
"kak silvi ada disini" batin ziva
"ziva" panggil silvi
"kesempatan yang bagus" batin silvi saat melihat keberadaan ziva
"ziva kau disini?" tanya silvi menerobos zayyan yang ada didepannya
"iya kak" jawab ziva singkat
"yan kau membawa ziva kesini? Ini kan tempat kita hmm" silvi sengaja tidak melanjutkan ucapannya
"kau jangan mengada ngada silvi" ucap zayyan geram dengan tingkah silvi
mata silvi lalu beralih pada dress yang dipegang ziva.
"yaampun kau menemukan dressku ziva" silvi langsung merebut pakaian nya dari tangan ziva
"iya kak aku menemukannya dikamar mandi" ziva menatap silvi dan beralih menatap zayyan
"maaf zayyan aku lupa membawa nya jadi aku tinggalkan dikamar mandi saat kau membawakan ku pakaian yang baru" ucap silvi berusaha memanfaatkan situasi
"silvi kau itu" geram zayyan
zayyan maju mendekati silvi dengan kilatan amarah namun saat akan dekat dengan posisi silvi berdiri ziva malah menahan langkahnya dan melindungi zayyan
"kak" tahan ziva dengan mengangkat sebelah tangannya
"ziva lihatlah, dia selalu kasar seperti ini padahal aku sedang mengandung anaknya bagaimana kalau aku keguguran karena tingkahmu yang selalu menyakitiku" ucap silvi diiringi tangisannya
"silvi stop" teriak zayyan
Silvi dan ziva tersentak kaget karena teriakan zayyan
"zayyan aku tau kau sangat mencintai adikku tapi kau tidak bisa egois seperti ini, anak ini juga butuh kasih sayang mu, dia darah dagingmu, kasihani lah dia zayyan" silvi meninggikan suara untuk mendukung sandiwaranya yang sudah ia susun rapi.
"aku tidak pernah menyentuhmu, jangankan melecehkanmu, aku bahkan tidak pernah menciummu, kau sendiri yang terlalu murahan dengan mejajakkan tubuhmu pada pria pria diluar sana" pungkas zayyan dengan amarah yang menggebu gebu
"cukup kak, kau sudah keterlaluan" ziva mengingatkan zayyan
"kak sudahlah, kalau dia tidak ingin bertanggung jawab biarkan saja, kita akan besarkan sama sama anakmu, dari pada kau harus mengemis pertanggung jawaban dan terus mendapat dihina seperti ini" ziva lalu menarik tangan silvi untuk keluar dari apartemen
"zayyan dengar ini, keluargaku akan datang untuk membicarakan masalah ini dengan keluargamu dan jika kau masih menolak untuk mengakui anak ini maka datanglah nanti saat pemakamanku, aku akan membawa anak ini bersamaku, kami akan pergi meninggalkan kalian semua" ancam silvi kemudian pergi bersama ziva keluar dari apartemen zayyan
"aaaaahrggg" teriak zayyan frustasi saat melihat ziva pergi bersama silvi
dalam perjalanan pulang ziva nampak kalut, banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang muncul dikepalanya.
"ziva" ucap silvi melihat ziva melamun
"iya kak" jawab ziva menoleh pada silvi
"maaf" satu kata yang terucap dari bibir silvi
"karena aku dan anak ini, kalian harus berpisah" silvi menekan kata berpisah agar ziva tersadar
"kak itu bukan salah kakak juga bukan salah keponakanku, dia tidak berdosa" ziva mengelus perut rata silvi
"ziva bagaimana kalau zayyan tidak mau bertanggung jawab, aku tidak ingin mempermalukan ayah" ucap silvi meneteskan air matanya
"hmm kak bisa aku bertanya sesuatu" ziva mengalihkan pembicaraan mereka
"silahkan ziva" jawab silvi yang mulai merasa takut
"kakak kenal dengan tuan syaquel exel fernando? CEO FE.Company" tanya ziva
"iya aku kenal, dia teman kuliahku" jawab silvi
"sekarang apa masih sering bertemu?" tanya silvi
"iya tetapi tidak sering hanya jika ada urusan pekerjaan" bohong silvi
"jadi dia rekan kerja kakak?" tanya ziva
"iya, ada apa bertanya tentang dia ziva?" tanya silvi balik
"tadi aku bertemu dengannya kak" jawab ziva
Ziva bisa melihat ketegangan kakaknya itu.
"lalu?" tanya silvi kembali
"katanya dia akan bertanggung jawab pada kehamilan kakak jika kakak mau melakukan tes DNA" bohong ziva
"what?" silvi kaget dengan keterangan yang diberi ziva
"sebentar ziva, memangnya kalian bicara apa saja? Dan kenapa dia yang harus bertanggung jawab, anak ini anaknya zayyan dan zayyan lah yang akan bertanggung jawab" ucap silvi
"dia mengakui bahwa dia adalah pria yang pernah berhubungan badan dengan kakak" tegas ziva
"tidak tidak, kami hanya sekali melakukakan hal itu dan menggunakan pengaman, selebihnya aku selalu melakukannya bersama zayyan" ucap silvi tidak peduli dengan tanggapan ziva
"tapi kenyataannya kak zayyan juga tidak mengakui perbuatan itu, dan jika kakak melakukan tes DNA ini itu bisa menjadi bukti kuat kakak jika memang anak itu anak kak zayyan, aku yakin setelah mengetahui hasilnya kak zayyan akan berubah pikiran" bujuk ziva
"tidak ziva, melakukan tes itu pada kehamilanku yang baru beberapa minggu ini sangat beresiko, dan dapat membahayakan nyawa bayi ku" ucap silvi
"lalu apa yang bisa kakak lakukan agar kak zayyan mau mengakui bayi itu?" tanya ziva
"aku akan terus datang memohon pertanggung jawabannya apapun alasannya dia harus bertanggung jawab, dan aku mohon ziva bujuk zayyan agar mau mengakui anak ini aku mohon" silvi menyatukan kedua tangannya untuk memohon pada ziva
"kak jangan lakukakan ini" ziva menurunkan tangan silvi
Malam harinya, zayyan masih berada diapartemennya, ia sudah menghabiskan 1 botol minuman beralkohol, hingga membuatnya sedikit mabuk.
Tidak berselang lama ponselnya berdering, ia melihat layar ponselnya, ternyata daddy nya yang menelfon, ia lalu menjawab panggilan itu.