My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Malam pertama yang sesungguhnya



Ia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan dirinya disana, ia juga melepas beberapa kancing kamejanya entah kenapa AC dikamar ini terasa tidak berfungsi hingga ia merasa sangat gerah dikamar ini.


"kenapa? Kau menghindariku sampai kau harus duduk disana?" tanya ziva


"sayang jangan membuatku kesal" ucap zayyan memperingati


"jadi aku harus memanggilmu apa?" tanya ziva mengalihkan pembicaraan


"apa saja yang penting kau nyaman" ucap zayyan dengan wajah datarnya


"oke kalau begitu aku panggil namamu saja, zayyan" ucap ziva


"itu jelek" ucap zayyan masib dengan datarnya


"oh jadi namamu jelek?" tanya ziva


"ya jelek jika kau yang menyebutnya" ucap zayyan


"ish mana ada begitu" ucap ziva mengerucutkan bibirnya


"jadi aku harus memanggilmu apa hum? siapa tau kau mau request panggilan yang cocok untukmu" tanya ziva


"terserah padamu" jawab zayyan malas


"hmm aku jadi bingung aku harus memanggilmu apa saat aku mendesah nanti" ucap ziva sengaja menggoda zayyan


"hey apa maksudmu?" sentak zayyan


"aku benar bukan, malam ini malam pertama kita kan? dan pastinya ruangan ini akan penuh dengan ******* kita berdua" ucap ziva mengedipkan sebelah matanya


zayyan tidak bergeming, ia tetap duduk disofa dan menatap ziva dari sana. jangan sampai ia di prank lagi oleh istrinya itu.


"tapi kelihatan kau tidak bergairah jadi sudahlah" ucap ziva melihat zayyan tidak bereaksi


Akhirnya ziva merebahkan tubuhnya diranjang dengan posisi telungkup dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Sebenarnya ia tahu bahwa suaminya itu marah karena kata katanya jadi ia memutuskan untuk tidak menunda lagi malam pertama mereka, ia siap untuk melakukannya karena itu adalah hak suaminya.


Dan alasan yang sebetulnya mengapa ia menunda malam pertamanya bukan takut kehilangan kesuciannya namun ia takut jika apa yang dikatakan kakaknya benar bahwa melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali akan menyakitkan bahkan akan kesulitan berjalan esoknya, ia memikirkan bagaimana besok ia pulang kerumah mertuanya sementara ia kesusahan berjalan jika semua melihatnya seperti itu pasti ia akan di bully habis-habisan.


"sayang apa kau serius dengan kata katamu tadi?" tanya zayyan yang telah menghampiri istrinya diatas ranjang


"jadi kau pikir aku bercanda" ucap ziva tanpa mengubah posisinya


"hey sayang ayo buka selimutnya" ucap zayyan, ia berusaha menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya itu namun ziva menahannya dengan erat


"sial kenapa aku menyianyiakan kesempatan emas" gerutu zayyan


Ia melihat dengan sangat frustasi istrinya yang masih nyaman berada didalam selimut, namun sepertinya tuhan sedang berpihak padanya, ziva tiba tiba menyibak selimutnya dia pikir zayyan sudah pergi dari sana, dan langsung saja zayyan menangkap kedua lengan ziva lalu menindih istrinya.


"kena kau" pekik zayyan saat ia berhasil menangkap kedua lengan ziva lalu menindih tubuh istrinya


"oh yaampun sial" maki ziva dalam hati, ia tertangkap oleh suaminya


"oke kita mulai dengan baik baik" ucap ziva memohon agar tangannya dilepas


"tapi jangan menipuku lagi" ucap zayyan curiga


"no my husband, iam promise" ucap ziva menyakinkan


"oke fine" zayyan melepas tangan ziva namun ia tetap melingkarkan tangannya dipinggang ziva


"this?" ziva menunjuk lengan yang masih melingkar dipinggangnya


"aku ingin memelukmu" ucap zayyan


"yayaya terserah padamu saja" ucap ziva jengah


"no no, call me my husband" ucap zayyan


"what? Apa tidak ada nama panggilan yang lain" pekik ziva


"tidak ada, suaramu terdengar sangat seksi jika memanggilku suamiku" ucap zayyan membelai rambut ziva yang menutupi lehernya


"dan aku ingin kau memanggiku seperti itu kapanpun dan dimanapun" tambah zayyan


"fine" sangat malas berdebat dengan suaminya itu


"no no no, aku juga ingin kau selalu menyertakan kata suamiku disetiap kalimat yang kau ucapkan sayangku" ucap zayyan


"sesuai permintaanmu suamiku tersayang" ucap ziva dengan nada kesal


"good" zayyan langsung mengecup bibir ziva


"itu hadiah untukmu istriku yang penurut" tambah zayyan


Ziva terpaku karena mendapat serangan mendadak, ia memejamkan matanya untuk menetralkan jatungnya yang berdegup kencang namun zayyan ternyata salah mengartikan hal tersebut ia langsung menindih ziva dan membungkamnya dengan ciuman.


ciuman yang semakin lama semakin menuntut, ziva dan zayyan mulai melepaskan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuh mereka. zayyan melakukannya dengan tenang tanpa tergesa gesa, ziva pun menyerahkan dirinya tanpa paksaan, dapat terdengar suara suara seksi ziva yang keluar dari bibirny menandakan betapa mereka menikmati malam pertama ini.