
"aku ingin tubuhmu" ucap zayyan sambil berjalan pelan meninggalkan ziva yang terpaku didepan pintu
"what?" pekik ziva
zayyan tersenyum licik, ia tau ziva tidak akan bisa memberi apa yang ia sebutkan tadi, apalagi melihat wajah ziva yang menjadi merah gara gara ucapannya itu.
"hmm tapi aku tidak memaksa, kau bisa memikirkan dulu syaratku tadi" ucap zayyan berjalan memasuki kamarnya dan meninggalkan ziva sendiri diruangan tamu
setelah ditinggalkan oleh zayyan sendirian, ziva berfikir keras. Ia memijat tulang pelipisnya berkali kali menandakan bahwa ia sedang pusing memikirkan syarat zayyan tadi.
"oh tuhan bagaimana ini? kalau aku tidak turuti dia tidak akan menikahi kakakku, kalau aku turuti aku akan kehilangan kehormatanku... oh yaampun zivani bodoh kenapa mulutmu itu malah membawa petaka untuk dirimu sendiri" ziva mengerutuki kebodohannya yang asal ceplas ceplos
ziva lalu mengetuk pintu kamar zayyan yang terlihat tertutup, ya ia memberanikan diri untuk menghadapi situasi ini.
"kau sudah pikirkan" ucap zayyan yang terlihat habis mandi
"aku ingin bertanya terlebih dahulu" ucap ziva mengalihkan tatapannya karena ia merasa gugup dengan pesona zayyan saat ini
"katakan" ucap zayyan melipat tangannya didepan dada
"apa jika aku menyanggupi syaratmu tadi, kau akan sungguh sungguh menikahi kakakku?" tanya ziva pelan
"kau pikir aku akan berbohong padamu? kau tidak percaya padaku?" zayyan bertanya balik
"tidak tidak bukan itu maksudku kak" ucap ziva tegang
"lalu?, hmm masuklah aku ingin menyisir rambutku dulu" ucap zayyan mempersilahkan ziva masuk kekamarnya karena mereka saat ini berbicara didepan pintu kamar zayyan
"yaampun orang ini benar benar sangat mengujiku" batin ziva mengikuti zayyan yang sudah masuk lebih dulu sembari menyisir rambutnya yang basah
"begini kak, syarat yang kau ajukan tadi adalah sesuatu yang sangat amat besar nilainya bagiku, jadi aku harus memastikan setelah aku menyerahkannya padamu, kau tidak boleh berubah pikiran dan tetap harus menikah dengan kak silvi" ucap ziva menegaskannya lagi
"aku pastikan itu" ucap zayyan singkat, ia mulai merasa takut jika ziva benar benar menyanggupi apa yang ia ucapkan tadi
"berjanjilah padaku" ucap ziva menatap pantulan wajah zayyan yang ada dicermin
"apa kau bahagia aku bersama kakakmu?" tanya zayyan sebelum mengambil langkah
"ya, karena kebahagiaan keluargaku lebih besar dari apapun itu" tegas ziva
"jika kau menyerahkan kesucianmu untukku, apa kau berfikir akan ada pria yang menerima kondisimu?" tsnya zayyan lagi
"aku serahkan semua pada tuhan, karena itu bukan kuasaku, ialah yang mempersiapkan jodohku nanti" ucap ziva dengan bijak
"kau yakin kau tidak akan bersedih jika aku menikah dengan kakakmu?" tanya zayyan sekali lagi
"akulah orang paling bahagia dihari itu, jadi berjanjilah aku mohon" ziva menyatukan kedua tangannya memohon pada zayyan.
"I promise for your happiness" putus zayyan dengan sangat berat hati
"terima kasih kak" ziva spontan memeluk zayyan
"tapi kak.." ucap ziva terpotong
Tentu saja ziva merasa heran, mengapa ia disuruh pulang sedangkan sebelumnya telah terjadi kesepakatan bahwa ziva akan menyerahkan tubuhnya demi agar zayyan mau menikahi kakaknya.
"aku tidak mungkin melakukan itu padamu, kembalilah" ucap zayyan lembut
"tapi .." ucapan ziva kembali dipotong oleh zayyan
"aku akan tetap menikahi silvi kau tenang saja" potong zayyan
ziva terdiam, ia bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, disatu sisi ia merasa keberuntungan sedang berpihak padanya, disisi lain ia tidak tega pada zayyan yang bersedia ikhlas mengorbankan dirinya demi menikahi kakaknya
"aku akan tetap disini kak" putus ziva
"tapi untuk apa? lihatlah hari sudah gelap keluargamu akan mencarimu" ucap zayyan, ia merasa khawatir jika ziva terus berada diapartemennya itu akan sangat berbahaya bagi mereka berdua
"kita sudah melakukan kesepakatan kak" ucap ziva yang saat ini duduk dikasur zayyan
"tapi aku sudah membebaskanmu dari kesepakatan itu" jelas zayyan
"itu tidak adil kak" sahut ziva
"apa maksudmu ziva, jadi kau ingin menjual tubuhmu demi kakakmu" suara zayyan meninggi
"bukan kak, aku tidak menawarkan tubuhku tapi kau yang mengiginkannya sebagai imbalan" jelas ziva
"sejak kapan kau menjadi murahan seperti kakakmu ziva" emosi zayyan meledak
"kak apa yang kau katakan?" ziva ikut menaikkan suaranya
"murahan, kau dengar? Sekarang kau telah menjadi wanita murahan seperti kakakmu" pungkas zayyan penuh amarah
"lalu? Lalu apa masalahmu? lagi pula aku bukan siapa siapa bagimu jadu kau tidak berhak mengaturku" balas ziva dengan air mata yang mulai menetes
"kau" zayyan menyerobot bibir ziva karena merasa geram
ia ******* bibir ziva dengan cukup kasar namun ziva tidak bergeming, ia membiarkan itu terjadi agar ia tidak berhutang budi karena zayyan telah bersedia menikahi kakaknya.
******* itu perlahan menjadi lembut dan menuntut, keduanya menikmati permainan lidah itu, pelan pelan zayyan dan ziva ambruk dikasur empuk itu.
"uummh" desah ziva
Zayyan menghentikan ciuman itu sebentar mereka menetralkan nafas mereka yang memburu karena kehabisan oksigen, namun itu hanya sebentar mereka kembali melanjutkan ciuman panas itu.
Gairah tak tertahankan zayyan mengambil kendali permainan itu, ia mengukung ziva dibawah tubuhnya tangannya mulai liar meremas dada ziva yang berisi itu hingga keluar ******* dari mulut ziva
"uuh" desah ziva