
"aku menantikannya sayang" ziva tertawa puas sambil menggosok badannya
Setelah selesai dengan ritual mandinya ziva hendak ingin keluar lebih dulu dari kamar mandi namun perutnya terasa sakit sepertinya ia ingin BAB.
"ayo" zayyan juga telah selesai dengan ritual mandinya namun ia heran dengan ziva yang hanya berdiri didepan pintu dan tidak keluar.
"aku..." ucapan ziva langsung dipotong zayyan
"hmm aku tau, kau ingin digendong kan sayang yayaya aku mengerti, memang seperti itulah pengantin baru" ucap zayyan percaya diri dan langsung mendapat cubitan dari ziva
"ih makanya kalau orang bicara jangan asal dipotong, sana keluar aku mau buang air besar" ucap ziva kesal
"oh astaga sayangku" zayyan langsung keluar dari kamar mandi itu dan ziva langsung menuntaskan hajatnya
Setelah tuntas ziva langsung keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaian, terlihat suaminya sudah menggu diatas ranjang tanpa memakai atasan dan hanya menggunakan celana pendek membuat jantung ziva berdebar kencang, akankah ia kehilangan kehormatannya malam ini? Rasanya ia belum siap, namun ia tidak punya pilihan lagi karena dialah pria yang telah menikahinya dan ia harus memberikan hak suaminya atas dirinya.
"oh yaampun aku harus berhadapan dengan lingerie sialan ini lagi" maki ziva ia kesal dengan pakaian kurang bahan didepannya itu
Ziva memilih lingerie berwarna merah walaupun sedikit lebih terbuka namun ia merasa cocok memakai warna tersebut dimalam pengantinnya ini.
"oh sayangku apa kau bersemedi dilemari itu? Kenapa lama sekali kau disana sayang?" ucap zayyan terdengar tidak sabaran
"yayaya sebentar" ziva melihat tubuhnya dicermin
"benar benar seperti ******" batin ziva melihat penampilannya yang dibalut pakaian seksi itu
"sayangku, kau benar benar menggodaku" zayyan tiba tiba muncul dibelakangnya dan mulai mengendus bagian lehernya.
"kak ih" ziva mendorong tubuh zayyan pelan agar ia terlepas dari cengkraman suaminya itu
Ziva duduk diatas ranjang lalu menarik selimut untuk menitupi separuh tubuhnya, namun zayyan lagi lagi mengikutinya ia sudah seperti magnet yang terus menempel pada ziva.
"bagaimana sayang kau ingin kita memulainya sekarang?" tanya zayyan mengecupi leher ziva
"hmm kak aku ingin bicara sebentar" ucap ziva kaku
"katakan sayang" ucap zayyan tanpa menghentikan aksinya
"bagaimana kalau besok saja kita melakukannya" tawar ziva
"hah? Yang benar saja sayang? Dimana mana yang ada itu malam pertama bukan malam kedua" ucap zayyan iringi gelak tawanya
"tapi kak" ucap ziva tertahan
"tapi apa sayang?" tanya zayyan
"aku...hmm...aku belum siap" jawab ziva ragu ragu
"kau belum siap apa sayang?" tanya zayyan dengan pelan
"entahlah kak, aku ingin kita menundanya malam ini" ucap ziva menunduk
"tapi kenapa sayang?" tanya zayyan lagi
"aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata kata" jawab ziva
Sebenarnya saat ini ziva terngiang ngiang perkataan kakaknya silvi tempo hari, ia mengatakan kalau melalukan making love untuk pertama kali itu sangat sakit, sangat perih dan benar benar menyakitkan, memikirkan hal itu ziva tiba tiba bergelidik ngeri, namun tidak mungkin ia mengatakan hal itu pada zayyan bisa bisa ia menjadi bahan bulian malam ini.
"tapi bagaimana jika aku menolak untuk menundanya?" tanya zayyan
"aku bersikeras" jawab ziva dengan raut wajah meyakinkan
"oke, jadi sama saja kau tidak ingin memberikan hakku" ucap zayyan dengan kecewa
ia lalu bangkit bediri dari ranjang membuka lemari dengan kasar ia mengobrak-abrik isi lemari menari kaus namun ia hanya menemukan selembar kemeja putih ia langsung mengenakannya.
"kak" panggil ziva
Ia tau saat ini zayyan sangat kecewa padanya, ia merasa bersalah atas hal itu.
"kak bukan itu maksudku" ucap ziva meninggikan suaranya
"lalu apa maksudmu ziva? menghindari hal itu sama saja dengan tidak memberikan hakku" ucap zayyan penuh penekanan
"tapi kak " ucap ziva tertahan
"stop memanggilku kakak, aku bukan kakakmu, adikku hanya rayyan sedangkan kau istriku" ucap zayyan hampir tersulut emosi.
Zayyan memejamkan matanya dan mengeleng, jangan sampai ia tersulut emosi hanya karena hal ini, dia dan ziva baru saja menikah benar kata ziva mereka bisa melakukannya besok tapi jika malam ini dia sampai bertengkar dengan ziva hal itu dapat membuat keretakan dalam rumah tangga yang baru saja mereka bangun ini.
"tetaplah disini, aku keluar sebentar untuk menemui keluargaku, aku janji tidak akan lama" pamit zayyan sembari mengecup kening istrinya seperti biasanya agar ziva merasa tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"maaf" ucap ziva tanpa menatap zayyan
"no problem honey" zayyan mengelus rambut ziva yang tergerai
"tetaplah disini bersamaku" ucap ziva menghentikan zayyan yang hendak melangkah
Zayyan menoleh menatap ziva dengan kening yang berkerut, apa maksud istrinya itu dia tidak ingin melakukan malam pertama tapi dia menahannya terus dikamar ini, tidakkah dia tau bahwa ia sudah sangat panas disini melihatnya dengan pakaian seperti itu namun tidak bisa menyentuhnya, zayyan menjadi kesal dengan istrinya itu.
"oke" ucap zayyan singkat
Ia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan dirinya disana, ia juga melepas beberapa kancing kamejanya entah kenapa AC dikamar ini terasa tidak berfungsi hingga ia merasa sangat gerah dikamar ini.