My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Takut kehilangan



Keesokan harinya, di aula Mark Hotel sudah disulap sedemikaian megahnya. Dengan nuansa gold mewarnai setiap sisi aula yang akan diadakannya acara sakral itu.


Saat ini ziva sedang sibuk membantu kakaknya memakai gaun pernikahannya, tetapi ponselnya yang ada dimeja rias terus saja berdering.


"dek itu ponselmu terus berdering dari tadi, angkatlah dulu siapa tau penting" ucap silvi yang mulai terusik dengan bunyi ponsel ziva


"greis tolong di lanjutkan dulu ya" pinta ziva dan diangguki oleh greis


ziva langsung menuju ponselnya, ia kaget saat tau yang menghubunginya dari ternyata zayyan. Ada satu pesan yang ia kirimkan pada ziva.


📩Kak zayyan


"aku menunggumu ditaman"


Begitulah pesan yang dikirimkan oleh zayyan pada ziva, saat ziva hendak membalas pesan itu tiba tiba zayyan menghubunginya lagi tetapi kali ini bukan lagi panggilan suara melainkan panggilan gambar.


"aku keluar sebentar ya" pamit ziva pada semua yang ada diruangan itu


Ziva buru-buru mencari tempat yang aman lalu menjawab panggilan gambar dari zayyan, terlihat ia sedang duduk dikursi taman mark hotel, hati ziva tiba tiba bergetar melihat zayyan yang begitu tampan mengenakan tuxedo berwarna putih membuatnya lebih berkarisma.


"ada apa lagi kak?" ziva menjawab panggilan itu dengan cukup ketus


"kau hanya punya waktu 2 menit untuk sampai kesini" ucap zayyan


"untuk apa aku kesana? Aku sangat sibuk, hentikan kekonyolanmu itu kak" ucap ziva


"baiklah, kalau kau tidak mau datang berarti kau bersedia jika kakakmu berdiri sendiri dipelaminan" ucap zayyan dengan menyeringai licik


"hahaha, kau ingin mengancamku? Silahkan, silahkan kau ingin lari kemana, aku yakin kau sudah tidak akan bisa lari lagi karena keamanan dihotel ini sudah diperketat" ucap ziva dengan girang


"siapa bilang aku akan lari? kau lihat ini aku bisa saja mengakhiri hidupku disini dengan begitu pernikahan sialan ini tidak akan terjadi" zayyan memperlihatkan pisau yang ia sembunyikan dibalik jas pengantinnya.


"kau gila ya" ziva menjadi histeris


"ya, aku rasa begitu semenjak semua orang mempermainkanku, mempermainkan perasaanku dan hidupku, kewarasanku menjadi berkurang" ucap zayyan dengan aura membunuhnya


"jangan lakukan apapun, tunggu aku disana" ucap ziva ketakutan


ziva menjadi takut, ia takut zayyan menjadi nekat dan mengorbankan nyawanya, ziva berlari menuju taman tempat zayyan berada saat ini, merasa kesusahan untuk berlari ziva melepas high healsnya agar ia dapat berlari dengan kencang.


Dari kejauhan ziva dapat melihat zayyan yang sedang duduk dibangku taman sambil memperhatikan jam tangannya. Ziva memelankan langkah kakinya sambil memakai kembali high healsnya.


zayyan mendongakkan kepalanya saat tau ziva sudah berdiri disampingnya, nafasnya yang memburu dapat terlihat saat ia berusaha mengatur nafasnya dan juga rambutnya sedikit terlihat berantakan.


"kenapa kau berlari? Rambutmu jadi berantakan" zayyan berusaha merapikan rambut ziva namun tangannya langsung ditepis oleh ziva


"berikan" ziva langsung menarik jas zayyan dan mengambil pisau yang zayyan sembunyikan tadi


"apa yang kau inginkan kak? bukan kah kemarin kau sudah berjanji padaku? Kenapa sekarang saat semua persiapan sudah matang seperti ini kau malah ingin menghancurkannya lagi" ucap ziva meluapkan kekesalannya dengan air matanya


"ziva nanti make up mu luntur" ucap zayyan sembari menghapus air mata zayyan namun lagi lagi ditepis oleh ziva


"aku sedang tidak bercanda kak" pekik ziva


"aku tidak suka melihatmu menangis ziva" lirih zayyan


"aku menangis karena aku tidak ingin kehilanganmu, tolong jangan lakukan hal bodoh seperti ini" ziva membuang pisau itu dihadapan zayyan dengan tangis yang semakin menjadi-jadi


Zayyan langsung memeluk ziva dengan erat, sekarang ia tau bahwa masih ada cinta dihati ziva untuknya, ya ziva masih mencintainya dan begitu pula sebaliknya zayyan pun masih sangat sangat mencintai ziva.


"ziva ayo ikutlah denganku, kita akan pergi dari sini kita akan ke luar negeri dan menikah disana, kita akan membangun rumah tangga kita sendiri disana" ajak zayyan sontak saja ziva langsung melepaskan pelukan zayyan


"tidak tidak itu tidak benar kak" tolak ziva


"ziva ayolah sebelum semuanya terlambat" ucap zayyan


Ditempat lain tanpa ziva dan zayyan sadari ada empat mata yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, ya silvi sengaja mengikuti ziva karena merasa curiga melihat raut wajah ziva yang menjadi gugup saat pamit keluar dari ruangan riasnya, dan saat ini dia sedang ditemani oleh rayyan yang juga tidak sengaja melihat silvi sedang sedang berdiri sendirian dengan pandangan yang menyedihkan.


"kau bisa lihat kan, cinta mereka sangatlah besar dan kau dengan tega memisahkan mereka berdua hanya demi dosa yang kau buat sendiri" ucap rayyan


Silvi meneteskan air matanya, tidak tau harus berbuat apa, ia sadar ia begitu egois menghancurkan hubungan adiknya sendiri, tetapi melihat kondisi nya sekarang ia sangat membutuhkan bantuan ini dari zayyan demi menjaga nama keluarganya seperti yang diucapkan mamanya.


"kak kau disini? Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" ucap vanya yang baru saja datang