My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Kelumpuhan



Silvi dan vanya hanya diam termenung melihat kondisi ziva saat ini, kepalanya dibungkus perban, tangan dan kakinya di gips.


dibelakang silvi, diam-diam vanya memotret foto ziva yang sedang terbaring lemah dan mengirimnya pada zayyan Richard.


tidak berselang lama dering ponsel vanya mengagetkannya.


"astaga orang ini baru saja aku mengirim foto ziva dia langsung menelfon" gumam vanya dalan hati


"kak sebentar ya aku jawab telfon dulu" pamit vanya pada silvi dan mendapat anggukan


Vanya lalu keluar dari ruang rawat ziva dan menjawab telepon dari zayyan


"halo vanya, apa yang terjadi pada ziva? Dia dirawat dirumah sakit apa? Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya zayyan beruntun


"zayyan hei tenangkan dirimu, aku jadi bingung mau jawab yang mana dulu" ucap vanya sambil bercanda


"ayolah vanya kau tau aku sangat cemas saat ini" keluh zayyan


"ya ya ya aku mengerti perasaanmu sekarang ini, tetapi kau belum bisa datang ke rumah sakit sekarang karena seluruh keluargaku sedang berkumpul, aku berjanji akan membuat keluargaku pulang secepat mungkin" ucap vanya panjang kali lebar


"aku tidak peduli vanya, sekalipun seluruh keluarga smith ada disana aku harus tetap melihat sendiri keadaan ziva" ucap zayyan frustasi


"hei zayyan jangan gegabah, aku janji nanti malam kau akan bertemu ziva" ucap vanya


Diseberang sana zayyan berusaha menenangkan dirinya, benar kata vanya kalau ia gegabah dan keluarga ziva tau soal hubungan mereka kemungkinan ziva akan marah karena selama ini ziva lah yang menyembunyikan hubungan mereka.


"ya baiklah kau harus tepati janjimu" ucap zayyan


"iya iya, sudah dulu ya" pamit vanya


"vanya tunggu, tolong kabari aku kondisi ziva" pinta zayyan


"iya tenang saja" ucap vanya lalu memutus sambungan telepon


Ia kemudian masuk ke ruang rawat ziva kembali dan melihat silvi sudah duduk disamping tempat tidur ziva.


diruangan dokter laura, pak leon dan bu elen dipersilahkan untuk duduk di kursi depan meja kerja dokter laura yang menangani ziva


"begini pak buk, saya ingin menjelaskan secara terperinci kondisi nona ziva sekarang, yang pertama kepalanya mengalami benturan yang cukup keras tetapi baiknya tidak mengganggu memori otaknya hanya ada beberapa luka robek di kepalanya, yang kedua mengapa tangannya kami gips karena ada satu tulangnya yang sedikit bergeser dari tempatnya jadi untuk sementara waktu tangan kanan yang sengaja kami gips agar jangan dipakai beraktivitas dulu, dan yang ketiga untuk kakinya ada satu tulang yang membengkok kemungkinan besar nona ziva akan mengalami kelumpuhan tetapi dikasus nona ziva ini bukan kelumpuhan permanen, kasus kelumpuhan nona ziva ini akan bisa sembuh dengan beberapa terapi yang akan kita berikan dalam perawatan nona ziva nanti" jelas dokter laura


"kira-kira berapa lama dok anak saya akan bisa berjalan normal?" tanya pak leon


"yes anak itu akan lumpuh, dan aku akan membuatnya lumpuh untuk selamanya bukan hanya sementara" batin bu elen tertawa dalam hati


Sementara pak leon beberapa kali mengusap kepalanya frustasi.


"baiklah dok kalau begitu kami kembali dulu" pamit pak leon


" iya silahkan pak bu" ucap dokter laura mempersilahkan


pak leon dan bu elen akhirnya kembali ke ruangan rawat ziva, disana terdapat silvi yang duduk disamping tempat tidur ziva, sementara vanya duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur ziva, dan ziva sendiri yang masih setia dengan tidurnya.


"silvi vanya" panggil pak leon menyadarkan kedua anaknya yang nampak melamun


"ayah, apa kata dokter?" silvi mendongakkan kepalanya menatap sang ayah


"adikmu..adikmu lumpuh" ucap pak leon lalu menundukkan kepalanya dan memijit batang hidungnya menyembunyikan wajah sedihnya, ia sungguh tidak mampu mengatakan itu


"apa" vanya sangat kaget dengan penuturan ayah nya


"iya nak, tetapi kata dokter ziva bisa sembuh dengan rutin terapi" ucap pak leon memberi harapan


"benarkah itu ayah?" tanya silvi yang sedari tadi sudah tidak bisa menahan air matanya


"iya sayang, ayah sangat berharap ziva bisa berjalan kembali seperti biasa" harap pak leon menatap wajah ziva dalam-dalam.


"iya semoga saja tuhan memberi mukjizat pada ziva" ucap bu elen yang sedari tadi diam


sekarang berganti, pak leon duduk samping tempat tidur ziva sambil mengelus tangan ziva yang terlilit gips, sedangkan bu elen, silvi dan juga vanya duduk disofa dengan pikiran mereka masing-masing.


Detik demi detik berlalu, siang berganti malam, keempat orang didalam ruangan itu masih sibuk dengan lamunan mereka tanpa memperdulikan perut yang lapar jugu tubuh yang lelah. Namun semua itu berganti dengan senyum bahagia melihat jari jemari ziva yang mulai bergerak, sudut mata ziva mengeluarkan air mata, mereka pun satu persatu menjadi kalangkabut, lalu memanggil dokter dengan tergesa-gesa.


Tanpa meninggalkan ruangan, mereka berempat memperhatikan dokter dan para suster melakukan pemeriksaannya pada ziva, melihat ziva mulai membuka matanya menambah rasa bahagia dihati.


"pak, syukur alhamdulillah nona ziva sudah sadar, seluruh organ vitalnya juga bekeja dengan baik, silahkan diajak bicara, tetapi tetap jaga pola istirahatnya ya, suster akan mengantarkan makanan dan juga obat yang harus diminum nona ziva mohon dibantu ya" jelas dokter


"iya dok terima kasih" ucap pak leon lalu mendekati ziva yang menatapnya dari tempat tidurnya


"ayah" panggil ziva saat melihat ayahnya meneteskan air mata