My Handsome Police

My Handsome Police
Sugar Daddy



" Mas, hari mama ajakin fitting baju pengantin. " Armell memberitahu suaminya saat ia sedang memasangkan dasi suaminya.


" Mama jemput kesini, atau ntar aku anterin kamu? " tanya Seno yang sedang melingkarkan tangannya di pinggang Armell. Seperti itulah kebiasaan sepasang suami istri itu jika pagi hari. Armell memasang dasi, dan Seno melingkarkan tangannya di pinggang Armell.


" Ntar kita ketemu di butik. Mama bilang, mama mau pesen gaunnya di butik kak Lyla. Istrinya komandan Alif. " jawab Armell.


" Oh, mama pesennya di sana. Ya udah, ntar aku jemput kamu aja. Kan aku juga harus fitting. " ujar Seno sambil mengecup kening Armell berkali-kali.


" Mas, jangan kayak gini. Ntar nggak selesai-selesai masang dasinya. " protes Armell.


" Habisnya kalau di dekat kamu kayak gini, kalau nggak nyium rasanya ada yang aneh gitu. " jawab Seno sambil tersenyum.


" Ck! Dasar suami mesum. " sahut Armell.


" Suami mesum, tapi kamu cinta kan? " goda Seno.


" Ya cinta lah. Kalau nggak cinta, mana mau aku di mesumin mas tiap hari. " gerutu Armell.


" Duh, cantiknya istriku kalau lagi manyun kayak gini. Jadi pengen makan nih bibir. " ujar Seno sambil mencubit bibir Armell yang sedang mengerucut.


" Ihhh, apaan sih. " Armell menepis tangan Seno yang sedang mencubit bibirnya.


Seno malah tertawa renyah. Lalu memeluk pinggang Armell dan mendekatkan tubuh mereka. Kemudian di lahapnya bibir tipis milik Armell. Karena saat itu, Armell telah selesai memasang dasi.


Merasa pengap, Armell mendorong dada Seno.


" Kebiasaan deh mas ini. Main sosor aja kayak bebek. " protes Armell sambil menarik napas panjang.


" Ha...ha...Kamu ini masih aja kebiasaan. Kalau lagi ciuman, jangan tahan nafas. Entar pingsan loh. " goda Seno.


" Habisnya...mas kalau mau nyium selalu dadakan. Kan Mell belum siap. Kaget kan jadinya. " sahut Armell.


" Ya udah, sekarang siap-siap. Kita ciuman lagi. " goda Seno sambil tersenyum pelik.


" Mulai deh....Udah ah. Entar mas telat kerjanya. Nggak usah jahil dan usil jadi orang. " protes Armell.


" Nggak masalah telat. Kan aku bentar lagi jadi CEO nya. "


" Justru kalau jadi petinggi perusahaan, harus bisa kasih contoh yang baik buat pegawainya. Bukannya malah seenaknya sendiri. "


" Sekali-sekali ini. Nggak tiap hari juga telatnya. Yuk.."


" Yuk ngapain? " tanya Armell bloon.


" Satu ronde yang kayak pas nginep di rumah papa. " ujar Seno.


" Ha? " Armell terkejut. " Ada-ada aja kamu ini mas. Udah sana, cepetan berangkat. " Armell langsung menjauh dari Seno.


" Ha ..Ha...ha..." Seno tertawa renyah. " Nanti malam, baby. Aku tunggu servis terbaikmu. " goda Seno.


Armell malah menjulurkan lidahnya keluar dari kamar. Seno segera mengikutinya.


" Beb, nanti aku jemput jam berapa? " tanya Seno saat mereka telah berada di meja makan untuk sarapan.


" Nggak usah di jemput mas. Nanti kita ketemu di butik aja. Mell mau ke kampus dulu. Mau ambil legalisir ijazah. " sahut Armell sambil mengoleskan selai di roti milik suaminya.


" Kamu mau ke kampus? "


" He em. " jawab Armell sambil mengangguk.


" Kalau gitu, kamu ikut aku ke kantor dulu, nanti aku anterin ke kampus, habis itu kita langsung ke butik. " ujar Seno.


" Nggak usah mas. Mell bisa sendiri. Lagian juga cuma bentar ke kampusnya. Mas kan harus kerja. " tolak Armell.


