
"ayah, hari ini aku baru tahu kalau selama hidupnya ziva selalu mendapatkan siksaan dari mama, seharusnya aku membuka mataku saat ziva mengalami kelumpuhan dulu, seharusnya aku mencari tahu kebenarannya tapi malah aku lah orang pertama yang membela saat ayah menuduh mama" ucap silvi dengan tatapan muak pada bu elen yang terlihat ketakutan
"silvi hentikan omong kosongmu" bentak bu elen
"omong kosong apa ma? Aku bicara kebenaran, bahkan mama lah yang menyuruhku untuk menjebak zayyan agar dia yang bertanggung jawab atas bayiku" bantah silvi
"ayah aku tahu aku sudah mempermalukan keluarga kita aku mohon maaf dan aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku, tapi aku sama sekali tidak punya niatan untuk menyeret zayyan dalam masalahku, mama lah yang memaksaku karena dia tau ziva punya hubungan dengan zayyan jadi dia ingin menghancurkan ziva lewat aku dengan merusak hubungan ziva dan zayyan padahal mereka akan merencanakan pertunangan dalam waktu dekat" tutur silvi panjang lebar
"nak kau tau semua kebenaran ini dari mana?" tanya pak leon yang terlihat sangat terpukul mengetahui istrinya kembali berhianat
"vanya, vanya memasang CCtv tersembunyi dirumah kita dan itu dapat terlihat jelas semua kejahatan mama selama ini" ucap silvi sembari menunjuk vanya
"vanya benarkah itu?" tanya pak leon
"iya ayah" vanya lalu mengambil ponselnya
"kak jangan" ziva menahan tangan vanya yang akan memberikan ponsel itu pada ayahnya
"ayah ingin lihat sayang" ucap pak leon
ziva tidak bisa berbuat apa apa lagi, ia membiarkan ayahnya melihat semuanya, bu liza juga ikut mendekat kearah pak leon untuk melihat rekaman itu, dan jangan tanyakan bu elen tentu ia keringat dingin membayangkan nantinya ia akan ditendang keluar oleh pak leon untuk yang kedua kalinya.
"aakkhh" pak leon meringis sembari memegang dadanya
"ayah" ziva, vanya dan silvi berteriak bersamaan
"sakit sa..kkit" pak leon kembali meringis kesakitan
"kak" ziva menatap zayyan dengan panik
Zayyan dan rayyan memampah pak leon untuk dibawa keruang perawatan lainnya.
"bun tolong jaga kak silvi" ucap ziva dan diangguki oleh bu liza
setelah kepergian ziva, vanya, bu elan dan pak leon yang di pampah oleh zayyan dan rayyan. Diruang rawat silvi tersisa bu liza dan bu bianca, sedangkan pak william ia pamit untuk membereskan sedikit kekacawan yang terjadi dihotel akibat batalnya pernikahan zayyan dan silvi.
"ayah" tangis silvi lagi lagi pecah karena takut terjadi apa apa pada ayahnya
"tenangkan dirimu nak, kasihan bayimu didalam sana pasti berpengaruh, berdoa saja semoga tidak terjadi apapun pada ayah ya" ucap bu liza sembari memeluk silvi
"iya sayang kuatkan dirimu" ucap bu bianca yang ikut mengelus pundak silvi
Ditempat lain ziva dan vanya merasa sangat frustasi, mereka sangat takut terjadi apa apa pada sang ayah terlebih lagi menyangkut penyakit yang diidap oleh ayah mereka.
"ini semua gara gara kamu anak pungut" sentak bu elen dan hendak melayangkan tamparannya pada pipi vanya namun langsung ditepis oleh rayyan yang berdiri disamping vanya
"hey bu, seharusnya anda lah yang patut disalahkan" rayyan menunjuk kearah wajah bu elen
"lancang sekali kau" bu elen menepis telunjuk rayyan
"sudahlah kenapa kalian malah ribut disini, memalukan" bentak zayyan
"keluarga pak leonard?" ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang perawatan pak leon
"saya istrinya" ucap bu elen
"kami anaknya" ucap vanya sembari menunjuk kearah ziva
"begini kondisi pak leonard saat ini sangatlah buruk, dia mengalami serangan jantung mendadak terlebih lagi penyakit yang beliau idap sudah berada divase yang sangat amat parah, kami akan terus melakukan pemantauan, semoga pasien bisa melewati masa kritisnya" ucap dokter tersebut
"terima kasih dok" ucap ziva dan diangguki oleh dokter itu sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang rawat pak leon
Mereka yang diizinkan masuk oleh perawat yang berjaga diruangan hanya maksimal dua orang bergantian. Dan yang pertama kali masuk adalah ziva dan zayyan.
"ayah" lirih ziva sungguh ia tidak sanggup melihat kondisi ayahnya yang saat ini telah dipasangi alat alat medis
"ayah ayo bangunlah ayah, aku tidak sanggup melihat ayah seperti ini" ziva tidak henti hentinya menangis
"ayah lekaslah sembuh" ucap zayyan menggenggam tangan pak leon yang terbujur kaku
"ayah" ziva menumpahkan air matanya tanpa bisa berkata kata lagi
zayyan mengelus elus pundak ziva menguatkan wanitanya.
setelah ziva dan zayyan keluar, bu elen masuk bersama vanya keruang perawatan pak leon.
"mas maafkan aku, aku sadari aku salah, bertahanlah" ucap bu elen sembari menangis tersedu sedu
"ayah, aku tau ayahku adalah pria kuat, ayahlah yang selalu mengajariku untuk menjadi manusia kuat dan tangguh, maka sehatlah untuk kami anak anakmu ayah" ucap vanya yang juga berusaha kuat walau air mata terus membanjiri pipinya
Setelah melihat kondisi sang ayah ziva dan zayyan kembali ke ruangan rawat kakaknya, karena disana masih ada vanya dan juga ada perawat yang akan terus berjaga diruangan ayahnya jadi mereka tidak perlu terus menunggu diluar ruangan ayahnya.
"ziva bagaimana kondisi ayah?" tanya silvi
Ziva yang tadinya sudah berhenti menangis karena melihat kakaknya yang masih menangis ia pun juga ikut menumpahkan lagi air matanya yang masih tersisa, mereka saling berpelukan sambil sama sama menangis.