
"aakh, ada apa denganku" ucap ziva pelan sambil memegangi kepalanya yang seperti akan pecah.
"sayang apa masih sakit?" tanya zayyan karena ia sudah terbangun
"lumayan" jawab ziva
tok..tok..tok
bu bianca mengetuk pintu kamar mereka
"masuk saja" ucap zayyan
Bu bianca masuk sambil membawa sebuah mangkuk dan air ditangannya.
"sayang mommy buatkan bubur, dimakan ya setelah itu minum obat" ucap bu bianca penuh kasih sayang
"thank you mom" ucap ziva sembari mengambil alih mangkok yang berisi bubur
"biar aku suapi" ucap zayyan merebut mangkok tadi dari tangan ziva
Baru saja satu sendok bubur masuk ke dalam mulut ziva, tiba tiba saja perutnya bergejolak ingin muntah, ziva buru buru berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya.
"sayang" zayyan dan bu bianca berteriak bersamaan
Zayyan dan ibunya menyusul ziva kekamar mandi melihat ziva yang berusaha memuntahkan seluruh isi dalam perutnya sambil dipijat dari belakang oleh zayyan.
"sayang sebaiknya kita ke rumah sakit" ucap zayyan
"iya sayang agar kita tahu dengan pasti hasilnya" ucap bu bianca dengan tersenyum penuh arti
"mom kenapa kau terlihat senang saat ziva sedang menderita seperti ini" ucap zayyan heran
"astaga kak kau itu jangan salah faham, mommy hanya merasa ziva itu sedang hamil" cetus bu bianca
"benarkah mom?" tanya ziva dengan perasaan tak menentu
"mommy belum bisa menjawab sayang, ini hanya fealing mommy saja, sebaiknya kita segera ke rumah sakit" ucap bu bianca
"iya ayo" zayyan langsung menggendong tubuh ziva dan buru-buru mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, zayyan membawa ziva ke ruang praktek zaki selaku sahabat dan dokter umum dirumah sakit itu.
"bagaimana ki?" tanya zayyan tidak sabaran
"hmm.. Sebaiknya bawa istrimu ke tempat istriku sekarang yan" ucap zaki
"maksudnya? Untuk apa aku membawanya pada alesya?" tanya zayyan heran
"istriku dokter obygin dia yang akan menjawab tebakanku ini benar atau tidak" jawab zaki
"astaga zaki, kenapa kau malah bermain teka teki, periksa istriku dengan benar" ucap zayyan kesal
"aku sudah memeriksanya dan menurutku istrimu ini sedang mengalami gejala gejala kehamilan awal" ucap zaki
"kau serius?" tanya zayyan memastikan
"tentu saja, ayo cepat" ucap zaki
Zayyan langsung membawa ziva yang telah duduk dikursi roda menuju ruang praktek alesya istri dokter zaki yang juga sebagai dokter kandungan.
"selamat tuan dan nyonya kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua" ucap alesya dengan tersenyum tulus
"benarkah itu dokter ale?" tanya ziva dengan semangat
"kau serius ale?" tanya zayyan memastikan
"ya tentu saja, lihat itu ..." alesya menunjuk layar monitor lalu mengarahkan anak panahnya dititik yang ia maksud
"lihatlah anak kalian" ucap alesya
"yang mana ale?" tanya zayyan
"lihat bulatan kecil ini? Itulah bayi kalian" ucap alesya
"sekecil itu?" tanya zayyan lagi
"ya nanti akan membesar seiring bertambahnya usia kandungan zivani" jelas alesya sungguh ia merasa zayyan menjadi sangat bodoh ketika seperti ini
"sayang kau hamil" ucap zayyan
"iya suamiku" ucap ziva dengan haru
setelah mendapatkan kabar bahagia itu ziva dan zayyan langsung kembali kerumah lalu memberitahu keseluruh anggota tentang kehamilan istrinya itu.
Zayyan berharap dengan memberitahu lebih awal mengenai kehamilan ziva, seluruh keluarga dapat membntunya menjaga keamanan dan keselamatan ziva dimanapun ia berada.
Dengan sigap zayyan mendampingi ziva selama kehamilannya, bahkan saat ia pergi ke kantor ia meminta bu bianca untuk menjaga ziva dengan baik, dan jangan tanyakan mengenai ziva masih bekerja atau tidak tentu saja zayyan tidak lagi memperbolehkan ziva bekerja, dengan terpaksa ziva mempercayakan greis yang paling ia percaya untuk mengelolah butiknya.
Berbeda dengan ziva yang dijaga dengan penuh cinta, ditempat lain ada silvi yang menjalani proses kehamilannya dengan penuh tekanan, ya, bukannya merasa bahagia menikah dengan pria yang sangat dicintainya, silvi malah diperlakukan tidak adil oleh syaquel.
Dikehamilannya yang menginjak 9 bulan, syaquel tidak berhenti untuk menindasnya bahkan dengan tidak berperasaan syaquel selalu berlaku kasar padanya yang sedang mengandung.
Dan hari ini silvi berusaha untuk kabur dari apartemen syaquel yang sudah seperti penjara baginya, bagaimana tidak, selain tidak diizinkan kemanapun, ia dijaga ketat oleh beberapa pengawal yang berjaga didepan pintu dan setiap sudut apartemen terpasang CCTV yang terhubung langsung pada suaminya , jika silvi bisa keluar dari apartemen syaquel maka ia harus bersiap untuk mendapat hukuman dari syaquel tanpa belas kasihan seperti yang sekarang ini terjadisilvi ketahuan oleh suaminya akan melarikan diri.
"masuk" sentak syaquel dengan berteriak
"lepaskan aku el" ucap silvi ketakutan
"aku bilang masuk" pungkas syaquel
"lepas el sakit" silvi meringis kesakitan karena lengan atasnya dicengkram kuat oleh syaquel
"masuk ******" teriak syaquel kencang
Silvi ketakutan tubuhnya terhuyung ke sofa karena syaquel melepaskan tangannya sambil mendorongnya kebelakang untung saja ia tidak jatuh ke lantai.
"tidak adakah secuil rasa kasihanmu kepada kami?" ucap silvi sembari memegangi perutnya dengan menangis
"cih, jangan berdrama" bentak syaquel
"sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini el?" silvi meninggikan suaranya
"sampai aku puas" syaquel mencengkram dagu silvi dan menghempaskannya
"kenapa kau mencoba melarikan diri lagi silvi? Sudah ku katakan jangan pernah menentangku atau kau akan mendapat hukuman atas perbuatanmu" ucap syaquel dengan tatapan membunuhnya
"lebih baik kau bunuh aku sekalian kalau itu dapat membuat dirimu puas" lagi lagi silvi berteriak