempit" pekik ziva kesal


"tidak apa apa sayang aku akan membantumu menggosok badanmu" zayyan mengedipkan sebelah matanya


"kak dengarkan aku, kau mandi menggunakan shower atau kau ingin aku pulang bersama keluargaku malam ini juga?" ziva memberikan pilihan pada zayyan dengan tampang serius membuat zayyan berhenti dengan candaannya


"baiklah" zayyan mengalah namun ia tidak juga berdiri


"what?" ziva mempertanyakan pilihan zayyan


"aku akan menggunakan shower" ucap zayynan dengan tampang lesu


"oke, go" ucap ziva dengan senyum kemenangan


"akan ku balas setelah ini" ucap zayyan sinis lalu ia bangkit dan memasuki shower box


"aku menantikannya sayang" ziva tertawa puas sambil menggosok badannya