My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Kritis



Sesampainya dirumah sakit, ziva dan kedua mertuanya berjalan dengan cepat menuju tempat dimana zayyan berada, saat melihat rayyan sedang berdiri didepan ruangan itu ziva langsung berlari kearahnya.


"ray" panggil ziva sambil berlari kecil mendekati rayyan diiringi tangis pilunya


"ziva" rayyan langsung memeluk tubuh rapuh itu


"kenapa kau berlari hem?,kau tahu


itu berbahaya untukmu" ucap rayyan saat ziva memeluk erat tubuhnya dan terisak di dalam pelukannya


"ray apa yang terjadi dengannya? Kenapa bisa dia.." ucapan ziva terhenti dan kembali menangis


"ziva hey come on tenangkan dirimu, dia pria kuat dia pasti akan baik baik saja" ucap rayyan menenangkan saudara iparnya itu


"ini semua salahku ray, salahku" ziva kembali terisak


"tidak ziva, semua ini sudah ditakdirkan tuhan kita hanya bisa menjalaninya" tutur rayyan


"ray apa dokter belum juga keluar?" tanya pak will


"belum ada dad, belum ada satu orang pun yang keluar dari ruangan ini" jawab rayyan


"dek apa kau melihat kakakmu sebelum dia di bawa masuk ke ruangan itu? Apa keadaan kakakmu parah?" tanya bu bianca yang juga tiada henti hentinya mengeluarkan air mata


"iya mom, hanya ada luka luka ringan di tubuhnya" dusta rayyan


Ia sengaja berbohong agar kedua wanita itu tidak syok.


Tidak lama kemudian seorang dokter pria keluar dari ruangan itu, ia menatap 4 orang yang berdiri didepan pintu sambil menghela nafasnya dalam dalam.


"dokter bagimana keadaan anak saya?" tanya pak william


Dokter itu menatap pengusaha tersukses di depannya, ia memang sudah mengenali siapa pasien yang ia tangani didalam, jadi tentu saja ia tidak asing lagi dengan keluarga richard terlebih lagi keluarga terpandang ini merupakan salah satu penanam saham dirumah sakit tempatnya bekerja itu.


"tuan mari kita bicara diruangan saya, ada beberapa hal yang bersifat pribadi" ucap dokter tersebut


"baiklah ayo" ucap pak william sambil memboyong seluruh keluarganya


sesampainya diruangan dokter andreuw, mereka dipersilahkan duduk untuk mendengarkan penjelasan dari dokter yang menangani zayyan itu.


"pasien saat ini mengalami kritis, terjadi benturan keras di bagian kepala saat kecelakaan itu terjadi sehingga menyebabkan rusaknya fungsi otak, maka tidak menutup kemungkinan jika pasien akan mengalami amnesia atau kehilangan ingatannya" terang dokter tersebut


Ziva dan bu bianca kembali mencucurkan air mata mendengar kenyataan tersebut, hilang ingatan? Tentu saja ini adalah hal yang paling menyakitkan bagi mereka dan bagi zayyan sendiri.


"dokter apa bisa sembuh? Apa ingatannya bisa kembali?" tanya rayyan


"bagaimana dengan luka luka dok? apa anak saya memiliki luka yang serius?" tanya pak will


"ya tuan lengan kanan pasien ada tulang yang sedikit bergeser jadi kami gunakan metode gips untuk mengantisipasi patah tulang, dan ada juga beberapa luka yang tergolong cukup ringan dibagian wajah dan kaki, itu saja tuan" jelas dokter tersebut


"dokter kapan anak saya akan sadar?" tanya bu bianca


"kami akan terus memantau kondisi pasien nyonya, jika pasien bisa melewati masa kritisnya maka secepatnya ia akan sadar" ucap dokter tersebut


"apa kami bisa melihatnya?" tanya ziva


"tentu saja nyonya, pasien mungkin saat ini akan dipindahkan ke ruangan rawatnya silahkan keluarga bisa menjenguk pasien kapan saja dan jika ada pergerakan dari pasien segera panggil saya atau perawat yang ada ditempat" jawab dokter andreuw


"baiklah dokter terima kasih" tutur pak will


Setelah keluar dari ruangan dokter andreuw, mereka berempat langsung menuju ruang rawat zayyan yang telah diberitahu oleh seorang perawat.


Ziva menatap wajah tampan suaminya yang sedang tidur dengan tenang sangat tenang, air matanya meluncur begitu saja tanpa permisi, ziva mengecup kening suaminya yang dibalut oleh perban sebab terdapat luka ringan disana. Ia juga mengelus tangan suaminya yang telah dipakaikan gips.


"lekaslah sembuh suamiku" ucap ziva dengan lirih


Rayyan mengelus pundaknya sebagai tanda bahwa ia harus tenang dan tabah menghadapi musibah ini.


Ziva hanya menganggukkan kepalanya pada rayyan sembari menghapus air matanya.


Hingga malam hari ziva masih setia duduk disamping ranjang dimana suaminya terbaring saat ini, bu bianca dan pak wil yang duduk disofa hanya bisa melihat menantunya itu dengan tatapan pilu.


"diner time" seru rayyan memasuki ruangan rawat zayyan sambil menenteng paper bag berisi makanan


"biar mommy yang siapkan" bu bianca mengambil alih makanan makanan itu dari tangan anaknya untuk di hidangkan diatas meja


Pak william bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati menantunya.


"nak ayo kita makan sebentar" ajak pak william


"thanks dad, tapi aku tidak berselera" tolak ziva dengan halus


"makanlah barang sedikit nak, kau belum makan apa apa sejak siang tadi" ucap pak william tetapi ziva hanya menggeleng bahkan kembali meneteskan air matanya


"Dad, kau makanlah dulu" ucap rayyan dengan mengisyaratkan dengan matanya untuk menyerahkan urusan ziva kepadanya.


pak william mengelus rambut panjang ziva dan meninggalkannya menuju meja makan