
Ziva menuruni anak tangga menuju ruang keluarga selepas menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya yang sedang membersihkan diri, dari kejauhan ziva sudah dapat melihat sang putra yang berada dalam gendongan oma nya.
"mommy maaf jika aku meninggalkan nio terlalu lama" ucap ziva mendekati mertuanya yang sedang berceloteh ria kepada baby nio.
"kau tenang saja sayang, mommy sangat senang mengasuh nio, lihat dia sangat tampan jika sedang tidak rewel" ucap bu bianca yang terus menciumi pipi gembul milik nio
"mommy apa keponakan bi ani belum datang?" tanya ziva
Ya semalam bibi ani merekomendasikan keponakannya saat ziva berkata ingin mencari pengasuh untuk baby nio, ART keluarga richard itu mengatakan jika keponakannya merupakan seorang janda yang ditinggalkan oleh suaminya saat sedang hamil karena mengalami kecelakaan, lalu ia pun menjalani beratnya hidup bersama anaknya namun saat sang anak berusia 3 tahun tidak ia sangka sangka bahwa putrinya mengalami penyakit yang sangat berbahaya, dan karena keterbatasan biaya akhirnya anaknya tidak dapat tertolong. saat ini keponakan bibi ani memang sedang mencari pekerjaan karena toko tempat ia bekerja sebelumnya telah bangkrut.
"belum, mungkin sebentar lagi" jawab bu bianca
dan benar saja tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu dari luar, ART yang juga bekerja dirumah itu berlari untuk membuka kan pintu untuk menyambut dan mempersilahkan tamu yang datang.
Seorang wanita cantik dan berusia sekitaran 28 tahun berjalan mendekati ziva dan bu bianca sambil menenteng tas yang kemungkinan berisi barang barangnya.
"Selamat siang nyonya Richard dan nyonya muda" sapa wanita yang merupakan keponakan bi ani
"ya selamat siang juga" sahut ziva diiringi senyum yang manis
"nyonya muda, saya keponakan bi ani yang juga bekerja dirumah ini semalam dia menghubungi saya katanya majikannya sedang mencari pengasuh untuk putranya, dan nama saya alya nyonya" ucap wanita itu
"oke baiklah alya, mari berkenalan" ziva menjabat tangan alya,
"namaku Zivani kau bisa memanggilku ziva, kalau ini mertuaku, dan ini putraku namanya arsenio tapi kita memanggilnya baby nio" ucap ziva memperkenalkan dirinya
"ah iya nyonya ziva, nyonya richard salam kenal" sahut alya dengan sopan
"baiklah alya kau siap kan bekerja denganku?" tanya ziva
"iya nyonya ziva, saya berjanji akan mengasuh baby nio dengan baik juga tidak akan mengecewakan nyonya dan keluarga" janji alya
"aku memberikan seluruh kepercayaanku padamu alya" ucap ziva dengan ramah
"baiklah alya, seseorang akan mengantarkan mu ke kamar yang akan kau tempati, setelah beres beres kembalilah kesini dan aku akan menunjukkan kamar baby nio ya" ucap ziva
"susi" panggil bu bianca pada salah satu ART dirumah itu
"iya nyonya" sahut ART yang bernama susi itu
"antarkan alya ke kamar yang sudah disediakan untuknya ya" pinta bu bianca
"baiklah nyonya, mari" susi mengajak alya untuk beranjak dari sana.
Ziva dan alya berada dikamar baby nio yang bertempat dilantai dua, alya menatap kagum seisi ruangan yang dijadikan kamar untuk sang putra mahkota.
