My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Kesedihan keluarga



"ya tuhan apa yang akan aku katakan pada ziva" ucap rayyan sambil meremas rambutnya saking pusingnya ia saat ini.


15 menit berlalu, pintu ruangan dimana zayyan ditangani belum juga dibuka, disela sela kepanikan rayyan tiba tiba ponselnya berbunyi dan menunjukkan nama wanita yang telah menjadi kakak iparnya.


"oh tuhan" rayyan menatap ponselnya yang terus berdering tanpa ada niatan untuk menjawab panggilan tersebut


"kalau aku kabari ziva bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandungannya, ah tidak aku tidak akan menjawabnya" rayyan menggeleng lalu menyimpan kembali ponselnya ke saku jas yang ia pakai


"tapi tidak mungkin aku diam saja, bagimana jika terjadi seauatu yang buruk pada zayyan, apa aku hubungi mommy saja? Tidak tidak rayyan kau tidak boleh bodoh, mommy mu jauh lebih parno dari pada kakak iparmu" rayyan malah membatin sendiri


"daddy, ya lebih baik aku hubungu daddy, biar daddy aja yang mencari cara bagaimana ia meneruskan pada ziva dan mommy" rayyan lalu mengambil kembali ponselnya yang telah ia simpan di saku lalu ia menghubungi daddy nya


"hallo ray ada apa?" tanya pak will setelah ia menjawab panggilan dari anak bungsunya


"daddy dimana saat ini?" rayyan malah balik bertanya


"daddy sedang dirumah teman karib, kami sedang membicarakan mengenai bisnis kita yang baru, memangnya kenapa ray?" ucap pak will


"dad zayyan kecelakaan" rayyan memberanikan diri demi untuk mempersingkat waktu


"apa?" pak will tersentak mendengar penuturan dari anaknya


"bagaimana bisa kakak mu.." ucapan pak will tergantung diudara saking syok nya


"sebuah truk remnya blong dan menabrak mobil zayyan saat dia melintas dipertigaan jalan" terang rayyan


"lalu bagaimana keadaannya? Apa parah ray?" tanya pak will


"zayyan sedang ditangani oleh dokter dad, tolong kau sampaikan pada ziva dan mommy, aku tidak tau cara menyampaikan kabar buruk ini pada mereka" pinta rayyan


"baiklah, daddy akan segera kesana kau terus kabari daddy jika ada sesuatu" pak will langsung memutus sambungan telepon itu dan bergegas pulang ke rumahhya.


Dikediaman richard, ziva merasa sangat gelisah menunggu suaminya yang tak kunjung datang, ia bahkan terus mondar mandir di teras rumah demi melihat apakah mobil suaminya sudah masuk ke pekarangan rumah, namun yang datang malah mobil yang dipakai oleh ibu mertuanya.


Bu bianca menyeritkan keningnya melihat menantunya yang sudah rapih ditambah dengan tas selempangnya, dan berjalan mondar mandir di depan teras.


"sayang, kau sedang apa disini? dan kau akan kemana? Kenapa dandan cantik sekali" ucap bu bianca penuh kasih sayang


"mom aku akan ke rumah ayah, aku sedang menunggu suamiku katanya aku hanya perlu menunggunya 15 menit tetapi ini sudah hampir setengah jam dia belum datang juga, perasaanku tiba tiba tidak enak mom aku merasa gelisah" keluh ziva sambil menggenggam tangan mertuanya


"sudah mom tapi ponselnya sudah tidak aktif, dan aku juga sudah menghubungi ray sebab tadi dia sempat bilang kalau dia akan singgah sebentar dikantor nya ray tapi karena aku yang sudah tidak sabaran jadi dia membantalkan rencananya dan akan langsung pulang kerumah" ucap ziva panjang lebar


"kalau begitu biar mommy yang hubungi ray, mommy yakin suamimu ada disana" ucap bu bianca berusaha menenangkan ziva


Tut..tut..tut..


3 kali sudah bu bianca menghubungi ponsel anak bungsunya itu namun tidak dijawab oleh rayyan


"bagaimana ini mom?" ziva terlihat tambah panik


Mobil pak william memasuki pekarangan rumah, ia bahkan memarkirkan kendaraannya sembarangan. Lalu ia berlari mendekati istri dan menantunya yang sedang berdiri diteras sambil melihat kearahnya.


"ada apa dad?" tanya bu bianca melihat raut wajah suaminya yang tidak biasa


"kita duduk sebentar" pak william mengarahkan istri dan menantunya yang tengah hamil tua itu untuk duduk dibangku yang ada diteras itu


pak william menarik nafasnya dalam dalam, ia genggam tangan istri dan juga menantunya, ia berharap tidak terjadi apa apa pada kedua wanita disampingnya itu setelah ia memberitahu kabar buruk ini.


"ada kabar buruk yang menimpa keluarga kita mom, nak" pak will menjeda kalimatnya


"apa itu dad?" seluruh tubuh ziva terasa dingin dan jantungnya berdebar tidak karuan


"ray mengabari daddy kalau kakaknya dibawah ke rumah sakit, dia mengalami insiden dijalanan sewaktu perjalanan pulang kerumah" ucap pak william dengan bahasa yang lebih halus


"apa?" pekik kedua wanita disampingnya dengan bersamaan


"dad, suamiku kecelakaan?" tanya ziva memastikan


Pak willian menjawab dengan anggukan. tangis memantu dan istrinya langsung pecah saat itu juga, pak will merangkul keduanya sekaligus agar dapat menenangkan mereka.


"dad anak kita" lirih bu bianca di tengah isaknya


"daddy ayo kita segera kerumah sakit" pinta ziva yang masih menangis


"iya ayo sebaiknya kita cepat ke rumah sakit" tutur pak william