My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Yes, I like it



Malam ini seperti malam malam biasanya, sang pangeran Arsenio terus saja menangis, entah apa yang membuatnya rewel seperti itu.


"nyonya apa setiap malam dek nio rewel seperti ini?" tanya bi ani yang memang telah diminta oleh bu bianca untuk ikut membantu ziva mengurusi baby nio kesayangan semua orang.


"iya bi ani, nio memang selalu rewel dia akan berhenti dengan sendirinya lalu ia bisa tertidur" jawab ziva sambil menggendong baby nio


"aduh, apa perutnya kembung nyonya?" ucap bi ani


Ziva membaringkan baby bio lalu memeriksa jika perut putranya kembung


"tidak bi" ziva kembali menggendong putranya


Zayyan yang kamarnya bersebelahan dengan kamar baby nio dapat mendengar dengan jelas tangisan sang putra. Ia pun memutar knop pintu penghubung yang memang telah sengaja dibuat agar memudahkan ziva dalam mengurus putra mereka.


"ada apa ziva?" tanya zayyan


"dia memang selalu rewel seperti ini" jawab ziva cukup santai


"maaf jika mengganggu istirahatmu" lanjutnya


"tidak sama sekali" sahut zayyan


"jagoan ada apa denganmu hum?" zayyan membelai pipi mungil itu


"coba berikan padaku" zayyan ingin menggendong baby nio


"tanganmu sudah tidak sakit?" tanya ziva


"tidak, tenanglah" zayyan mulai mengambil alih baby nio dari tangan ziva


zayyan merasa sangat kagum dengan dirinya, walaupun baru anak pertama tapi zayyan sudah sangat lihai dalam menggendong bayi.


"wah keren kan aku" ucap zayyan dengan percaya diri dan hanya diangguki oleh ziva sambil tersenyum


"hey, jagoanku ada apa? Kenapa menangis begitu? lihat mommy mu dia sangat kelelahan, jadilah anak pintar agar mommy bisa istirahat oke" zayyan meletakkan tubuh munggil itu di dadanya


Perlahan lahan tangisan baby nio berhenti, dan nafasnya mulai beraturan yang berarti sang pangeran mulai terlelap.


Zayyan kemudian meletakkan putranya di box bayi nya. dengan bangga ia tersenyum pada ziva.


"aku berhasil menidurkannya" ucap zayyan sambil berbisik.


"terima kasih ya, kalau begitu kembalilah kekamarmu dan istirahat" ucap ziva memelankan suaranya


"dan kau?" tanya zayyan


"aku? kenapa?" jawab ziva heran


"kau mau tidur dimana?" tanya zayyan lagi


"aku akan tidur disini menemani nio" jawab ziva


"tidak bisa ziva" tolak zayyan


"tidak bisa? tapi kenapa?" ziva kembali bertanya heran


"aku.. Aku butuh bantuanmu sebentar saja" ucap zayyan dengan ragu


Ziva tersenyum misterius menanggapi apa yang diucapkan zayyan, terlebih lagi lelaki itu seperti malu malu


"oh baiklah, tunggu saja dikamarmu aku pasti akan datang" balas ziva sembari mengedipkan sebelah matanya


"ck, bocil sepertimu tidak cocok menggoda seorang pria" ketus zayyan lalu berlalu dari sana


"hey, aku bukan bocil lagi ya, kau tidak lihat aku sudah bisa melahirkan bocil" protes ziva


"pelankan suaramu atau nio akan terbangun" ucap zayyan pelan


Setelah kepergian suaminya, ziva kemudian membuka sebuah lemari yang kebetulan terisi sebagian pakaiannya, ia memilih pakaian yang sedikit terbuka.


"tidak dosa kan berpakaian sexy didepan suami sendiri?" gumam ziva


3menit kemudian ziva keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru dan tentunya yang sedikit terbuka.


"bi ani bisa aku titipkan nio sebentar, aku ingin menemui suamiku" pinta ziva


"silahkan nyonya, saya akan menjaga dek nio" ucap wanita yang kerap di sapa bi ani


"terimakasih bibi" ucap ziva


"jangan sungkan nyonya" sahutnya


ziva memutar knop pintu penghubung antara kamar mereka dan kamar sang putra, terlihat zayyan sedang memainkan ponsel barunya, ya ponsel zayyan hancur saat kecelakan alhasil zayyan harus mengganti ponselnya dengan yang baru.


"selamat malam suamiku" sapa ziva dengan sedikit menggoda


Zayyan mendongak, ia menatap ziva dari bawah keatas dan dari atas kebawah hingga beberapa kali, membuat ziva mengerutkan alisnya.


