
"maaf anda siapa?" tanya ziva pada zayyan
zayyan langsung otomatis melihat ke belakannya siapa tahu ada orang lain disana selain dirinya dan vanya
"kau bertanya pada siapa sayang?" ucap zayyan balik bertanya
"pada anda" sahut ziva
"aku?, kau tidak mengenalku?" tanya zayyan lagi
"ya, anda siapa? main peluk-peluk saja" ucap ziva sambil memberikan kode-kode mata pada vanya
"what? untuk apa dia pura-pura amnesia? Anak ini menambah-nambah pekerjaan saja" batin vanya menatap jengah ziva
"vanya kau tidak bilang padaku kalau ziva amnesia?" keluh zayyan pada ziva
"ah iya aku lupa memberitahumu" ucap vanya setelah ditatap tajam oleh ziva
jujur saja terselip rasa kecewa dihati zayyan saat ia sangat mengkhawatirkan seseorang justru orang itu tidak mengenalinya, namun disatu sisi zayyan merasa tidak yakin kalau ziva amnesia melihat gerak gerik ziva dan vanya, zayyan berusaha mencari kebenaran dikeduanya.
"oke tidak papa kau tidak mengingatku, aku akan perkenalkan diriku, namaku zayyan dan aku adalah pacarmu, kita sudah seminggu jadian" ucap zayyan sungguh-sungguh
"wow ternyata sudah jadian" batin vanya yang merasa mendapat kabar terbaru
"bagaimana aku bisa percaya padamu?" tanya ziva pada zayyan
"kau tanyakan saja pada dia kalau aku bohong" tantang zayyan
"benar kak?" tanya ziva pada vanya
Baru saja vanya menjawab langsung dipotong oleh zayyan
"eh tunggu-tunggu kau memanggilnya apa?" tanya zayyan
"kakak" jawab ziva polos
"jadi kau ingat dia adalah kakakmu?" tanya zayyan menginterogasi
"kena kau" batin vanya tertawa dalam hati saat sadar ziva masuk dalam jebakan zayyan
Ziva membeku tidak tau harus menjawab apa, zayyan benar-benar menjebaknya, ziva menutup matanya lalu menggelengkan kepalanya yang terasa berdenyut
"zayyan kau tidak membawa makanan ya?" tanya vanya mengalihkan topik
"oh astaga aku lupa membawanya, ada dimobil tolong kau ambilkan ya" suruh zayyan sambil memberikan kunci mobilnya pada vanya.
Vanya menurut saja, ia mengambil kunci mobil zayyan dan pergi dari ruang rawat ziva, sekarang tersisa zayyan dan ziva.
"aku tau kau tidak hilang ingatan, kau tidak perlu berbohong" tebak zayyan
ziva tidak menjawab ia hanya mengalihkan pandangannya dari zayyan sambil mengerucutkan bibirnya, karena rencananya gagal.
"apa aku penyebab kau jadi begini?" tanya zayyan, karena sebelumnya memang mereka ada masalah yang belum diselesaikan
"tidak kak" jawab ziva
"lalu? Apa perbuatan mamamu lagi?" tebak zayyan
"entahlah, aku rasa aku juga salah karena tidak memperdulikan dia yang sedang bicara, itu tidak sopan bukan?" ucap ziva
" lalu dia mendorongmu?" tanya zayyan
"tidak kak, dia mengejarku yang sedang naik tangga dia menahan tanganku agar aku berhenti berjalan dan mendengarkan ucapannya namun aku kehilangan keseimbangan akhirnya aku jatuh" jelas ziva dengan mata mulai berkaca-kaca mengigat kejadian siang tadi
"apa ada yang sakit?" tanya zayyan melihat ziva netra ziva yang mulai berembun
"tidak kak, hanya tidak bisa di gerakkan" keluh ziva
"tangan dan kaki ku" ucap ziva
"apa kata dokter?" zayyan menahan nafasnya untuk kemungkinan buruk yang ada dalam pikirannya
"kata dokter aku lumpuh" tumpah sudah airmata ziva yang selalu ia tahan sejak berbicara dengan ayahnya tadi
zayyan langsung memeluk tubuh ziva, ia tau betapa hancurnya ziva saat ini, setiap tangisan yang keluar dari mulut ziva langsung mengoyak hati zayyan.
"tenang lah sayang kau akan sembuh" ucap zayyan berusaha memberi kekuatan pada ziva
"kak carilah wanita lain, aku merasa tidak pantas lagi menjadi pendampingmu" pasrah ziva
"hey apa yang kau katakan ziva? Apapun kondisimu aku akan disampingmu selalu" tekan zayyan
" tapi kak, kakak akan malu bersamaku yang lumpuh" sanggah ziva yang tidak percaya diri
"apa yang memalukan? kau akan sembuh percayalah itu dan jangan pikirkan hal lain yang tidak penting" ucap zayyan tegas
"kau tau aku aku mencintaimu sangat mencintaimu aku tidak akan mungkin untuk berhenti mencintaimu" ucap zayyan sembari mengecup pucuk kepala ziva
"makasih kak" ucap ziva
"oke sekarang kau harus makan, lihat buburmu belum tersentuh dari tadi" tunjuk zayyan pada bubur diatas meja sebelah nakas
"tidak kak aku tidak nafsu makan" keluh ziva
"ada makanan yang kau inginkan?" tanya zayyan agar ziva mau makan
ziva menggeleng mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin apapun
"tidak bisa sayang, kau harus makan agar bisa minum obat" ucap zayyan lembut
"aku datang" ucap vanya sembari membawa beberapa paper bag
"kalau kau tidak mau makan bubur itu, pilihlah makanan yang aku beli itu siapa tau kau selera makan" tawar zayyan
ziva melihat satu persatu makanan yang dibeli zayyan
"itu apa kak?" tanya ziva mengangkat tangan kirinya untuk menunjuk makanan yang dia maksud
"ini?" tanya vanya memastikan
"tidak kak, yang sebelahnya" ucap ziva diiringi gerakan tangan
"oh ini?" tanya vanya sambil mengangkat makanan yang ziva mau
" iya " jawab ziva
"ini spagethi, kau mau?" tanya vanya dan mendapat anggukan dari ziva
"berikan, aku akan menyuapinya, kau makan saja jangan sampai kau mati kelaparan disini" ucap zayyan bercanda
"ish kurangajar sekali orang ini" jengkel ziva sambil membawa makanannya ke sofa.
"ayo buka mulutmu" ucap zayyan sambil menyapi ziva
"aku bisa sendiri kak" bohong ziva padahal jelas tangan kananya tidak bisa ia gerakkan
"hahaha yang benar saja makan sendiri, kau tidak lihat tanganmu di perban" ucap zayyan
karena tidak bisa menolak lagi ziva akhirnya membuka mulutnya. Zayyan dengan telaten menyuapi ziva
"ish rasanya ingin muntah melihat kalian itu" caci vanya karena merasa jadi obat nyamuk