My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Hari ke-5



5 hari telah berlalu namun zayyan tak kunjung bangun, setiap hari ziva terus saja berbicara disisinya berharap suaminya itu secepatnya memberikan respon tapi hasilnya nihil, zayyan begitu lelap dalam tidur panjangnya itu.


"suamiku, hari ini adalah hari ke enam sudah hampir seminggu kau terus terbaring seperti ini, bagimana jika aku akan melahirkan? Kau akan membiarkanku berjuang sendirian? Ayolah bangun aku mohon" kali ini ziva bercerita tanpa air mata


"kau tahu akhir akhir ini aku sudah merasa kurang nyaman dengan perutku, aku rasa aku akan melahirkan dalam waktu dekat ini suamiku" ziva mencurahkan isi hatinya


"sayang kita tunggu daddy bangun dulu baru kita berjuang sama sama ya" ucap ziva dengan mengelus perutnya


"sayang, maaf mommy telat" bu bianca memasuki ruang rawat zayyan, hari ini ia memang sedikit telat untuk datang kerumah sakit


"it's okay mom" sahut ziva


"apa belum ada pergerakan?" tanya bu bianca dan dijawab gelengan oleh ziva


"ini sudah hari 5, apa kita harus membawanya berobat keluar negeri?" ucap bu bianca


"terserah kalian saja mom, tapi aku takut aku akan melahirkan dalam waktu dekat ini" ucap ziva dengan sendu


"ada apa? Apa sudah ada tanda tanda?" bu bianca menjadi tegang


"ya mom akhir akhir ini perutku terasa kurang nyaman" jawab ziva


"oh my god, kak ayolah bangun istrimu sebentar lagi akan melahirkan putra kalian, kau tidak ingin mendampinginya?" ucap bu bianca pada anaknya yang belum juga sadar itu


"kalau dia tidak mau bangun, biar aku saja yang menemani ziva melahirkan nanti" ucap rayyan yang baru saja masuk diruangan itu


bu bianca dan ziva menoleh kearah rayyan sementara zayyan tubuhnya bergetar hebat seakan ia merespon perkataan rayyan tadi.


"mom look" pekik rayyan menunjuk kearah zayyan


Ziva dan bu bianca langsung berlari menuju ranjang zayyan, sedangkan rayyan berlari memanggil dokter, para perawat dan dokter yang menangani zayyan langsung berlari keruangan pasien dan melakukan pemeriksaan terhadap zayyan.


"mom tenanglah" tambah rayyan


Sekilas rayyan melihat beberapa alat yang melekat ditubuh zayyan mulai dilepaskan, seperti selang oksigen dan lainnya. Rayyan menjadi takut sekaligus lega melihat itu. melihat dokter andrew mendekat kearahnya dengan raut wajah tak terbaca ia semakin dibuat tegang


"nyonya tuan, kondisi tuan zayyan saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, hasil pemeriksaan kami semuanya sudah stabil dan kemungkinan ia akan sadar dalam beberapa menit kedepan" ucap dokter pria tersebut


"benarkah?" tanya ziva memastikan


"tentu saja nyonya, namun jika kemungkinan tuan zayyan mengalami hilang ingatan tolong keluarga dapat menerimanya dan membantunya mengingat kembali dengan perlahan jangan dipaksakan agar pasien tidak stres " jawab dokter andrew


"oh tuhan terimakasih, dokter terimakasih" ucap bu bianca


"iya nyonya kalau begitu saya permisi" pamit dokter itu


Langsung saja mereka bertiga mendekati ranjang zayyan, dengan penuh harapan agar pria yang terbaring diranjang itu segera bangun. Mereka terus berdiri di sisi ranjang itu dengan memanjatkan segala doa yang tiada hentinya.


3 menit kemudian zayyan menggerakkan jari tangan kiri nya dan itu dapat dilihat oleh rayyan karena ia berdiri disisi kiri kakaknya, setelah itu zayyan pun mencoba membuka matanya perlahan lahan, lalu ia menoleh ke sisi kiri dimana seorang pria berdiri dengan tegapnya sedangkan disisi kanannya dua orang wanita yang berbeda generasi sedang menitikan air mata sambil melihat kearahnya.


"hmmm..haus aku haus" ucap rayyan dengan suara seraknya


Dengan sigap ziva mengambilkan gelas yang sudah terisi air diatas nakas dan membantu suaminya untuk minum.


"sudah?" tanya ziva dan dijawab anggukan oleh zayyan


"nak, syukurlah kau sudah sadar kami benar benar sangat senang, apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya bu bianca bertubi tubi


"maaf, siapa kalian?" tanya zayyan dengan kening yang berkerut