My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Syaquel dan silvi 1



"lebih baik kau bunuh aku sekalian kalau itu dapat membuat dirimu puas" lagi lagi silvi berteriak


"turunkan suaramu ******" syaquel mencekik leher silvi hingga ia kesusahan bernapas


Silvi memberontak agar terlepas dari cengkraman syaquel, setelah terlepas syaquel menyeret silvi dengan kasar lalu membantingnya dikasur. Silvi berusaha melindungi perutnya agar tidak terbentur.


Tidak berhenti sampai disitu syaquel melucuti seluruh pakaian silvi lalu menerkamnya dengan kasar. silvi hanya bisa menangis saat ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.


"el hentikan" lirih silvi namun syaquel malah menjadi, ia menghentakkan miliknya dengan kasar didalam sana.


"sakit..perutku sakit..aaaah" silvi meringis


"hentikan el kau akan membunuh anakku" ucap silvi dengan sedikit berteriak


Syaquel menghentikan aksinya bukan karena teriakan silvi namun karena darah segar yang keluar dari milik silvi membuat syaquel jadi ketakutan.


"darah" ucap syaquel pelan


"tolong tolong bawa aku kerumah sakit" lirih silvi dengan tubuh bergetar karena menahan sakit


Rasa khawatir, takut dan panik bercampur menjadi satu dalam tubuh syaquel. syaquel menjadi linglung saat silvi tidak berhenti berteriak kesakitan.


ia menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya agar dirinya tidak tegang. Ia memunggut dress silvi yang ia lucuti tadi dan ia pakaikan pada tubuh silvi dan ia pun memakai kembali pakaiannya.


setelah itu ia menggendong tubuh silvi menuju mobil nya, dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Disaat yang bersamaan ziva dan zayyan baru saja keluar dari ruangan dokter alesya selepas pemeriksaan kandungan ziva yang telah memasuki 7 bulan. Saat akan berjalan keluar tiba tiba saja mereka terkejut melihat silvi yang telah terbaring dan didorong oleh tim medis didampingi juga oleh syaquel.


"kakak" ucap ziva


zayyan dan ziva langsung menghampiri silvi yang tengah meringis kesakitan. mata ziva juga teralihkan pada darah yang membasahi dress yang dikenakan oleh silvi.


"kakak berjuanglah" ucap ziva dan dijawab anggukan oleh silvi


Silvi dimasukkan ke ruangan bersalin, sementara syaquel, zayyan dan ziva diminta untuk tetap menunggu di luar. Tanpa di duga zayyan langsung mencengkram kerah baju syaquel dengan emosi.


"apa yang kau lakukan padanya?" tanya zayyan dengan tatapan mengintimidasi


"tidak aku tidak melakukan apapun" jawab syaquel dengan ketakutan


"kau ingin membodohiku hah?" sentak zayyan


"suamiku ada apa?" tanya ziva heran


"jawab brensek" sentak zayyan lagi


zayyan melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh syaquel dengan kasar hingga membentur dinding


"kau pikir aku tidak bisa melihat luka memar yang ada di tubuh silvi, jika terjadi sesuatu pada silvi dan bayinya aku tidak akan mengampunimu" ucap zayyan dengan tatapan membunuhnya


Syaquel hanya diam dan terduduk lemas, ia menatap kedua tangannya yang telah ia pakai untuk menyiksa silvi selama ini betapa bodohnya dia dengan sengaja telah menindas wanita hamil yang tidak berdaya.


Tidak lama kemudian keluar seorang dokter yang menangani istinya didampingi seorang perawat.


"suami nyonya silviana" panggil dokter yang diketahui adalah dokter alesya


"saya dokter" ucap syaquel mendekati dokter


"dokter ale bagaimana keadaannya?" tanya ziva dengan mata berkaca kaca


melihat raut wajah dokter kandungan itu tidak bersemangat membuat air mata yang di tahan ziva seketika jatuh jua, perasaan takut menguasai hatinya namun suaminya zayyan terus memberinya ketenangan.


"tuan, kami harus melakukan tindakan operasi cesar secepatnya, karena keadaan nyonya silviana melemah begitupun dengan bayi yang didalam kandungannya detak jantungnya ikut melemah dan tidak ada tanda tanda bayi akan keluar melalui jalan lahir, jadi kami harus segera melakukan operasi untuk bisa menyelamatkan nyawa setidaknya salah satu diantara mereka" ucap alesya dengan sendu


"apa maksudmu salah satu diantara mereka ale?" tanya zayyan penuh penekanan


"melihat keadaan keduanya melemah maka akan ada salah satu yang tidak dapat tertolong, tapi percayalah kami akan berusaha keras agar dapat menyelamatkan nyawa keduanya" ucap alesya


"kau harus menyelamatkan keduanya dokter alesya, aku mohon selamatkan kakakku dan bayinya" lirih ziva menangis sejadi jadinya.


"zivani tenanglah" alesya menyentuh pundak ziva yang terlihat rapuh


"dokter lakukan yang terbaik untuk mereka" ucap syaquel


"baiklah tuan tolong tanda tangani surat persetujuan ini" ucap alesya menyodorkan sebuah kertas yang dibawa oleh salah seorang perawat


Setelah itu dokter itu masuk kembali untuk mempersiapkan segalanya, tidak lama kemudian para perawat keluar membawa silvi yang terbaring lemah diranjang rumah sakit itu menuju ruangan operasi disusul dokter alesya.


"aku butuh 2 kantong darah A dan dirumah sakit ini hanya tersedia 1 kantong, apakah ada diantara kalian yang bergolongan darah A atau AB yang bisa mendonorkan darahnya untuk silvia?" tanya alesya


"aku.. golongan darahku A ambil darahku" ucap ziva


"maaf ziva kau sedang hamil tidak disarankan untuk melakukan transfusi darah" ucap alesya


sementara syaquel dan zayyan hanya diam karena mereka sama sama bergolangan darah B dan tentu saja bukan golongan darah itu yang dibutuhkan oleh silvi


"dokter sebentar kakak ku vanya bergolongan darah AB aku akan menghubunginya agar dia bisa datang dan mendonorkan darahnya" ucap ziva merasa punya harapan


"baiklah beritahu aku jika dia sudah tiba" alesya segera menyusul timnya untuk segera melakukan tindakan operasi