
Alhasil terjadilah pergumulan panas didalam sana, zayyan berhasil menggempur istrinya walau hanya 1 ronde namun mereka sama sama terpuaskan dan juga mengingat posisi mereka yang masih berada dikantor.
setelah mengenakan lagi pakaiannya dan merapikan penampilannya, ziva langsung pamit pulang sebelum ia diterkam lagi oleh suaminya yang mesum itu
"kenapa tidak membawa supir sayang?" tanya zayyan saat ziva sedang memasangkan kembali dasinya
"aku bisa menyetir kenapa harus merepotkan orang lain" jawab ziva
"itu tugas mereka sayang" ucap zayyan
"oke selesai" ucap ziva saat ia telah berhasil memasangkan lagi dasi untuk suaminya
"aku pulang dulu ya, aku takut kau akan menerkamku lagi jadi aku tidak mau berlama lama disini" ucap ziva sembari mengambil tasnya
"hahaha.. Tapi kau suka kan?" goda zayyan
"apa sih" ziva mencubit perut zayyan hingga suaminya itu meringis
"ayo aku antar sampai bawah" ucap zayyan
Setelah mengantarkan istrinya zayyan kembali melanjutkan pekerjaannya hingga pukul 5 sore ia menghentikan kegiatannya karena ia harus segera pulang menikmati waktu bersama istri dan keluarganya dirumah.
.
.
.
setelah melewati hari harinya dirumah ibu mertua akhirnya ia memutuskan untuk come back ke butik tercintanya, kemarin kemarin pekerjaannya memang cukup menumpuk, namun tidak dengan hari ini setelah berhasil menyelesaikan perkerjaannya yang cukup menenggunung akhirnya ia bisa menghirup udara dengan santai tanpa harus berkutat dengan banyaknya kertas dan komputer dihadapannya.
Kegiatan ziva hari ini hanya melihat lihat stok koleksi pakain yang masih terpajang dibutiknya itu tiba tiba ponselnya berbunyi dan ternyata silvi yang menghubunginya.
"halo kak" ucap ziva setelah menjawab panggilan itu
"hai dek, apa kau sibuk?" tanya silvi diseberang sana
"ah tidak kak, hari ini sangat santai" ucap ziva
"itu bagus, maukah kau menemaniku?" tanya silvi
"memangnya kakak ingin kemana?" ziva bertanya balik
"aku ingin ke mall, dirumah sangat membosankan" ucap silvi
"oke baiklah bumil cantik, aku akan menjemputmu" ucap ziva
"aku menunggumu princess, see you" silvi sangat senang dan mematikan sambungan telepon itu
"greis aku ingin keluar sebentar dengan kakakku, tolong kau heandle boleh kan?" tanya ziva pada tangan kanannya itu
"tentu kak" ucap greis dengan patuh
"good, hmm sepertinya aku akan menaikkan gajimu" ucap ziva sambil mengambil tasnya
"aku tidak keberatan kak" canda greis diiringi gelak tawa keduanya
Ziva mengendarai mobilnya menuju kediaman keluarga smith, sesampainya disana ia mampir untuk melihat kondisi ayahnya namun sayang ternyata ayahnya sedang ke kantor bersama bundanya yang kini telah dipercaya memimpin perusahaan keluarga, akhirnya ziva dan silvi pun langsung bergegas menuju mall terbesar dikota itu.
Sesampainya disana, sebagai seorang wanita tentu mereka berbelanja sesuai keinginan mereka, seketika pandangan silvi teralihkan pada toko yang menjual berbagai keperluan baby langsung saja silvi menarik ziva yang sedang melihat lihat koleksi anting ditoko perhiasan untuk berpindah ke toko khusus baby.
"ziva lihat ini sangat lucu" ucap silvi sembari memperlihatkan sebuah jumper berwarna pink yang tentu saja itu untuk baby perempuan
"oh my god, is so cute" ziva juga tidak kalah hebohnya melihat pakaian itu
"aku ingin membelinya" ucap silvi sembari melihat lihat lagi pakaian yang lainnya
"tapi kak memangnya kakak sudah yakin kalau baby nya perempuan?" tanya ziva
"belum sih" ucap silvi sambil mengerucutkan bibirnya
"sebaiknya kakak harus mengetahui jenis kelamin baby nya dulu" saran ziva
"kau benar dek, tapi hari ini aku akan tetap membeli baju ini apapun yang terjadi" putus silvi karena ia tidak dapat lagi melepaskan pakaian bayi saking lucunya
"yaya terserah padamu saja kak" ziva dan silvi kembali melihat lihat pakaian baby yang lainnya
"ziva apa ini bag..." ucapan silvi terhenti saat melihat orang yang berdiri diluar toko itu dan pria itu sedang menatap kearahnya
Karena ziva heran dengan kakaknya yang nampak bengong ziva lalu mengikuti pandangan silvi yang ternyata sedang beradu pandang dengan pria diluar sana.
"oh betapa sialnya hari ini kak hingga kita harus bertemu dengan orang itu" ucap ziva dengan keras
"dek" silvi langsung menyenggol lengan ziva agar tidak berbicara demikian
Syaquel lalu melangkah mendekati kedua wanita itu, jika ditanya apakah ia mendengar perkataan ziva tentu ya namun ia memilih untuk tidak menganggapnya serius
"nyonya richard senang bisa bertemu denganmu disini" ucap syaquel menyapa ziva
ziva hanya membalasnya dengan tersenyum sinis pada syaquel. Entah mengapa ia merasa sangat mendendam pria itu semenjak kakaknya dihamili namun tidak diakui oleh bajingan ini.
"sil aku ingin bicara sebentar apa boleh?" ucap syaquel dengan lembut membuat silvi sangat gugup
"tidak boleh" ziva lebih dulu membuka suara sebelum kakaknya mendahului
"aku tidak bertanya padamu nyonya richard" ketus syaquel
"hey kalau aku bilang tidak maka ...." ucapan ziva terpotong saat silvi menyentuh bahunya seakan mengisyaratkan dia untuk diam
"boleh tuan fernando, tapi sebaiknya kita mencari restoran supaya ngobrolnya enak" ucap silvi tidak kalah lembut
"kak" ucap ziva dengan khawatir namun lagi lagi silvi mengedipkan matanya sebagai isyarat agar adiknya tenang
"baiklah, kau ingin makan apa? Kita akan mencari restoran sesuai sengan seleramu" ucap syaquel penuh perhatian
"aku ingin ke restoran korea" ucap silvi lalu ia mengandeng tangan ziva yang nampak diam
"baiklah ayo" syaquel mempersilahkan kedua wanita itu berjalan dulu sedangkan ia berjalan dibelakang.