
Setelah membayar makanan yang telah mereka makan, ziva membantu bu bianca membawa barang-barangnya kemobil bu bianca yang langsung diambil alih oleh supir bu bianca.
"sekali lagi terimakasih ya nak, kau mau pulang bersama? Ibu akan mengantarkanmu dengan senang hati" ucap bu elen sambil mengelus rambut panjang ziva
" tidak usah bu, kebetulan aku bawa mobil" bohong ziva
"oh yasudah, ingat ya setelah itu hubungi nomor ibu biar kita bisa berkomunikasi lebih lanjut" ucap bu bianca mengingatkan
"iya bu tenang saja" jawab ziva
"mari bu, semua sudah masuk" ucap supir bu bianca
"oh iya, ziva ibu pergi dulu ya nak" pamit bu bianca
"iya hati-hati ya bu" ucap ziva sambil sedikit membungkuk mempersilahkan bu bianca masuk ke mobil
"sopan sekali anak itu" batin bu bianca saat sudah didalam mobil
setelah mobil bu bianca menghilang dari penglihatannya. Ia pun mencari taksi untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya dirumah telinga ziva malah semakin panas akibat menerima ocehan dari ibu tirinya yang jahanam itu.
"tumben sekali kau pulang cepat" sindir bu elen
"dimana mobilmu, kenapa aku tidak mendengar suara mobil masuk" tanya bu elen namun ziva enggan menjawabnya
"hey anak durhaka aku berbicara padamu, dasar anak kurang ajar" caci bu elen namun ziva tetap berjalan lurus menuju kekamarnya tanpa memerdulukan bu elen yang mulai emosi
"heiii ******" teriak bu elen yang mengejar ziva, lalu menarik tangan kanan ziva membuat ziva hilang keseimbangan dan jatuh menggelinding pada anak tangga hingga lantai bawah
"astaga mati aku" kaget bu elen saat melihat ziva menjerit dilantai bawah
"awwww tolong tolong aku" jerit ziva merasakan sakit luar biasa dikakinya juga ditangan dan kepalanya
"astaga non" teriak bibi dari dapur belakang berlari ke tempat ziva terjatuh saat ini
"nyonya tolong bantu nona ziva dia kesakitan" pinta bibi
dengan tangan sedikit gemetar elen menelpon supir pribadinya untuk menyiapkan mobil, lalu ia membantu bibi memampah tubuh ziva yang sudah pingsan untuk dibawah ke mobil.
"cepat kita kerumah sakit" ucap bu elen pada supir
Sesampainya dirumah sakit, ziva langsung mendapat penanganan, pak leon bersama silvi berdatangan kerumah sakit setelah mendapat telpon dari bibi dirumah
"ma kenapa bisa begini?" teriak pak leon panik saat tau princess kesayangannya terluka
"dia terpeleset dari tangga mas, namun tangan mama kalah cepat untuk menahan badannya akhirnya ia jatuh dari anak tangga yang dia pijak" jelas bu elen mulai ketakutan
"kau jangan macam-macam ma, bukan baru kali ini ziva terluka dirumah kita" pungkas pak leon saat ia merasa bukan kebenaran yang diceritakan bu elen
"apa yang ayah katakan? ayah mencurigai mama? Tidak mungkin mama melakukan hal seperti itu" bela silvi yang selalu percaya pada mamanya
"ayah tidak mencurigai mamamu tapi ini sudah kesekian kalinya adikmu selalu saja terluka dirumah kita nak, apa kau pikir ayah bisa tenang sama saja ayah tidak bisa menjaga adikmu dengan baik" keluh pak leon pada silvi
"ayah setiap insiden yang terjadi pada ziva kita selalu tau penyebabnya, dan hari ini ziva begini juga karena keteledorannya sendiri itu cukup menandakan bahwa ziva anak yang ceroboh ayah" bantah silvi
"bagus silvi terus bela mama" batin bu elen saat melihat perdebatan ayah dan anaknya.
"ayah tidak pernah merasa ziva seperti itu silvi" sela pak leon
"ayah bagaimana keadaan ziva?" tanya vanya dengan nafas memburu karena terus berlarian
"masih di dalam nak" jawab pak leon melihat kedatangan vanya
vanya lalu menatap tajam bu elen yang berdiri disamping silvi.
"cih menjijikan, setelah mencelakai ziva ia masih memasang wajah sok pahlawan seperti itu" batin vanya muak melihat bu elen
sesaat kemudian dokter yang menangani ziva keluar ruangan.
"keluarga nona zivani?" tanya dokter saat pak leon dan lain-lain mengepung dokter itu
"iya dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya pak leon cemas
"anak bapak saat ini belum sadarkan diri kami sedikit memberi obat bius dosis rendah karena harus menjahit beberapa bagian yang robek dikepalanya" jelas dokter
"bisa kami menjenguknya?" tanya vanya
"ya silahkan saja, tetapi jangan sampai menganggu istirahat pasien ya, dan saya meminta orang tua nona zivani agar bisa ikut keruangan saya, karena ada beberapa kondisi yang harus saya jelaskan dengan detail" ucap dokter tersebut
"baiklah dok saya ayahnya" ucap pak leon
"aku ikut mas" sahut bu elen
"baiklah kalau begitu mari ikuti saya" ucap dokter itu lalu berjalan menuju ruangannya diikuti bu elen dan pak leon dibelakangnya
setelah kepergian orang tua mereka, silvi dan vanya pun masuk ke ruang rawat tempat ziva berada saat ini.