My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Semua butuh waktu



Rayyan mengunyah makanannya dengan santai tanpa memperdulikan tatapan tajam vanya, apapun konsekuensinya rayyan tetap akan menikahi vanya.


"ray, jadi bagaimana kepastiannya?" desak bu bianca


"kami pasti akan menikah dalam waktu dekat ini mom" jawab rayyan


Ziva dapat merasakan sesuatu yang tidak biasa diantara hubungan vanya rayyan, ia merasa harus bicara empat mata dengan saudarinya itu.


"Dad, aku menutuskan untuk kembali bekerja mulai besok" ucap zayyan memecah keheningan


"benarkah? Apa kau sudah merasa lebih baik nak?" sambar bu bianca


"ya mom hari ini ziva memberiku vitamin yang membuat tubuhku segar bugar jadi aku memutuskan untuk bekerja kembali" ucap zayyan membuat ziva melotot


Dibawa meja ziva menendang kaki suaminya hingga membuat zayyan meringis, bisa bisanya dia menyinggung hal memalukan itu didepan semua orang.


"aww ziva" zayyan meringis kesakitan


"ada apa nak?" tanya bu bianca khawatir


"tidak apa apa mom, kakinya hanya terbentur kaki kursi tadi, iya kan suamiku?" jawab ziva


"i..iya mom" jawab zayyan dengan senyum kakunya


"baiklah zayyan kalau begitu setelah makan ikutlah daddy ke ruang kerja, ada beberapa hal yang harus daddy jelaskan padamu" pinta pak william


"tentu saja dad" jawab zayyan


"ngomong ngomong dad, claree belum pulang mommy jadi khawatir" ucap bu bianca


Zivanya mengerutkan keningnya, claree? Seperti nama perempuan, tapi siapa dia? Apa bagian dari keluarga richard? Tapi rayyan dan ziva tidak cerita soal wanita bernama claree ini, mungkin nanti saja ia akan tanyakan pada ziva, Pikir vanya.


"dia sedang ada pemotretan didaerah pantai indah kapuk, dia juga sudah bilang padaku kalau akan pulang larut malam" jelas zayyan


Ziva menoleh pada suaminya, zayyan ternyata yang sangat tahu tentang claree lebih dari yang ziva ketahui.


"baiklah jika begitu, nanti mommy akan menghubunginya" ucap bu bianca


"ayo dad aku sudah selesai" ajak zayyan dan dinggangguki oleh pak william


"kak bisa kita bicara sebentar?" tanya ziva


"tentu saja ziva" jawab vanya


"dikamarku saja kak" ajak ziva pada vanya


Satu persatu mulai meninggalkan ruang makan itu tersisa rayyan dan bu bianca disana.


Dikamar ziva dan zayyan, vanya dan adiknya ziva saling melempar tatapan tajam dan mengintimidasi.


"to the point saja ziva" vanya memecah keheningan


"kau kenapa kak? Sepertinya kau sangat enggan menikahi saudara iparku?" ziva mulai menginterogasi saudarinya


"ya itu benar" jawab vanya padat singakat dan jelas


"aku harus tahu alasannya" sahut ziva cepat


"tidak ada yang perlu kau ketahui ziva" bungkam vanya


Ziva melirik kakak keduanya yang memiliki kepribadian sangat berbeda diantara mereka bertiga.


"tapi kau harus tahu satu hal kak, kau dan ray sudah bertunangan juga tanggal pernikahannya sudah ditetapkan hanya saja kalian selalu mengulur ulur waktu, jangan hanya karena egomu kau mempermalukan kedua keluarga ini" tekan ziva


"hm" vanya berdehem menanggapi ucapan adiknya.


"kak kau juga harus tahu kalau kekasihmu itu punya selingkuhan, dan wanita itu bekerja satu tim dengannya" ucap ziva


"aku sudah tahu itu ziva" sahut vanya sendu


"lalu kenapa kau tidak segera memutuskan hubungan kalian lalu menikah dengan rayyan?" tanya ziva


"semua butuh waktu" jawab vanya


"kak kau jangan mau dibodohi dokter sialan itu" gerutu ziva


Setelah pembicaraan panjang antara kedua saudari itu, vanya memutuskan untuk pulang dengan diantar oleh rayyan tentunya.


"apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya rayyan kepo


"ck, jangan kepo fokus saja menyetir" ketus vanya


"oh baiklah, tadi aku sudah beritahu mommy kalau lusa kita akan menikah" ancam rayyan


"kau ini apa apaan rayyan? Kau tidak bisa memutuskan segala sesuatu dengan sepihak saja, aku tidak setuju dan aku tidak mau menikah secepat itu" serang vanya


Ya, vanya memang selalu menolak perjodohan ini sebab hatinya masih milik kekasihnya yaitu dokter andrew, namun jika memang semesta menakdirkan rayyan menjadi jodohnya maka ia harus memantapkan hatinya dulu baru ia akan setuju menikah, sebab ia tidak ingin menodai sucinya sebuah pernikahan.


"kalau begitu katakan apa yang kalian bicarakan tadi berdua?" tanya rayyan lagi


"tapi kau harus membatalkan rencana konyolmu tadi" syarat vanya


"itu mudah saja" ucap rayyan enteng, sebab memang yang ia katakan tadi hanya untuk mengancam vanya saja.


