
Tanpa menunggu lagi ziva langsung menghubungi kakak keduanya yaitu vanya.
"Hallo kak" ucap ziva dengan suara bergetar menahan tangis
"ziva ada apa denganmu?" tanya vanya heran
"kak kau dimana ? bisakah kau kerumah sakit sekarang?" ucap ziva
"rumah sakit? Ada apa? terjadi sesuatu padamu?" tanya vanya lagi
"bukan aku kak, tapi kak silvi dia butuh donor darah dan hanya kau yang bisa menolongnya" ucap ziva sambil menghapus air matanya yang jatuh
"apa? kak silvi? apa yang terjadi padanya?" tanya vanya lagi
"kak aku akan menceritakannya nanti, aku mohon segeralah kemari" ucap ziva lalu mematikan sambungan teleponnya.
Vanya langsung mengambil tasnya yang berada dimeja kerja rayyan, ya saat ini dia sedang dikantor calon suaminya yang sangat ia benci itu.
"hey kau mau kemana?" tanya rayyan sambil menahan tangan vanya yang hendak pergi
"ck lepaskan aku harus segera pergi" ucap vanya kesal
"katakan dulu kemana kau akan pergi?" tanya rayyan
"ke rumah sakit" vanya langsung menghempaskan lengannya agar terlepas dari genggaman tangan rayyan
"apa? Hey tunggu" rayyan menyerobot kunci mobil dan ponselnya lalu mengejar langkah vanya yang begitu cepat
"siapa yang sakit?" tanya rayyan mensejajarkan langkahnya dengan vanya
"kakakku" jawab vanya singkat
"kakak? Maksudmu silvi?" tanya rayyan lagi
"hu'um" jawab vanya
Langkahnya terhenti saat ia baru sadar kalau tidak membawa mobil sebab tadi dia diculik oleh rayyan dan dibawa ke tempat ini. ditengah lamunannya rayyan menarik tangannya untuk menuju ke mobil pria itu dan tentu saja vanya langsung bergegas ia tidak ingin menyianyiakan waktu untuk menyelamatkan silvi.
"apa yang telah terjadi pada silvi?" tanya rayyan sambil mengendarai mobilnya
"aku pun tidak tau, ziva hanya memberitahuku bahwa kak silvi membutuhkan donor darah dariku" jawab vanya frustasi
"ck kenapa mobilmu berjalan seperti siput" gerutu vanya
"baiklah jika begitu pegangan" ucap rayyan menaikkan kecepatan mobilnya
Sesampainya dirumah sakit vanya langsung menuju ruangan operasi dan terlihat syaquel, zayyan dan juga ziva sedang menunggu dengan gelisa didepan ruangan itu.
"ziva" panggil vanya
"sebenarnya apa yang terjadi?" lanjut vanya
Namun baru saja ziva ingin menjelaskan, seorang perawat keluar dari ruangan tempat silvi dioperasi.
"nyonya richard apa pendonor nya sudah tiba?" tanya salah seorang perawat
"ya suster, dia orangnya" jawab ziva menunjuk vanya
"baiklah mari nona " ucap perawat tersebut membawa vanya ke ruangan lain
"ada apa dengan silvi?" tanya rayyan pada ziva dan zayyan
"dia sedang menjalani operasi cesar untuk melahirkan bayinya" jawab zayyan
Rayyan mengangguk paham, ia merasa operasi cessar adalah hal yang lumrah jika seseorang tidak dapat melahirkan secara normal.
Tidak lama kemudian vanya dan perawat itu kembali, transfusi darah telah selesai dilakukan.
"ziva bisa kau jelaskan padaku sekarang?" tanya vanya dengan penasaran
"kakak mengalami pendarahan aku pun tidak tau penyebabnya, keadaan kakak dan bayinya juga melemah jadi dokter memutuskan untuk mengambil tindakan operasi demi keselamatan mereka" jelas ziva, vanya lalu menatap syaquel yang mondar mandir didepan pintu ruangan ia menarik kerah baju syaquel, ia marah karena pria itu tidak bisa menjaga kakaknya dengan baik
"hey, apa yang kau lakukan? kenapa bisa kakakku mengalami hal seperti itu?" sentak vanya meremas kerah baju syaquel
"vanya.. Vanya ini rumah sakit jangan buat keributan" rayyan menahan tubuh vanya yang tampak emosi
"jika kau tidak bisa menjaga kakakku maka jangan menikahinya, kami bisa menjaganya dengan baik dan membesarkan bayinya dengan penuh kasih, dasar suami tidak becus" vanya menghempaskan tubuh syaquel.
Syaquel melihat kebencian dimata vanya dan juga kedua pria kembar dihadapannya itu, kecuali ziva yang hanya bisa menangisi kakaknya.
setelah menunggu sekitar 1 jam lebih pintu ruangan itu terbuka dengan dua orang perawat yang sedang mendorong sebuah incubator dengan seorang bayi didalamnya.
Mereka mendekat untuk melihat bayi yang ada didalamnya namun suster itu berjalan dengan cepat membawa bayi itu tidak lama kemudian dokter alesya yang menangani operasi silvi keluar dari balik pintu.
"Ale bagaimana?" zayyan lebih dulu membuka suara
"operasi berhasil" dua kata pertama yang keluar dari mulut alesya membuat semua orang yang ada disana bernafas lega
"tapi keadaan keduanya sangat lemah, bayinya berjenis kelamin laki laki, ia lahir lebih cepat dari yang diperkirakan, berat badannya juga belum cukup normal dan ia masih harus mendapatkan perawatan khusus. Sedangkan nyonya silvia semoga dia bisa sadar setelah pengaruh bius habis tetapi jika pengaruh bius habis dia belum sadar juga berarti ia mengalami koma" ucap alesya panjang lebar
"ya tuhan" ucap semua orang yang ada disitu
"kami akan memindahkan nyonya silvia ke ruangan ICU agar mendapat mengawasan dan perawatan yang khusus" ucap alesya lagi lalu ia masuk kembali
Perasaan mereka saat ini campur aduk, satu sisi mereka bersyukur karena nyawa keduanya bisa selamat namun disisi lain mereka sangat sedih karena kondisi keduanya masih sangat mengkhawatirkan.