My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Membuat sarapan



Keesokan harinya, ziva terbangun dan melirik jam dinding yang ada dikamar menunjukkan sudah pukul jam 6 pagi, ziva dengan pelan memindahkan tangan kekar suaminya yang melingkar diperutnya, lalu ia masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi ziva langsung turun kebawah menuju dapur berniat membuat sarapan hal ini telah menjadi kebiasaannya sejak ia masih tinggal dirumah ayahnya pagi pagi sekali ia sudah bangun dan membuat sarapan untuk semuanya dengan dibantu bibi sebelum ibu tirinya mengoceh.


Terlihat dua orang pelayan yaitu bibi isa dan bibi ani sudah sibuk didapur, ziva pun menyapa kedua pelayan tersebut dengan sopan.


"pagi bibi" sapa ziva memasuki dapur


"pagi non" jawab kedua pelayan sambil menunduk hormat


"bibi isa mau buat apa?" tanya ziva


"ini non bibi mau buat sup sayuran kesukaan nak rayyan, jadi bibi potong potong sayurannya dulu" ucap bibi isa dengan logat medok jawa


"kalau bibi ani?" tanya ziva


"bibi lagi siapin jeruk jeruk yang mau dibuat jus non" ucap bibi ani


ziva mengedarkan pandangannya, ia mencari dimana letak penyimpanan apron didapur ini, ia mulai membuka beberapa laci untuk mencari benda yang ia inginkan itu.


"maaf non cari apa? Biar bibi bantu" tanya bi ani yang melihat ziva nampak seperti mencari sesuatu


"aku mencari apron bi" jawab ziva


"oh disini non" bi ani membuka laci yang ada diujung dan memberikan apron pada ziva


"terimakasih bi" ziva menerima dan memakainya


"loh non mau apa? Mau masak?" ucap bi ani bingung


"iya aku akan membantu membuat sarapan" ucap ziva dengan santai


"jangan non" tahan bi ani


"kenapa bi?" tanya ziva heran


"jangan non nanti ibu marah kalau lihat non ziva ikut masak" bi isa buka suara


"sudah tidak apa-apa, aku sudah terbiasa seperti ini dirumahku dulu, jadi mari kita bekerja" ucap ziva bersemangat


Ziva cukup cekatan, masakan mereka kali ini terhidang lebih cepat dari biasanya, saat ini ziva tinggal menunggu cake nya yang masih didalam microwave. Sedangkan ibu bianca mulai menuruni anak tangga, ia melihat ziva sedang bediri didepan microwave lalu ia langsung menegur menantunya itu dengan lembut.


"sayang apa yang kau lakukan disana?" tanya bu bianca


Ziva dan kedua pelayan langsung menatap kedatangan bu bianca, belum sempat ziva menjawab bi isa sudah lebih dulu bersuara.


"bu maaf kami sudah melarang non ziva untuk tidak membantu kami memasak tapu non ziva memaksa" ucap bu isa tidak enak


"mom, aku sudah terbiasa dirumah ayahku aku selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk semuanya jadi tidak apa apa kan?" ucap ziva dengan wajah memelas


"baiklah, sejujurnya mommy senang melihatmu begitu rajin tapi mommy tidak ingin membuatmu kerepotan, dirumah ini ada pelayan mereka yang akan menyiapkan semuanya tetapi sebagai seorang istri pasti dia ingin membuat sesuatu untuk suaminya, mommy benar kan?" ucap bu bianca


"iya mommy" ucap ziva tersipu, ia senang punya mertua yang begitu pengertian


"aku sedang menunggu cake ku matang mom" ucap ziva


"humm baru aromanya saja sudah terasa lezat" ucap bu bianca


Ziva hanya bisa tertawa pelan mendengar pujian dari mertuanya itu, tiba tiba saja ia teringat bahwa zayyan suaminya belum ia bangunkan.


"astaga" ucap ziva menepuk jidatnya


"ada apa sayang?" tanya bu bianca heran


"mommy aku belum membangunkannya" ucap ziva


"bi isa bisa bantu aku, jika cake nya sudah matang tolong di tata di wadah ini dan dihidangkan dimeja ya" pinta ziva dan diangguki dengan patuh oleh bi isa


ziva berlari menaiki anak tangga dan menuju kamar yang mereka tempati, dengan terburu buru ia membuka pintu kamar dan benar saja ia melihat suaminya masih tidur dengan lelapnya dikasur padahal saat ini sudah menunjukaan pukul 7.15.


"suamiku bangun kau akan telat" ziva membuka gorden yang menutupi jendela membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar itu


"sayang silau" zayyan menutup wajahnya dengan selimut


"suamiku kau sudah telat ayo cepat bangun" ziva menarik selimut yang menutupi tubuh polos zayyan


"sayang kenapa kau tarik" zayyan kaget saat ziva menarik selimut yang menjadi pelindung tubuhnya karena saat ini ia tidak memakai sehelai benang pun


"ish ayo cepat mandi, kenapa harus malu begitu" ziva membantu tubuh zayyan untuk bangun dan mendorongnya untuk masuk ke kamar mandi


Setelah zayyan berhasil masuk kedalam kamar mandi, ziva segera merapikan ranjang mereka yang masih acak acakan, ia lalu memilihkan satu setel pakaian kantor untuk suaminya dan ia letakkan di atas kasur, ia lalu berdandan dengan polesan yang terlihat natural diwajahnya yang cantik itu.


Tidak lama kemudian zayyan keluar dengan wajah yang sangat segar, ziva membantu zayyan memakai pakaiannya, ia juga memakaikan dasi untuk suaminya itu.


"aku senang seperti ini" ucap zayyan menatap ziva yang serius memasang dasinya


"maksudmu?" ucap ziva tidak paham


"aku senang sudah ada yang mengurusi segala kebutuhanku, bahkan aku tidak perlu lagi berteriak pada mommy untuk memasangkan dasiku" ucap zayyan


"apa? Jadi kau tidak tahu memakai dasi sendiri?" ziva tidak habis pikir dengan suaminya itu


"bukan tidak bisa sayang, tapi aku malas saja karena sangat ribet" jawab zayyan


"oh, finish" ziva berhasil memakaikan dasi suaminya dengan sangat rapi


"aku ingin morning kiss" pinta zayyan


"good morning suamiku" ziva mengecup sekilas bibir suaminya namun berbeda dengan zayyan


"good morning sayangku" zayyan ******* bibir istrinya namun dengan sekuat tenaga ziva berhasil lepas dari terkaman suaminya


"sudahlah suamiku nanti kau terlambat" ziva mengandeng lengan suaminya lalu turun kebawah untuk sarapan