My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Reuni



"iya sih bia, apa kau masih mau menerima keadaan anakku yang seperti itu?" tanya bu liza sekali lagi


"astaga apa yang kau katakan liza? anakku sangat mencintainya begitupun dengan kami tentu kami akan menerima apapun keadaannya jangan pikirkan itu liza" ucap bu bianca meyakinkan bu liza


"lagi pula anakmu itu anak yang sangat baik, sopan dan juga sangat bijak, dia bahkan pernah menolongku saat aku bermasalah waktu itu" tambah bu bianca membuat hati bu liza menjadi lega


disisi lain, ziva sudah selesai makan dan minum obat ia pun dibantu oleh zayyan untuk berbaring dan beristirahat melihat ziva sudah terlelap seperti biasa zayyan ingin memberi kecupannya dikepala ziva, belum sempat bibir zayyan menyentu pucuk kepala ziva bu liza dan bu bianca tiba-tiba menjerit menghentikan gerakan zayyan


"hey" teriak bu liza dan bu bianca bersamaan dan juga langsung membuat ziva terbangun kembali


"kenapa kau mencium anakku?" tanya bu liza melihat gelagat zayyan


"memangnya kenapa tante?" tanya zayyan kembali


"kau bertanya kenapa kak? Kau itu belum menikah dengan ziva kenapa kau sudah mau menciumnya" jelas bu bianca


"oh ya ampun" umpat zayyan dalam hati lalu menyapu wajahnya dengan telapak tanganya ia tidak menyangka jika orang tua mereka sangat ketat seperti itu


"maaf bunda, maaf mommy" ucap zayyan dengan sopan


Ziva dan vanya sama-sama menertawai zayyan yang susah terciduk itu.


"kau lihat itu liza itulah alasanku ingin segera menikahkan mereka karena anakku itu sangat perkasa aku khawatir dia tidak mampu menahannya" ucap bu bianca membuat vanya tidak berhenti tertawa


"katakan pada anakmu untuk menahan hawa nafsunya jangan sampai anakku hamil diluar nikah" gerutu bu liza


"ayo sayang tidurlah lagi jangan dengarkan suara-suara sumbang itu" ucap zayyan yang kembali mengelus pucuk kepala ziva agar tertidur lagi.


Setelah beberapa hari dirumah sakit ziva akhirnya diperbolehkan pulang, saat dirumah sakit ia juga sudah memberitahu pada seluruh keluarganya bahwa ia setuju untuk tinggal bersama bundanya.


Disini sinilah ziva dirumah yang cukup mewah bersama bunda yang telah melahirkannya, bu liza selalu setia menemani ziva ia bahkan sudah tidak pernah ke restorannya demi untuk menjaga anak semata wayangnya, zayyan juga berjanji akan selalu mengantar dan menemani ziva saat jadwal terapinya.


"tidak bunda ziva belum lapar" jawab ziva tanpa mengalihkan pandangannya


"apa yang kau pikirkan hum?" tanya bu elen mensejajarkan dirinya dan ziva yang sedang dikursi roda


"entahlah bunda" jawab ziva


"semangatlah untuk sembuh cantik, banyak yang menyayangimu mereka berharap untuk kesembuhanmu" ucap bu liza saat mengerti apa yang sedang dipikirkan anaknya


"aku merasa tidak berguna lagi bunda" tangis ziva jatuh begitu saja


"nak apa yang kau katakan?" ucap bu liza


"bunda aku tidak terbiasa seperti ini hanya duduk tidak berdaya, dirumah aku bahkan bangun subuh untuk memasak sarapan, dikampus aku bercengkrama dengan teman-temanku, dan sekarang aku tidak bisa apa-apa selain menyusahkab orang-orang disekelilingku" keluh ziva dengan air mata yang terus mengalir


Bu liza memeluk anaknya yang rapuh itu, berusaha manyalurkan kekuatan untuk ziva


"nak jangan bicara seperti itu, melihatmu sehancur ini sangat menyakitkan untuk bunda. Setiap hari bunda selalu memberimu semangat agar kau kuat menjalani hari-harimu, jangan pikirkan hal-hal buruk sayang itu hanya akan mengganggu penyembuhanmu kalau kau stres, lihatlah disini ada bunda, ada kak vanya dan ada zayyan kami selalu menyayangimu berharap kau bisa sembuh secepatnya" ucap bu liza menghapus air mata ziva


"kak zayyan, sekarang bahkan aku tidak tau dia sedang dimana? sedang apa? Bersama siapa?" ziva menutup matanya lalu menopang kepalanya dengan tangan kirinya


"nak dia sudah dewasa dia tau mana baik buruknya, jadi percayalah pada kesetiaannya" bu liza berusaha memberi nasihat


"ya dia sudah dewasa tepi bukan berarti dia tidak akan bermain dibelakangku kan?" ucap ziva lirih, melihat hubungannya dengan zayyan yang semakin berjarak membuatnya ragu akan kesetiaan zayyan.


"nak itu perasaanmu saja, kau sedang posesif saja kalau dia berbuat aneh dibelakangmu tidak mungkin dia akan dengan setia menemanimu setiap jadwal terapimu" ucap bu liza berusaha mengusir keraguan ziva


"dia hanya menemaniku saat terapi saja bun, selebihnya entahlah, dia bahkan sudah sangat jarang memberiku kabar" ucap ziva yang semakin menyayat hatinya.