"ziva mengatakan kalau dia melihat andrew berselingkuh" ucap vanya-


"benarkan? sudah aku bilang aku tidak membohongimu ziva saja melihatnya, sekarang kau masih tidak percaya pada kami?" tanya rayyan


"tetap saja rayyan, aku baru akan percaya jika aku melihatnya sendiri" jawab vanya


"oh yaampun kau ini luarnya saja galak ternyata dalamnya bucin" geram rayyan


"ck, diam kau, yang penting tidak seperti kau playboy akut" balas vanya


Dan seperti biasa perjalanan mereka selalu diwarnai dengan perdebatan sengit antara kedua penghuni mobil itu.


saat zayyan hendak menapaki anak tangga, pendengaran zayyan menangkap suara grusak grusuk dari arah pintu. ia kemudian mengedarkan pandangannya, ia dapat melihat salah seorang ART membukakan pintu untuk seorang wanita.


"claree" panggil zayyan saat claree berjalan mendekatinya


"zayyan kau belum tidur? Ini kan sudah larut malam" tanya claree


"aku baru saja dari ruang kerja, kau baru pulang selarut ini?" zayyan pun melempar pertanyaan pada claree


"iya zay" jawab claree singkat sebab ia cukup kerepotan dengan tas yang ia tenteng


"biar aku bantu" zayyan mengambil alih dua tas yang sedang ditenteng oleh claree


"thank you zay" ucap claree


sampai didepan pintu kamar claree zayyan menghentikan langkahnya lalu meletakkan tas milik claree di lantai.


"aku taruh disini ya claree" ucap zayyan meletakkan tas itu dengan hati hati


"istirahatlah, sweet dreams" lanjutnya lalu meninggalkan claree dikamar itu.


Claree tersenyum licik, ia sangat yakin bahwa zayyan masih memiliki perasaan terhadapnya terbukti dengan perhatian yang diberikan oleh zayyan padanya.


Zayyan melangkah menuju kamarnya, dilihatlah sang pemilik hati sudah terlelap dibawah selimut, ia pun ikut merebahkan dirinya disana.


keesokan harinya..


Hari ini semua orang kembali beraktivitas seperti biasanya, termasuk dengan zayyan ia akan kembali bekerja memimpin perusahaan yang hampir sebulan ia tinggalkan.


"selesai" ucap ziva setelah memasangkan dasi untuk suaminya.


"terimakasih" zayyan menahan tekuk istrinya agar dapat memberikan kecupannya dibbir ziva.


Ziva cukup terkejut menerima ciuman itu, bukan karena ciumannya namun karena zayyan dapat mengingat kebiasaan yang selalu dilakukan oleh suaminya selepas ia memasangkan dasi.


"itu hadiah untukmu" lanjutnya setelah ciuman itu berakhir


Ziva kembali mengikis jarak dengan memeluk tubuh kekar didepannya itu.


"aku sangat senang dengan hadiahmu kali ini" ucap ziva dengan menenggelamkan wajahnya didada bidang milik suaminya


"bukannya kau mendapatkannya setiap hari setelah memasangkan dasiku?" tanya zayyan


"iya, aku senang karena hari ini kau bisa mengingat kebiasaanmu itu" jawab ziva


"listen to me, aku baik baik saja dan aku pasti akan segera mengingat semuanya dengan jelas" ucap zayyan


Ziva mengangguk dan tersenyum pada suaminya.


"ayo, pasti si defri itu sudah menunggu dibawah" ajak zayyan


"dia asistenmu" sahut ziva


"iya, daddy juga bilang begitu semalam" tutur zayyan


"kau duluan saja suamiku, aku ingin lihat nio dulu" ucap ziva


"baiklah jangan lama lama ya" ucap zayyan


"iya sayang" ucap ziva


Ziva memasuki kamar sang putra, ia melihat alya sedang menganti pakaian baby nio, wanita itu terlihat sangat telaten mengurus bayi tanpa banyak mengeluh ini dan itu.


"alya bagaimana? Apa ada masalah?" tanya ziva


"aman nyonya" jawab alya dengan senyum sumringah


"alya mulai sekarang jangan memanggilku seperti itu lagi, usiamu kelihatannya lebih dewasa dariku jadi aku ingin kau menganggap kita seperti dua orang sahabat, bagaimana?" ucap ziva


"aku merasa tidak sopan nyonya" sahut alya


"oh ayolah, aku justru merasa kurang nyaman dipanggil nyonya oleh mu" tolak ziva


"lalu aku harus memanggil nyonya apa?" tanya alya tidak enak


"panggil saja aku ziva, aku rasa itu jauh lebih akrab iya kan?" usul ziva


"tidak nyonya, aku tidak bisa" kali ini alya yang menolak


"hmmm, bagaimana kalau nona? Nona ziva aku rasa itu cukup pantas?" sambung alya


"baiklah terserah padamu, yang penting jangan memanggilku nyonya" ucap ziva dengan berat hati


"alya aku ingin turun sebentar untuk sarapan, kau juga bisa turun kebawah kalau tidak setelah suamiku kekantor aku akan segera kembali dan membawakanmu sarapan ya" tambah ziva


"tidak usah nona, aku akan makan didapur bersama bi ani dan bi isa saja" ucap alya


"sudahlah, jika aku bertanya padamu pasti kau akan menolak, jadi lebih baik aku bawakan saja langsung" ucap ziva


"hey sayangku, wah kau tampan sekali" puji ziva pada putranya


Ziva melangkah kan kakinya menuju ruang makan dimana disana sudah ada defri yang datang untuk menjemput suaminya namun seperti biasa dia akan dipaksa sarapan bersama oleh mertuanya.


"selamat pagi nyonya" sapa defri padanya


"ish pak def sudah aku bilang jangan memanggilku nyonya" ucap ziva kesal


Sedangkan yang lainnya hanya akan tertawa saat ziva dibuat kesal oleh defri asisten zayyan, terkecuali claree karena hanya ia lah yang memasang raut wajah datar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Visual A'a defri