" Hari ini kerjaan aku di kantor nggak terlalu banyak. Jadi sempat lah aku anterin kamu. "


" Nggak usah mas. "


" Bisa nggak sih nurut yang di bilang suami? Keras kepala kamu itu di tinggal di kampung aja sana. "


" Emang bisa? Ada-ada aja kamu mas. " sahut Armell sambil tertawa.


" Lagian kamu ini kalau aku bilang jangan, aku bilang nggak boleh, ngeyel aja. " protes Seno.


" lagian sih mas, cuma ke kampus doang. Nggak kemana-mana. Dulu juga Mell selalu ke kampus sendiri. " sahut Armell.


" Itu kan dulu. Sekarang beda lah. Ada suami kamu yang selalu mencintaimu dan selalu siaga buat kamu. "


" Ha...ha ..iya deh iya. " jawab Armell pada akhirnya.


" Sekalian ntar sore kita ke dokter Ratna kan? " ujar Seno.


Armell menepuk jidatnya. " Oh iya, mas. Hampir lupa. Nanti jadwal check up lagi. Terapi lagi. Mell malah belum daftar. "


" Udah, santai aja. Entar aku minta tolong sama Bryan aja buat daftarin. " ucap Seno.


Kini penampilan Armell seperti anak ABG. Ia terlihat sangat segar. Tak lupa, tas ransel kecil berada di punggungnya.


" Ayo suamiku, kita berangkat. " ajak Armell saat ia telah berada di samping seno.


Seno mendongakkan kepalanya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


" Beb, nggak salah penampilan kamu ini? Nggak biasanya loh, kamu dandan kayak gini. Biasanya suka pakai celana jeans, rambutnya di kuncir biasa. Terus nggak pakai poles-poles wajah kayak gini. " tanya Seno aneh dengan kebiasaan baru istrinya.


" Mama bilang, Mell harus dandan. Harus bisa mempercantik diri. Biar nggak ada tuh pelakor-pelakor nggak jelas. Jadi mulai sekarang, mas harus terbiasa kalau lihat Mell dandan. Oke, my husband? " sahut Armell sambil menggandeng lengan Seno dan menariknya sehingga Seno berjalan di sampingnya menuju ke luar rumah.


" Kalau dandanan kamu kayak gini, entar orang-orang ngiranya aku lagi jalan sama ponakan, beb. "


" Kok gitu? " tanya Armell sedikit menjauhkan tubuhnya dari suaminya.


" Look at your style. Kamu udah kayak ABG. Entar aku di kira sugar Daddy lagi. " gerutu Seno.


" Pfffttt..." Armell menutup mulutnya. " Masak sih? Ini tuh style nya orang Korea. Di sana mau ABG, mau mbak-mbak, pakaiannya, gayanya kayak gini. "sahut Armell sambil menahan tawanya karena melihat wajah Seno yang di tekuk.


" This is Indonesia,baby. " protes Seno.


" Ya, terus, aku harus pakai apa? Kebaya? Biar kayak emak-emak gitu? Ya udah lah, ayo berangkat. Yang penting istri kamu ini udah cantik. Di bilang sugar Daddy juga nggak pa-pa kan? Kan usia kita juga terpaut 6 tahun. " ucap Armell sambil menarik kembali lengan Seno.


Seno membukakan pintu mobil untuk Armell dan Armell segera masuk. Selama perjalanan, Armell selalu menatap wajah Seno sambil tersenyum karena wajah suaminya itu masih saja di tekuk.


" Honey... bunny....Lucu deh kalau cemberut gitu. " goda Armell sambil mengelus pipi kiri Seno yang sedang fokus menyetir.


" Hey, sugar Daddy....jangan cemberut. Entar gantengnya hilang loh..." goda Armell lagi sambil menahan tawanya.


" Ck!. " Seno berdecak.


" Honey, sebenarnya, aku juga males dandan kayak gini. Tapi aku mau nunjukin sama sekretaris mas yang super itu, kalau aku jauh lebih cantik dan menarik dari dia. Kemarin dia ledekin aku, katanya aku kampungan. " ujar Armell.


Hati Seno langsung meluluh. Ia mengulurkan tangannya dan membelai kepala Armell. Ia melihat sebentar ke arah Armell sebelum ia kembali fokus ke jalanan.


" Kita tunjukin ke dia, kalau kamu adalah yang terbaik buat aku. Dan akan aku tunjukkan ke dia, betapa aku sangat mencintaimu. " ujarnya.