"alya pintu itu adalah pintu penghubung antara kamar nio dan kamarku bersama suamiku jadi nanti kau jangan kaget jika aku muncul tiba tiba dari arah sana" ziva menunjuk pintu yang warnanya menyatu dengan cat dinding kamar nio
"ya nyonya ziva saya paham" sahut alya
"nah jika kau ingin ke kamar mandi maka pintunya disana" ziva menunjuk pintu yang ada didepannya
"baik nyonya" sahut alya lagi
"jika nio sudah tertidur kau bisa memindahkannya dibox bayi ini" ziva menyentuh pinggiran box bayi itu karena didalamnya sudah ada baby nio yang sedang terlelap
"dan nanti kau bisa tidur di ranjang milik nio itu, eh tapi apa ranjang ini muat untukmu alya?" tanya ziva sebab ranjang itu berbentuk karakter mobil mobilan yang berukuran sedang sangat cocok untuk anak laki laki
"muat nyonya, sangat muat" ucap alya menyakinkan majikannya
"benarkan?" tanya ziva ragu
"benar nyonya, kasur ini muat dan sangat nyaman" jawab alya sembari mengusap permukaan kasur lembut itu
"baiklah jika begitu alya, dan dikulkas itu" ziva mengajak alya agar mendekati kulkas itu
"disini ada stok ASI, selepas memompa ASI aku akan menuangkannya diplastik ASI ini lalu menyimpannya dipaling belakang, jadi pastikan jika kau ingin memberikan ASI pada nio ambillah yang paling depan" jelas ziva
"baik nyonya" sahut alya
"oh iya satu lagi alya saat kau ingin memanaskan asi plastik bekas ini harus segera kau buang ditempat sampah ya, jangan sampai aku mengira itu plastik yang baru" ucap ziva
"hmmm ada lagi yang ingin kau tanyakan alya?" ucap ziva
"nyonya bisakah kau jelaskan padaku cara menggunakan alat ini? karena sejujurnya aku belum pernah memakai alat semodern ini" ucap alya berterus terang
"baiklah alya akan aku jelaskan, sebenarnya sangat mudah" tutur ziva
Ziva lalu menjelaskan perihal alat pemanas ASI itu, lalu ia juga memberikan pemahaman tetang apa yang belum dipahami dan dikuasai oleh alya.
"hmm" terdengar suara deheman seorang pria dari sudut ruangan
Ziva dan alya serentak menoleh pada sumber suara, dan ternyata zayyan lah pemiliknya. Pria tampan itu berdiri dibersandar diambang pintu penghubung dengan melipat kedua tangannya di dada.
"alya ayo aku perkenalkan dengan suamiku" ajak ziva
"selamat siang tuan" sapa alya saat langkahnya terhenti
"siang" balas zayyan
"suamiku, kenalkan dia alya pengasuh untuk nio, dia keponakan bi ani, dan beliaulah yang merekomendasikannya padaku" tutur ziva
Zayyan hanya mengangguk dan melemparkan senyumannya kepada alya.
"dan alya kenalkan ini suamiku zayyan richard" ucap ziva
"salam kenal tuan zayyan" ucap alya dengan sopan
"ya salam kenal" balas zayyan
"hmm, apa kau ada waktu untukku? Sebentar saja" pinta zayyan
Ziva tidak langsung menjawab, ia menoleh pada alya.
"nyonya aku akan menjaga baby nio tenang saja" ucap alya seolah mengerti dengan apa yang diinginkan ziva
"baiklah ayo" ziva lalu mendorong tubuh zayyan melewati pintu penghubung itu
"ada apa? Kau minta pijit lagi hum?" tanya ziva antusias
"bukan, aku ingin bertanya tentang ini" zayyan mengeluarkan cincin dari dalam nakas
"apa ini cincin pernikahan?" tanya zayyan
"iya, saat kau masih dirawat aku meminta mommy untuk menyimpannya dirumah supaya aman" jawab ziva
"ini punyaku kan?" tanya zayyan lagi
"tentu saja, kau pikir suamiku ada berapa sampai kau harus bertanya seperti itu" jawab ziva dengan ketus
"hmm yaa aku pernah diberitahu jika wanita sedang kurang belaian maka ia akan sangar sensitif dan selalu marah marah, seperti kau sekarang" sindir zayyan sontak membuat ziva seperti kebakaran jenggot
"helloooo tuan richard yang terhormat, katakan saja jika kau yang merindukan sentuhan maut ku tidak perlu berbelit belit" ucap ziva tidak terima
"wow justru aku jadi takut jangan sampai sentuhan mautmu benar benar mempertemukanku dengan ajalku" ucap zayyan
"kau.. Kau keterlaluan" geram ziva
Dengan gerakan cepat ziva mendorong tubuh suaminya hingga terpental ke kasur lalu ia menindih suaminya diatas tubuh zayyan
"it's time to play baby" goda zayyan dengan menahan tekuk ziva lalu mendekatkan kedua bibir yang saling merindu itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Visual dedek Arsenio
Visual teteh Alya