
"Mmm ini enak sekali" puji zayyan tanpa sadarnya
"tentu saja, mommy membuatkan mu dengan penuh cinta" sahut ziva dengan tersenyum senang
"kau tidak sarapan?" tanya zayyan
"nanti setelah ini" ziva kembali menyuapi suaminya
Zayyan sangat menikmati sarapannya, ia menghabiskan makanannya dengan diam.
"ini untuk yang terakhir" ucap ziva memberikan suapan terakhir pada suaminya
"kau ini tambah lagi?" tanya ziva
"ah tidak perutku sudah penuh" jawab zayyan
"baiklah" ziva hendak beranjak dari sana namun zayyan menahannya
"bisa kau bantu aku ke kamar mandi?" tanya zayyan
"tentu, sebentar" ziva meletakkan piringa dan gelas bekas makanan zayyan lalu ia mengambil kursi roda yang tidak jauh dari ranjang zayyan
"ayo" ucap ziva mengambil tangan kiri zayyan untuk ia letakkan dipundaknya agar mempermudah zayyan untuk pindah dari ranjang menuju kursi roda
"kau yakin?" tanya zayyan rasanya ia salah meminta tolong pada ziva yang sedang hamil itu, seharusnya ia meminta bantuan pada seorang pria.
"percayalah padaku" ziva lalu merangkul pinggang zayyan lalu perlahan lahan akhirnya zayyan pindah ke kursi roda
"apa kakimu sakit?" tanya ziva karena saat ingin menginjakkan kaki zayyan terlihat seperti meringis
"tidak hanya terasa kaku" jawab zayyan
"baiklah nanti aku akan memijat kakimu" ziva lalu mendorong zayyan menuju ke kamar mandi
"dimana aku harus menunggu?" tanya ziva dengan hati hati
Ziva takut zayyan akan marah jika ia juga ikut masuk kedalam kamar kecil itu tapi disisi lain ziva juga takut zayyan membutuhkan bantuannya jadi lebih baik ia bertanya dulu.
"didalam saja" jawab zayyan dengan yakin
"baiklah" ucap ziva
Sepertinya ada perkembangan yang cukup baik setelah kejadian piring pecah kemarin.
"aku ingin buang air kecil" ucap zayyan
"oke, aku akan hadap belakang" sahut ziva dengan kaku
"sudah, Mm badanku sangat lengket bisa kau bantu aku untuk .." ucapan zayyan tergantung diudara, ia cukup malu mengatakannya pada wanita yang berstatus sebagai istrinya itu
"bisa bisa tentu saja bisa, kau suamiku dan aku akan melayanimu" ucap ziva yang cukup paham dengan apa yang diminta oleh suaminya
"tidak, bukan itu aku tidak mengajakmu bercinta" ucap zayyan spontan, dia pikir ziva sudah salah faham dengan ucapannya
"apa? Oh yaampun suamiku arah pembicaraanmu sudah kemana mana" ziva mengeluarkan celotehannya
"ya, tapi kau menjawab akan melayaniku jadi aku pikir kau " zayyan kembali menggantung kalimatnya
"ternyata tidak hanya ingatanmu yang hilang, tapi otakmu juga menjadi kotor" sindir ziva sembari membuka satuu persatu kancing kemeja baju zayyan
"hey jangan sembarangan, kau yang menjawabku dengan bahasa yang kurang jelas untuk dimengerti" sangkal zayyan yang sudah merasa sangat malu
"oh ya? Dimana yang tidak jelas?" tanya ziva dengan menatap kedua netra suaminya
"melayanimu, bahasa itu punya arti yang sangat banyak" jawab zayyan
"berarti kau yang salah mengartikannya suamiku" ucap ziva dengan gemas
Zayyan tidak membantah lagi karena memang benar ia yang sudah salah mengerti, ia hanya memasang wajah keki nya sambil mengalihkan wajahnya ke samping. Sementara ziva tersenyum puas telah berhasil membungkam suaminya. Ia pun mengambil handuk kecil yang ada dikamar mandi itu lalu membasahinya dan mengelap tubuh suaminya.
"lagi pula aku tidak suka bercinta dikamar mandi" canda ziva sambil mengelap punggung suaminya
Zayyan menjadi sangat kaku mendengar ocehan istrinya yang sangat vulgar itu namun ia tetap enggan bersuara.
"berbeda dengan dirimu, dimana saja tempatnya kau sikat" lanjut ziva dengan menahan tawanya
"aku ingat, kita bahkan pernah bercinta diruang tamu dan hampir ketahuan mommy" ziva tertawa menginggat kenangan mesumnya bersama suaminya dulu
"what?" pekik zayyan tidak percaya
"kau pasti tidak ingat, tapi percayalah itu benar" ucap ziva dengan tertawa pelan
"oh iya suamiku, kau tahu kau juga pernah berbuat mesum dikincir angin saat kita liburan diamerika" lanjut ziva sembari mengelap dada bidang suaminya
"kau itu, otakmu mesum sekali" zayyan mentoyor jidat ziva
"ck, itu semua karena kau yang menularkannya padaku" jawab ziva
Zayyan tidak menjawab, ia memejamkan matanya meresapi sentuhan yang diberikan ziva didadanya.
"oke sudah" ziva menyimpan handuk itu
"sebentar aku ambilkan pakaian yang baru" ucap ziva membuat zayyan tersadar
"astaga apa yang terjadi padaku" ucap zayyan memijat kepalanya yang mulai traveling entah kemana
"sayang kalian dikamar mandi?" tanya bu bianca karena sudah tidak melihat keberadaan anak dan menantunya dari tadi
"iya mom, zayyan ingin ganti pakaian" jawab ziva
"apa dia tidak marah marah lagi?" tanya bu bianca
"tidak mom" jawab ziva
Setelah mendapatkan pakaian bersih untuk zayyan, ia langsung kembali lagi ke kamar mandi. Lalu ia membantu suaminya berganti pakaian walaupun zayyan sering memintanya untu memejamkan matanya mungkin ia malu dilihat oleh ziva.
Ziva dan zayyan akhirnya keluar dari kamar mandi, kamar kecil yang membuat suhu tubuh mereka tak terkendali kadang panas kadang juga dingin.