" Eh, tapi mas jangan bilang kalau kita udah nikah ya. Biar dia tahu saat pesta resepsi besok aja. Pingsan, pingsan sekalian deh. " ujar Armell.


Seno mengangguk sambil tersenyum. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Seno masuk di pekarangan gedung yang menjulang tinggi.


Seno membukakan pintu untuk Armell setelah ia menghentikan mobilnya di depan pintu masuk gedung. Di sana sudah ada satpam yang akan memarkirkan mobil putra dari pemilik perusahaan.


Setelah turun dari mobil, Seno mengamit pinggang Armell. Semua pegawai yang ada di sana, pada bertanya-tanya. Mereka tahunya, Armell adalah pegawai magang yang pernah magang di perusahaan itu. Tapi kenapa sekarang, Armell jalan berdua dengan direktur mereka. Mesra lagi.


Melihat tatapan bertanya-tanya dari para pegawainya, Seno semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Armell. Dan Armell malah menunduk karena merasa tidak enak dengan tatapan mata para pegawai. Ada yang menatap dengan tatapan bertanya-tanya, ada yang menatap dengan tatapan menghina, ada juga yang menatapnya bangga.


Lalu mereka naik lift khusus petinggi perusahaan. Sampai di lantai dimana ruangan Seno berada, Seno membawa Armell ke ruangannya. Di depan pintu masuk ke ruangan, terlihat Desi segera berdiri dari duduknya untuk menyambut sang atasan. Ia terlihat membenahi bajunya, membuka satu kancing kemejanya. Untuk memperlihatkan dadanya yang berisi.


" Good morning, tuan. " sapanya ke Seno sambil membungkukkan tubuhnya. Dan terlihat, dadanya yang berisi menyembul. Armell melirik ke arah suaminya. Dan ternyata Seno sama sekali tidak melihat ke arah Desi. Armell tersenyum dalam hati.


" Jangan masuk ke ruanganku, tanpa seijin dariku. " ucap Seno tegas tanpa melihat Desi. " Common, baby. Kita masuk. " ajak Seno ke Armell.


Desi menajamkan pendengarannya mendengar Seno memanggil perempuan yang di sampingnya dengan sebutan ' baby '. Panas juga hati Desi mendengarnya.


Waktu terus berjalan. Semenjak pagi, Desi mendengar suara gaduh dari ruangan atasannya. Terdengar tawa, candaan, teriakan. Karena jiwa keponya yang semakin meronta, ia sengaja membawakan minuman untuk Seno. Seperti biasa, ia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Seno yang melihat Desi akan masuk ke ruangan, segera menarik Armell yang sedang berdiri di sampingnya untuk duduk di pangkuannya. Lalu ia meraih bibir tipis Armell. Dan pas saat itu, Desi masuk ke dalam ruangan. Hampir saja cangkir yang ia pegang terjatuh karena ia sangat terkejut melihat atasannya sedang bercumbu dengan perempuan yang bosnya bawa ke kantor tadi.


Desi tidak jadi memberikan kopi itu ke Seno. Ia berbalik badan dan segera menutup pintu.


Di dalam ruangan, Armell sedikit mendorong tubuh Seno.


" Mas, ini di kantor ya. " ucapnya.


" Tahu. Kenapa? Kita kan halal. "


" Terus kalau tiba-tiba ada orang yang masuk gimana? Di kiranya aku perempuan penggoda. " ucap Armell masih sambil duduk di pangkuan Seno


" Siapa yang bakalan berani bilang kamu perempuan penggoda? Hem? Tadi itu, Desi masuk kesini. Aku kan bilang kalau aku mau tunjukkan ke dia kalau aku sangat mencintaimu. "


" Jadi tadi dia kesini? Kok, aku nggak lihat? " tanya Armell sambil menoleh ke arah pintu.


" Kan kita lagi ciuman, baby. Mana mungkin kamu menyadari kalau dia masuk. Kan kamu lagi menikmati ciuman kita. " goda Seno.


" Ihhh. " Armell mencubit bahu Seno. lalu ia turun dari pangkuan Seno.


" Udah selesai kan kerjaannya, ayo anterin ke kampus. Entar keburu siang. Kasihan mama nungguin di butiknya lama. " ajak Armell.


" Hem. " sahut Seno sambil berdiri, mangambil jasnya, lalu memakainya.


***


bersambung