
"sial kenapa ditoilet ini tidak ada handuk sama sekali" maki ziva kesal
"bagaimana ini? Tidak mungkin aku keluar tanpa busana" pikir ziva
"tidak ada cara lain, aku harus meminta bantuannya" batin ziva
"kak" teriak ziva namun tidak ada jawab oleh zayyan
"kak apa kau masih disana?" ziva kembali berteriak dan lagi lagi ada sahutan
"yaampun dimana dia" ziva merasa ftustasi
ziva lalu mengintip keluar ia mengeluarkan kepala nya dibalik pintu namun tubuhnya masih tersembunyi.
"kak" pangil ziva sambil mengedarkan pandangannya
"kak kau dimana?" ucap ziva namun sama sekali tidak ada suara
"oh yaampun apa dia sudah pergi" ziva kembali masuk dan menutup pintu kamar mandi itu
Ia menatap gaun pernikahannya yang tergeletak dilantai kamar mandi, gaun itu telah basah karena ia membiarkan shower menyala dan membasahi gaunnya.
"tidak mungkin aku memakai gaun ini lagi" batin ziva setelah ia mengangkat gaunnya dan terlihat air menetes dari gaun itu pertanda bahwa gaun itu sudah begitu basah
"apa boleh buat aku harus keluar dengan telanjang bulat seperti ini" ziva merasa frustasi
"oke baiklah, tenanglah ziva lagi pula diluar tidak ada siapapun jadi aman" ziva mulai memutar knop pintu
ia kembali mengedarkan penglihatannya dan tidak melihat siapapun dikamar itu, ziva mulai melangkahkan kakinya pelan pelan karena takut terpeleset.
Ia mengendap-endap seperti pencuri setelah ia mendekati lemari ia langsung berlari namun zayyan langsung keluar dari tirai gorden yang menutupi jendela disamping pintu menuju balkon.
"ziva" pekik zayyan
"aaaaaah" ziva berteriak histeris setelah melihat keberadaan zayyan
Dengan buru-buru ia membuka pintu lemari namun pintu tersebut malah mengenai kepalanya dan membuatnya hampir terpeleset untung saja zayyan dengan cepat menangkap tubuh ziva yang tidak mengenakan apapun.
"pergi" pekik ziva
Ziva lalu berdiri dan dengan cepat meraih jubah mandi yang ada didalam lemari itu lalu memakainya
"santai saja sayang, kita kan sudah menikah" zayyan berusaha menertralkan dirinya
"kau dasar penipu" tunjuk ziva dihadapan zayyan
ziva sangat marah ia merasa telah dikerjai oleh zayyan, dia pasti sengaja bersembunyi dibalik tirai itu dan hal yang mustahil kalau dia tidak mendengar teriakan ziva dari kamar mandi tadi.
"hey apa salahku? Aku sudah menolongmu tadi kenapa malah marah marah?" tanya zayyan mengelak
Ziva sungguh sangat geram pada pria yang baru saja menjadi suaminya ini, kenapa kesan pertamanya setelah menikah malah seperti ini, ziva mengeratkan ikatan jubah mandinya agar ia tidak kecolongan lagi dan mulai memperingati suaminya.
"dengarkan aku tuan Zayyan Arnav Richard, aku bukan anak kecil yang dengan seenaknya kau kerjai seperti tadi, ini adalah yang pertama dan terakhir aku memperingatkanmu aku tidak suka hal seperti ini, kalau kau ingin aku menghargaimu maka hargailah aku sebagai istrimu, aku ingatkan kita sudah menikah jadi jaga batasanmu maka akan ku jaga batasanku kalau kau keberatan dengan perkataanku berarti bersiaplah untuk kepergianku" ziva menekan setiap perkataannya sambil menunjuk-nunjuk kearah wajah zayyan sepertinya ziva benar benar murka.
"sayang maafkan aku, aku benar benar tidak ada niatan..." ucapan zayyan langsung dipotong oleh ziva
"stop, aku malas terlibat perdebatan denganmu hanya untuk hal yang telah terjadi, aku memperingatkanmu tadi agar kau tidak mengulangi hal -hal yang demikian" ucap ziva tegas
"maaf aku akui aku salah" ucap zayyan dengan menghembuskan nafas berat
"ambil ini, sana mandi kau sangat bau kak" ucap ziva menyerahkan sebuah jubah mandi dan handuk kecil pada zayyan
"terima kasih sayangku" zayyan menerima handuk itu dan segera berlari ke kamar mandi sebelum ia mendapat amukan yang kedua kalinya dari istri tercintanya itu.
"huh, baru saja beberapa jam menikah dia sudah membuat tensiku naik" ziva menggelengkan kepalanya dan membuka lemari untuk mengambil pakaian
ziva melihat jejeran lingerie yang tergantung rapi dilemari itu, ia mengeritkan keningnya sambil dalam hati bertanya kemana baju baju nya yang ia bawa dari rumah? Kenapa bisa berubah menjadi seperti ini? Dan pakaian apa ini, sangat menerawang dan kurang bahan? ia membuka semua pintu lemari untuk mengecek siapa tahu pakaiannya hanya dipindahkan dirak lainnya namun hasilnya nihil yang ada hanya pakaian zayyan dan lingerie itu sendiri. ziva memejamkan matanya untuk meredakan emosinya yang kembali akan meledak, ia sangat yakin semua ini perbuatan suaminya.
"yaampun sebenarnya dia menikahiku hanya untuk mengusiliku atau apa?" ziva mengeram tertahan
"oke ziva tenangkan dirimu, kau pakai saja pakaian ini lalu kau balas perlakuannya" batin ziva sembari tersenyum licik
Tidak lama kemudian zayyan telah selesai membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi, dia mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil yang tadi diberikan oleh ziva, namun langkahnya tertahan saat melihat ziva yang duduk diatas kasur sembari membaca majalah fashion.