My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Mendatangi



"siang dad siang mom" ucap ziva saat pintu rumah keluarga richard terbuka dan menampakkan pasangan paruh baya itu.


"masuklah sayang" sambut bu bianca melihat mata ziva yang terlihat sembab


Ziva duduk diantara kedua orang tua zayyan, ia juga melirik kesana kemari mencari keberadaan zayyan.


"apa yang kau cari nak?" tanya pak will melihat gerak gerik ziva


"kak zayyan, apa dia tidak dirumah?" tanya ziva


"tidak nak, dia sudah 3 hari tinggal di apartemennya sendiri" jawab pak will


"tapi kenapa? Bukannya seharusnya dia bersama keluarga mengingat pernikahannya yang tinggal menghitung hari" tanya ziva heran


"sampai hari ini dia masih belum setuju untuk menikah dengan kakakmu sayang" lirih bu bia


ziva menunduk, rupanya benar zayyan masih enggan untuk menikahi silvi itu sebabnya ia mengirim ancaman pada silvi.


"mom..dad" ucap ziva dengan menggenggam tangan bu bia


"iya sayang" jawab bu bia


"aku mohon tolong bantu aku kali ini saja mom dad, tolong pernikahan ini tetap diselenggarakan, urusan kak zayyan aku sendiri yang akan membuatnya setuju untuk menikah, tetapi mom dan dad berjanjilah padaku, untuk tidak merubah keputusan yang telah diambil, lusa kak zayyan dan kak silvi tetap akan menikah" ucap ziva


"tetapi kenapa sayang?" tanya bu bia


"kondisi mental kakakku memburuk mom, dia stres karena tau kak zayyan masih tidak setuju untuk menikah, dia hampir akan bunuh diri" ucap ziva


"benarkah? Oh tuhan tolong lindungi silvi dan cucuku" ucap bu bia khawatir


"kami berjanji untuk itu ziva, kami tidak akan menghalangi pernikahan ini, itu adalah bentuk tanggung jawab keluarga ini pada keluargamu ziva" ucap pak will


"terima kasih dad" ucap ziva lalu melirik jam tangannya


"sudah sore, aku pamit ya mom dad, aku ingin menyusul kak zayyan diapartemennya" ucap ziva


"jaga dirimu sayang" ucap bu bia


"semoga berhasil nak" tambah pak leon


"iya mom dad" pamit ziva


Ziva dengan buru buru menuju apartemen zayyan yang tempatnya cukup jauh. ziva memperkirakan ia harus sampai diapartemen zayyan pukul 5 tepat.


setelah hampir 1 jam mengendarai mobilnya, ia akhirnya sampai di lobi apartemen zayyan. Ziva dengan buru buru menuju lift dan menekan tombol menuju lantai apartemen zayyan.


sesampainya didepan pintu apartemen zayyan, ziva menekan bell berkali kali namun tidak ada tanda tanda pintu akan dibuka. Ia sangat frustasi, dengan nafas yang memburu karena berlarian ziva berjongkok di depan pintu dan merogoh ponselnya.


"apa aku telepon dia saja ya" ucap ziva menimang nimang


"iya aku telepon saja, tidak bisa ditunda lagi" ucap ziva menekan nomor ponsel zayyan


Ya siapa lagi kalau bukan zayyan, saat sedang memarkirkan mobilnya, ia melihat wanita yang mirip dengan ziva dengan pelan pelan ia mengikuti nya namun saat di lift ia kehilangan jejak akhirnya ia memutuskan untuk kembali saja keapartemennya.


Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita yang ia buntuti tadi ternyata ada didepan pintu apartemennya. Tiba tiba ponselnya berbunyi dengan cukup nyaring, karena jaraknya dan ziva tidak terlalu jauh jadi ziva mampu mendengar dering ponselnya.


"kak" ucap ziva saat melihat keberadaann zayyan yang tidak jauh darinya


Sebelum ziva menghampirinya, zayyan lebih dulu berjalan mendekati ziva lalu tanpa basa basi ia membuka pintu apartemennya.


"masuklah" ucap zayyan pada ziva


Ziva lalu mengikuti langkah zayyan yang memasuki apartemennya. Lalu ia duduk disofa yang tersedia disana.


"ada apa?" tanya zayyan dengan tetap berdiri


"apa kita telah menjadi orang asing?" lirih ziva


"kau sendiri yang membuatnya seperti ini" ucap zayyan datar


Ziva tersenyum getir sungguh ia merasa begitu sedih, hubungannya dengan zayyan yang hancur ikut membuat ia dan zayyan menjadi seperti orang asing.


"katakan apa maksud dari kedatanganmu ini?" tanya zayyan


"aku datang untuk kakakku dan ..." ucapan ziva terhenti saat zayyan mengangkat tangan kanannya pertanda untuk berhenti bicara


"kenapa kalian semua terlalu seenaknya mengaturku" ucap zayyan yang mulai tersulut


"aku tegaskan sekali lagi aku tidak akan menikahi wanita itu" tegas zayyan


"kak aku mohon, kak silvi tadi hampir bunuh diri setelah mendapat ancamanmu, aku tidak mau itu terjadi kak aku mohon" ucap ziva


"I dont care" ucap zayyan lalu berjalan menuju ke pintu


"silahkan nona zivani smith, keluar dari apartemenku kedatanganmu hanya membuang buang waktuku saja" ucap zayyan dengan tegas lalu membuka pintu apartemennya


"kak aku mohon kak, aku akan berikan semua yang kau inginkan " bujuk ziva dengan menahan dirinya yang sedang ditarik oleh zayyan untuk keluar


"aku tidak kekurangan apapun, ayo" zayyan terus menarik tangan ziva menuju pintu


"kak apapun, apapun yang kau inginkan akan aku turuti tapi aku mohon jangan usir aku" ucap ziva yang tetap bertahan pada gagang pintu agar ia tidak diseret keluar


"penawaran yang cukup menarik" zayyan kemudian melepas genggamannya ppada tangan ziva lalu menutuk kembali pintu itu.


"iya kak aku berjanji akan menuruti apapun yang kau minta" ucap ziva lagi saat ia mendapat angin segar


"aku ingin tubuhmu" ucap zayyan sambil berjalan pelan meninggalkan ziva yang terpaku didepan pintu


"what?" pekik ziva