
"bagaimana keadaanmu kak?" tanya rayyan
sesudah makan, rayyan menyuruh ziva untuk istirahat karena ia sudah hampir seharian menjaga dan mengurusi suami amnesianya, jadi rayyan berjanji akan menggantikannya untuk menjaga zayyan.
"seperti yang kau lihat" jawab zayyan ketus
Zayyan mamang belum begitu yakin pada orang yang mengaku sebagai keluarganya itu tapi berbeda pada pria didepannya ini, wajah mereka yang cukup mirip membuat zayyan menaruh kepercayaan jika ia memang punya hubungan darah dengan pria ini.
Rayyan menatap sinis kakaknya itu karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan zayyan.
"istirahat lah" ucap rayyan dengan malas
"setelah kau pergi baru akan tidur dengan tenang" ucap zayyan mengandung sindiran
"ohaha maaf tapi setiap malam aku selalu menginap disini" jawab rayyan dengan sewot
"menginap? untuk apa? ada banyak perawat disini dan ada dia juga, aku rasa sudah cukup" ucap zayyan tidak kalah ketus
"perlu kau ketahui, aku disini bukan untuk menjagamu, tapi untuk memastikan dia baik baik saja" ucap rayyan sembari menunjuk ziva dengan kode matanya
Zayyan sejenak menatap wanita yang sedang tidur diranjang yang terletak disebelah ranjangnya. kecurigaannya semakin kuat, jika wanita itu benar benar istrinya lalu mengapa pria lain mengkhawatirkannya, bahkan bukan hanya khawatir perlu digaris bawahi pria yang yang wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan wajahnya itu juga perhatian ada istrinya.
"Ck, kepalaku jadi pening lebih baik aku istirahat" ucap zayyan pelan lalu ia memejamkan matanya
Melihat sang kakak sudah istirahat rayyan pun berjalan ke arah sofa empuk yang selalu ia jadikan sebagai ranjangnya, ia mengotak atik ponselnya, ia merasa bimbang haruskah ia menghubungi wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Semakin dekat menuju pernikahan hubungan mereka malah semakin dingin.
Karena terlalu banyak berfikir, jari jemari rayyan dengan tidak sengaja menekan salah satu ikon diponsel rayyan, alhasil panggilan itupun masuk ke ponsel vanya.
"ada apa?" jawab vanya dengan malas
"oh rayyan bodohnya kau, panggilan telah tersambung" rutuk rayyan pada dirinya sendiri
"jika tidak ada yang ingin kau katakan akan aku matikan" lanjut vanya dengan sopan dan santun
"Ck, kau itu kenapa?" akhirnya rayyan buka suara
"kenapa kau menghindariku? apa sebegitu tidak maunya kau menikah denganku?" lanjut rayyan
"hehe, tentu saja dari awal kan sudah aku katakan untuk menolak keras perjodohan sialan ini, tapi kau? dengan percaya dirinya kau menyetujui hal besar seperti itu secara sepihak" ucap vanya dengan nada naik satu oktaf dari seberang sana
"apa dayaku zivanya olivia smith?" ucap rayyan bak kesulitan
"kau sangat berdaya tuan, sangat punya daya untuk menolak keras rencana bodoh dari orang tua kita ini" vanya benar benar naik pitam dibuat oleh rayyan
"aku tidak tega untuk mengecewakan mommyku vanya" ucap rayyan dengan lelah, letih dan lesu
"ck, alasanmu brensek" vanya langsung memutus sambungan telepon itu
"angel semua ini gara gara kau, coba saja kau bisa menahan dirimu didepan mommy aku pasti tidak akan terjebak dengan perjodohan konyol ini" batin rayyan
Keesokan harinya, bu bianca dan pak william datng pagi pagi sekali dikarenakan sang putra yang sudah siuman jadi mereka dengan semangat datang ke rumah sakit lebih awal dengan membawa banyak makanan.
"oh my god adek sudah jam 7 kau belum bangun juga" pekik bu bianca saat mendapati rayyan masih bergelung dengan selimut disofa empuk itu
"five minute" ucap rayyan sembari menutup wajahnya dengan bantal sofa
Bu bianca hanya bisa menggeleng melihat putra bungsunya itu, lalu mereka berjalan mendekati ranjang zayyan. Terlihat putranya itu sudah bisa duduk bersandar disandaran ranjangnya tidak lagi seperti kemarin yang terus terusan berbaring.
"bagaimana keadaanmu nak?" tanya pak will
"hmm cukup baik" jawab zayyab dengan wajah datarnya
"nak, ini adalah daddymu" ucap bu bianca
"oh" sahut zayyan
"dimana ziva?" tanya bu bianca karena ia tidak melihat menantunya sedari tadi
"ada di..." ucapan zayyan terhenti ketika pintu kamar mandi telah dibuka dari dalam
"mom kalian sudah sampai?" ucap ziva heran pasalnya kedua mertuanya itu tidak biasanya datang sepagi ini bahkan saat mereka semua baru saja bangun
"pelan pelan sayang, disana pasti licin" ucap bu bianca dengan cemas
"gara gara mommy mu ini daddy harus mandi jam 6 pagi, kau bisa bayangkan seperti apa dinginya" curhat pak will yang langsung mengundang tawa ziva
"apa daddy sudah baikan?" tanya ziva dengan khawatir
"daddy sudah baik baik saja nak" jawab pak will
Ziva mengangguk lalu melirik beberapa paperbag yang ada dimeja. Melihat tatapan ziva bu bianca lalu mengajak ziva untuk menata sarapan yang ia buat dari rumah.
"ayo sayang kita hidangkan ini, mommy bawa banyak sarapan untuk kita" ucap bi bianca sembari menenteng beberapa paper bag itu
Setelah itu, ziva membawakan makanan untuk suaminya, sedangkan yang lainnya sudah memulai sarapam mereka.
"kau suka ini?" tanya ziva sembari menyodorkan bubur ayam full topping dihadapan zayyan
Dulu zayyan sangat menyukai makanan itu, setiap ia kurang enak badan atau terkadang saat sarapan zayyan sering meminta dibuatkan bubur ayam dengan topping yang banyak. Ziva ingin lihat reaksi zayyan saat melihat makanan kesukaannya dulu.
Dan benar saja zayyan langsung mengangguk serta membuka mulutnya agar ziva segera menyuapinya, melihat itu senyum ziva mengembang dengan lebar. Ternyata hanya ingatannya saja yang hilang tapi kebiasaannya masih tetap sama.