
"ziva tolong kakak" ucap silvi dengan tangisannya yang histeris
"kak masuklah dulu kita bicara didalam" ziva menuntun kakak nya ke ruangan dimana ada bundanya
"kamu kenapa sayang?" tanya bu liza melihat silvi menangis
"ziva kakak mohon sama kamu tolong bujuk zayyan untuk bertanggung jawab hanya kamu yang kakak harapkan" ucap silvi terisak
"tapi kak, kenapa harus aku? Ini kan masalah pribadi kalian" ucap ziva
"ziva kakak baru tahu selama ini zayyan berselingkuh denganmu dan dia tidak ingin mengakui anaknya karena dia sudah mencintaimu" ucap silvi bersandiwara
Bagai ditusuk berkali kali, ziva merasa sangat sakit hati mendengar penuturan dari kakaknya yang menyatakan ia adalah selingkuhan kekasihnya.
"kak maaf aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya, dan aku tidak ingin masuk campur dengan urusan kalian" tolak ziva
"ziva tolonglah kakak, kasihani anak yang ada dalam kandunganku ini ziva" silvi memengang tangan ziva
ziva menatap bu liza yang ada dibelakang silvi. Bu liza tidak memberikan respon apapun
"kak aku akan coba bicara pada kak zayyan, tapi aku tidak menjanjikan apapun padamu kak" ucap ziva yang mulai masuk dalam sandiwara yang silvi buat.
"terima kasih ziva, kakak yakin kalau kau yang bicara dia akan mau menuruti keinginanmu" ucap silvi
"iya kak" ziva membalasnya dengan senyuman
"sayang tenanglah semua pasti akan baik baik saja" tambah bu ziva
"iya bunda, aku sangat menyayangkan sikap zayyan yang tidak ingin mengakuinya" silvi mengelus perut ratanya
"nak apa kau akan menginap malam ini?" tanya bu liza
"kalau diizinkan" ucap silvi
"tentu saja boleh" sahut ziva
malam ini silvi memutuskan untuk menginap dirumah bu liza, ia tidur dikamar kosong yang sudah disiapkan bu liza.
Keesokan harinya, ziva seperti biasa berangkat ke butik, diperjalanan ia merasa dibuntuti namun saat melihat spion ziva seperti tidak asing dengan mobil yang mengikutinya.
Sesampainya dibutik ziva masuk dengan santai menuju ruangannya, baru saja ziva menutup pintu ruangannya sebuah tangan kekar menahan pintu yang akan tertutup, ziva berusaha mendorong pintu dengan sekuat tenaga namun pria didepan itu jauh lebih kuat menahan agar pintu itu tidak tertutup. Akhirnya ziva menyerah, ia berjalan menuju mejanya dan membiarkan pria itu masuk.
"ziva dengarkan aku dulu" ucap zayyan saat ia berhasil masuk ke ruangan ziva
ziva tidak memperdulikan zayyan, ia menyalakan komputernya dan memulai pekerjaannya.
"ziva aku mohon" ucap zayyan sekali lagi
"ziva please" zayyan memutar kursi yang ziva duduki agar menghadap padanya, ia juga mensejajarkan badanya dengan ziva dengan menjadikan lutut sebagai tumpuannya.
Ziva dan zayyan saling menatap, terlihat jelas kekecewaan dimata ziva saat ini. Tanpa sadar zayyan mendekatkan wajahnya hendak mencium ziva namun ziva menahan dada kekarnya.
"kalau kau ingin bicara maka bicaralah jangan melewati batasanmu" tegas ziva
"maaf" zayyan menjeda kalimatnya untuk menetralkan isi kepalanya.
"ziva aku berani bersumpah padamu aku akan mati hari ini juga jika aku berbohong, aku sama sekali tidak menghianatimu apalagi melakukan perbuatan kotor seperti yang kau kira sungguh itu bukanlah karakterku ziva" ucap zayyan bersungguh sungguh
"I dont care" ucap ziva
"ziva aku harus seperti apa agar kau percaya padaku" ucap zayyan dengan mata berkaca kaca
"ziva aku memang sering berpergian bersama silvi tetapi itu hanya karena dia memintaku untuk menjemputnya kadang dengan alasan ban mobilnya bocor, mobilnya mogok, kadang karena ia ingin ke hotelnya vanya dan itu searah dengan kantorku jadi aku membantunya dengan mengantarkannya terlepas dari itu dia juga sahabatku sejak kecil bahkan dia saudaramu maka dari itu aku merasa aku harus menghargainya" jelas zayyan
"dan karena keseringan itu sendiri kalian jadi seperti ini" tambah ziva
"tidak ziva aku mohon percayalah padaku" zayyan menitikan air matanya
"menikahlah dengan kak silvi, walau tidak bisa bersama kita bisa menjadi ipar kan" ucap ziva memutar posisi duduknya menghadap komputer
Ziva benar benar tidak tega melihat sisi lemah zayyan.
"aku tidak akan menikah dengannya apapun alasannya ziva, aku benar benar tidak sudi harus menanggung dosa dari perbuatan kotor mereka" ucap zayyan menghapus air matanya
"jika kau merasa seperti itu, sebagai sahabat seharusnya kau kasihan pada anak yang dikandungnya" sindir ziva
"bukan berarti aku harus menikahinya, aku tidak bisa mengorbankan diriku untuk orang lain" sahut zayyan dan tidak dijawab oleh ziva
"aku akan beri pelajaran pada pria brensek itu" zayyan melangkah keluar namun di tahan oleh ziva
"apa katamu?" tanya ziva
"aku akan memberikan pelajaran pada pria pengecut itu" ucap zayyan
"siapa maksudmu?" tanya ziva
"siapa lagi kalau bukan kekasihnya silvi" jawab zayyan
"siapa dia?" tanya ziva
"tuan syaquel fernando, kau ingatkan pria sialan itu?" jawab zayyan
"kau jangan mengada ngada. Karena tidak ingin bertanggung jawab kau malah membawa bawa orang lain dalam masalahmu" ucap ziva tidak percaya
"kalau begitu kau ikutlah denganku" ajak zayyan
"untuk?" tanya ziva
"untuk membuktikan kalau dialah yang menghamili silvi" ucap zayyan
ziva pikir tidak ada salahnya ia ikut siapa tau ia mendapat fakta baru.
"baiklah, sebentar" ziva menghubungi greis untuk masuk ke ruangannya
"iya kak ada apa?" tanya greis
"greis aku ingin keluar sebentar, tolong kau handle masalah butik ya" pinta ziva
"baik kak" ucap greis patuh.
"yasudah ayo" ziva mengambil tas nya dan keluar dari ruangannya
"masuklah" zayyan membukakan pintu mobil untuk ziva
"aku akan membawa mobil sendiri" ziva mengeluarkan kunci mobilnya namun zayyan berhasil merebut kuncinya
"tidak perlu membawa mobilmu, kau akan pergi bersamaku" zayyan menarik lengan ziva dan memaksanya masuk ke mobilnya
"ish menjengkelkan" umpat ziva melihat zayyan mengitari mobilnya
zayyan pun mengendarai mobilnya menuju perusahaan FE.company.