"ada apa?" tanya ziva heran dengan tatapan zayyan


"aku? Aku memakai baju memangnya kenapa?" tanya ziva balik


"itu bukan baju lebih tepatnya handuk" protes zayyan


Ya baju yang dipakai ziva saat ini memang tanpa lengan sehingga menampilkan baju mulusnya


"apa? Enak saja baju semahal ini dibilang handuk" ziva tidak terima


"lalu kenapa kau memakainya dimalam hari, kau bisa masuk angin" ucap zayyan


"kan ada kau yang menghangatkanku" goda ziva


"ada ada saja" zayyan menggeleng dan mengalihkan pandangannya dari ziva


"jadi apa yang kau butuhkan suamiku?" tanya ziva


"aku..hmm..bisakah kau memijitku sebentar, aku merasa pegal" zayyan memutar otaknya untuk bisa menemukan alasan ia meminta ziva ke kamar itu


"oh begitu, lepaskan pakaianmu aku akan ambilkan minyak untuk pijat" ucap ziva menuju meja nakas


"apa? maksudmu aku harus telanjang?" tanya zayyan


"jika kau ingin telanjang silahkan, akan lebih menyenangkan untukku" jawab ziva


"ck dasar mesum" gerutu zayyan


Zayyan menanggalkan kaus yang ia pakai, ia lalu merebahkan tubuh dengan posisi tengkurap diatas ranjang.


Ziva mulai memijat punggung suaminya dengan lembut, ia teringat kembali dulu suaminya itu sering sekali meminta dipijit jika sedang penat sepulang kantor.


Dan sekarang walau keadaanya sudah berbeda tetapi kebiasaan suaminya ternyata tidak berubah.


"ya tahan disitu ziva, enak sekali" ucap zayyan menikmati pijatan ziva


"kau suka?" tanya ziva


"yes, i like it" jawabnya cepat


setengah jam berlalu, zayyan hampir saja terlelap sebab pijatan yang diberikan ziva membuatnya merasakan nikmat yang luar biasa.


"cukup ziva, istirahatlah" ucap zayyan


"ya aku memang sudah mengantu" sahutnya


Ziva berjalan menuju pintu penghubung hendak memutar knop pintu namun suara zayyan menghentikan gerakannya.


"kau mau kemana ziva?" tanya zayyan


"tentu saja mau istirahat" jawab ziva heran


"yasudah istirahat saja disini" ucap zayyan


"memangnya boleh?" tanya ziva


"kapan aku melarangmu, lagi pula kita kan suami istri bukan?" cecar zayyan dan diangguki oleh ziva


"jadi kenapa harus pisah ranjang?" lanjutnya lagi


"aah dengan senang hati sayang" ziva langsung melompat naik ke ranjang


"good night suamiku" ziva mengecup pipi zayyan yang kebetulan duduk disampingnya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama ziva akhirnya masuk kealam mimpinya. Sementara zayyan ia terus saja memandangi wajah teduh istrinya, entah kemana rasa kantuk yang tadi sempat menyerangnya seolah hilang begitu saja.


"Walaupun sekarang keadaanku seperti ini dia masih tetap bertahan disisiku, dia seolah tidak peduli dengan sikap acuhku padahal aku tahu dia pasti sangat merindukan sosokku yang dulu, maaf ziva aku akan berusaha untuk sembuh, aku ingin bisa mengingat apapun yang telah aku lupakan, aku ingin semua kembali seperti sedia kala" batin zayyan


Pandangan zayyan perlahan turun kebawah, untuk sejenak ia terpaku bagai melihat pemandangan yang sangat indah dan memanjakan penglihatannya, kemudia ia kembali tersadar saat merasakan hawa panas sekujur tubunya dengan segera ia menutup tubuh ziva yang terbalut dress sexy itu dengan selimut.


Ia mengelus wajahnya karena merasa cukup frustasi sebagi lelaki yang normal tentu ia akan tergoda dengan memandangan didepannya itu, buru buru zayyan keluar dari kamar itu untuk mencari udara segar sebagai penetralisir reaksi tubuhnya.


Saat melangkah menuju halaman didekat kolam renang tiba tiba seorang wanita menabrak tubuh tegapnya sehingga hampir membuat tubuh wanita itu jatuh jika ia tidak cepat menahannya.


"are you okay?" tanya zayyan membuka suara saat wanita dalam pelukannya malah diam saja seperti tersihir dengan ketampanannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Guys minta pendapatnya dong!


setelah ini kalian ingin aku up kisah siapa lagi nih?


Zivanya dan Rayyan, atau Silviana dan Syaquel?


jangan lupa dikomen ya..


dan juga apresiasinya untuk karyaku satu ini dengan cara like ya manteeman🙏