
"baik pak saya undur diri" defri lalu keluar dari ruangan zayyan dan menuju ruangan operator CCTV.
Defri lebih memeriksa CCTV diparkiran kantor, alangkah terkejutnya saat tau yang mengendarai mobil nona zivani adalah rekan kerja bosnya yang baru saja pergi. Tidak pakai lama defri segera mengirimkan salinan rekaman CCTV yang ia temukan itu pada zayyan
Tring...
terdengar bunyi notifikasi diponsel zayyan, dan ia membukanya.
"Bajingan" marah zayyan.
Sungguh zayyan tidak habis fikir bagaimana bisa Syaquel Fernando mengendarai mobil ziva, ada hubungan apa diantara keduanya, apa mereka saudara sepupu ataukah yang lainnya? ziva juga seharian tidak memberinya kabar.
semua teka teki itu berputar-putar dikepalanya, karena sudah tidak tahan memikirkan sendiri lebih baik ia menelfon ziva dan menanyakan langsung
"halo kak" suara ziva dari seberang sana
"ziva kau dimana?" tanya zayyan dingin
"dikampus kak" jawab ziva
"bisa kita bertemu?" tanya zayyan
"tidak bisa" ucap ziva singkat
"kenapa?" tanya zayyan heran
"aku sibuk, sebentar lagi aku ada kelas" ucap ziva kesal
"kau menghindariku ziva?" ucap zayyan setengah teriak
"hei kenapa kau teriak" ucap ziva tidak kalah ketus
"aku ingin bertemu sekarang juga aku ke kampusmu" ucap zayyan lalu memutus sambungan telfonnya
Ia lalu bersiap ke kampus ziva, jika ia menahannya ia bisa frustasi.
"bicaralah dengan tenang zayyan, kalau kau emosi itu akan merusak hubunganmu dengan ziva" nasihat zayyan pada dirinya sendiri
"def aku keluar sebentar kau heandle untuk sementara" ucap zayyan dengan langkah lebar
"baik pak" ucap defri patuh.
Dikampus ziva tepatnya saat ini ia sedang dikantin, ziva menggerutu setelah menerima telfon dari zayyan ia pun sudah tidak mood lagi untuk makan siang
"kok nggak dimakan lagi?" tanya jini salah satu teman ziva saat melihat ziva mendorong piringnya ke depan
"nggak mood" jawab ziva
"kenapa dia marah? Kan seharusnya aku yang marah? Ish nyebelin" oceh ziva dalam hati
ziva larut dalam pikirannya sendiri, tanpa ia sadari tangannya sudah ditarik seseorang
"hei lepaskan" teriak ziva yang belum menyadari bahwa pria itu adalah kekasihnya.
"diamlah ziva" ucap zayyan sambil terus berjalan
Ziva akhirnya berhenti berontak saat tau pria itu zayyan, ia pun menurut kemana zayyan akan membawanya.
"masuk"perintah zayyan pada ziva lalu membukakan pintu mobilnya
"aku nggak mau" bantah ziva
"ayolah" ucap zayyan merasa lelah berdebat dengan ziva
"aku ada kelas sebentar lagi" bantah ziva lagi
dengan menatap sinis zayyan ia akhirnya masuk juga kedalam mobil zayyan..
zayyan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. lalu zayyan menepikan mobilnya dijalanan yang cukup sunyi.
"aku ingin bertanya sesuatu" ucap zayyan dengan dingin
"ya cepatlah" sahut ziva
"bisa kau jelaskan tentang syaquel Exel Fernando? Kau pasti mengenalnya kan?"tanya zayyan serius dengan membenarkan posisi duduknya menghadap ziva
"ah ya Syaquel aku kenal, tapi tidak begitu saling mengenal" jawab ziva santai
"what? Kau kenal? Dia kerabatmu atau temanmu?" tanya zayyan beruntun
"no, kita baru saja berkenalan setelah insiden tadi pagi" jawab ziva
"insiden? Insiden apa? dan kalau baru saja kenal bagaimana mobilmu bisa ada padanya?" cecar zayyan
"hmm biar kuceritakan, tadi pagi aku tidak sengaja menabrak mobilnya dari belakang sedangkan ia buru-buru untuk meeting jadilah aku meminjamkan mobilku untuk ia pakai sebagai tanggung jawabku selama mobilnya masih rusak dan selesai diperbaiki" jelas ziva
"kau tidak apa-apa kan? Apa ada luka? Kenapa kau menyetir sendiri? Tidak menghubungiku? Aku bisa menjemputmu" ucap zayyan bertubi-tubi
"iam fine" ucap ziva singkat
seketika zayyan merasa bersalah karena ia tidak mengantar ziva kekampus malah mengantarkan silvi kekantor.
"ziva maafkan aku sayang" zayyan tiba-tiba saja memeluk ziva menyalurkan rasa bersalah yang menguasai hatinya
"tidak masalah kak" ziva mencoba melepaskan pelukan zayyan
"kau marah? Ya aku memang salah wajar kalau kau marah" ucap zayyan pasrah
"aku nggak marah kak, lagi pula apa untungnya" ucap ziva berusaha menutupi sakit hatinya
"dimana kau membawa mobil syaquel? Aku akan mengurusnya supaya urusanmu cepat kelar?" tanya zayyan
"aku nggak tau, karena aku minta tolong ke kak vanya jadi kak vanya yang mengurus masalah itu" jawab ziva
Tiba-tiba saja ponsel ziva berdering, menandakan panggilan masuk tetapi dari nomor yang tak dikenal, karena ziva juga zayyan penasaran akhirnya ziva menjawabnya.
"halo" ucap ziva
"siang zivani, ini aku syaquel" ucap syaquel dari seberang sana
"ah ya syaquel, ada apa ya?" ucap zivan, yang sontak membuat zayyan memanas
"aku ingin bertanya soal mobil, apa sudah?" tanya syaquel
"saya cek dulu ya, karena sekarang saya masih dikampus tetapi saya akan hubungi orang teknisi yang menangani setelah itu saya akan beritahu anda nanti" ucap ziva
"oh iya, saya hanya bertanya saja tidak masalh kalau belum selesai, kalau kau butuh mobilmu kau bisa menjempunya dikantorku sekarang, aku bisa diantar jemput asistenku" ucap syaquel ramah
"tidak usah syaquel, saya bisa naik taksi kemana-mana pakailah dulu tidak masalah" ucap ziva menambah emosi zayyan karena ziva memanggil syaquel tanpa embel-embel kak atau pak
"yasudah save nomorku, sewaktu-waktu kau perlu kau bisa menghubungiku" pinta syaquel
"iya akan ku simpan" ucap ziva dengan tersenyum sendiri
"ehemmm" zayyan berdehem sambil melonggarkan dasinya agar ziva sadar ada dirinya disitu
"zivani sudah dulu ya aku mau lanjut bekerja" pamit syaquel
"iya, bye" ucap ziva mengakhiri panggilan