
" Dok, sebenarnya saya sakit apa? " tanya Armell saat dokter selesai memeriksa kondisinya.
" Kenapa semua keluarga saya jadi aneh? Apalagi suami saya. Apa saya mengidap penyakit menular dan berbahaya? Sehingga keluarga saya jadi menghindari saya. " lanjut Armell.
Semua anggota keluarga menjadi speechless mendengar pemikiran Armell. Yang ternyata ia menyangka kalau ia sedang mengisap penyakit menular sehingga keluarganya takut dekat dengan dia karena takut ketularan.
Dokter Ratna melihat ke Seno meminta persetujuan untuk mengatakan yang sebenarnya ke Armell. Seno mengangguk. Lalu ia berjalan mendekat ke Armell. Berdiri di sampingnya, lalu menggenggam tangannya. Armell semakin di buat bingung. Ia menatap suaminya, lalu beralih ke semua keluarganya. Terakhir, ia menatap dokter Ratna.
Setelah Bryan juga mengangguk, dokter Ratna lalu memulai untuk berbicara.
" Nyonya Armell, anda sama sekali tidak mengidap penyakit menular ataupun penyakit yang berbahaya." dokter Ratna mengawali.
" Lalu, saya kenapa dok? Kok kemarin perut saya sakit bukan main sampai saya pingsan? " tanya Armell sambil mengerutkan keningnya.
Dokter Ratna memegang tangan Armell yang satunya. " Nyonya, akhir-akhir ini mungkin anda sering merasakan kram perut. Benarkan? " tanya dokter Ratna hati-hati. Armell mengangguk.
" Jadi nyonya, perut anda sering sakit itu karena ada suatu hal. " lanjut dokter Ratna.
Armell menautkan kedua alisnya. " Ada apa dengan perut saya dok? "
" Kemarin nyonya mengandung. Tapi...."
" Saya....Saya hamil dok? " tanya Armell sumringah dan menarik tangan yang sedari tadi di genggam oleh suaminya. Ia mengelus perutnya sambil memandangnya dengan tatapan bahagia.
Seno melihat pemandangan itu menjadi semakin sakit di hatinya. Ia mengalihkan pandangannya membelakangi Armell. Setitik air mata jatuh dari mata Seno. Tapi ia segera menghapusnya. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya.
" Nyonya..." dokter Ratna menggenggam tangan Armell. Armell mengalihkan pandangannya ke dokter Ratna.
" Ada bayi di sini ya dok? " tanya Armell berbinar-binar.
" Nyonya, ....Janin Nyonya sudah tidak ada. " ucap dokter Ratna dengan satu kali tarikan nafas.
Armell langsung menatap ke dokter Ratna kembali. " Ap...Apa dok? Maksudnya...." Armell begitu terkejut. Seno kembali menggenggam tangannya erat.
" Nyonya, anda mengalami keguguran kemarin. Itulah yang menyebabkan kemarin anda kesakitan sampai pingsan. " sambung dokter Ratna.
Armell langsung terdiam. Mulutnya terasa di kunci rapat. Matanya berkaca-kaca. Bahkan air matanya menetes.
Tiba-tiba Armell tersenyum. Lalu senyuman itu hilang lagi. Air matanya semakin menetes. Ia meremas selimut yang menutupi bagian perutnya.
" Anakku..." gumam Armell. Seno menggenggam kedua tangan Armell. Tapi segera di tarik kembali oleh Armell.
" Baby..." panggil Seno. Tapi tidak diindahkan oleh Armell. Seno memeluk tubuh Armell. Membawa kepala Armell ke dadanya.
Armell melepas pelukan Seno.
" Dok, kenapa saya bisa sampai kehilangan bayi saya? Saya tidak melakukan suatu hal yang berbahaya. Saya juga tidak makan sesuatu yang membahayakan buat kandungan saya." ujar Armell mengingat-ingat.
" Bukan karena suatu hal yang anda lakukan ataupun makanan yang menyebabkan anda keguguran, nyonya. Tapi kandungan anda yang bermasalah. Kandungan anda melemah karena benturan yang sangat keras di perut anda. Mungkin anda pernah terjatuh, atau anda terkena pukulan, atau di tendang seseorang. "
Armell kembali terdiam. Sekarang, pikiran Armell berkelana kemana-mana. Berbagai kejadian yang pernah dia alami, berlarian kesan kemari. Air mata juga mengalir dari kedua matanya. Belum pernah ia melepaskan air matanya untuk mengalir. Tapi hari ini, ia tidak punya keinginan untuk menahan air matanya.
Seno mengelus kepalanya. Membelai rambutnya.
" Mas, bisa keluar dulu? Aku ingin sendiri. " ucap Armell tanpa memandang suaminya.
" Baby... Nggak bisa gitu dong. " tolak Seno.
" Ya sudah, kalau begitu saya undur diri. " pamit dokter Ratna. Armell mengangguk. " Kalau ada apa-apa, hubungi saya saja. "
Armell berusaha untuk tersenyum. Lalu dokter Ratna keluar. Bryan juga ikut keluar.
" Mas, please...Aku pengen sendiri. " ucap Armell kembali.
" Beb...." protes Seno.
" Bentar aja mas. " pinta Armell dengan nada tangis yang ia tahan.
" El, kita keluar dulu sebentar. " ajak tuan Adiguna.
" Tapi pa..."
Ibu Armell dan Pipit keluar dari ruangan. Di susul oleh tuan Adiguna dan istrinya. Seno masih enggan keluar. Ia masih berada di samping Armell.
Melihat suaminya tidak keluar, Armell merebahkan tubuhnya dan memunggungi suaminya. Seno menarik nafas berat. Akhirnya ia berjalan keluar dari dalam ruangan.
Setelah semua keluar dan Armell tinggal sendiri, ia menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia seperti tidak kuat menanggung ini semua. Ia kehilangan anaknya. Anak yang bahkan belum sempat ia ketahui keberadaannya. Anak yang selalu di nanti oleh ibu juga mertuanya. Rasanya sakit sekali.
Armell terus menangis meraung-raung. Dan Seno hanya bisa mendengarkan tangis pilu itu dari balik pintu. Ia menempelkan kening dan kedua tangannya di pintu. Ia juga menitikkan air matanya. Hatinya begitu sakit mendengar tangis istrinya. Melihat istrinya bersedih seperti itu.
Hampir satu jam berlalu. Tangis pilu Armell masih terdengar.
" Belum pernah putri saya seterpuruk ini, Bu. Baru kali ini saya melihatnya seperti ini. " ujar ibu Armell ke besannya.
Ibu Armell juga masih menangis juga dengan nama Seno.
Seno memegang tangkai daun pintu kamar rawat inap Armell. Ia hendak menerobos masuk. Ia tidak peduli jika istrinya akan marah. Lebih baik istrinya marah besar kepadanya daripada istrinya itu menangis sendirian seperti ini.
" Mau kemana kamu? " tanya tuan Adiguna.
" El mau masuk pa. El nggak bisa hanya diam seperti ini. El ingin bersama Armell pa. El ingin menemaninya. " ujar Seno. Dan tanpa menunggu papanya bicara lagi, Seno sudah membuka pintu kamar itu.
Seno masuk ke dalam kamar. Ia melihat Armell sedang duduk dengan kedua tangan memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya di sana sambil menangis meraung-raung.
Seno berjalan mendekati Armell. Kemudian membawa Armell ke dalam dekapannya.
" Ijinkan aku menemanimu, baby. Kita hadapi ini bersama. Ini adalah cobaan bagi kita. " ucap Seno. Dan tidak ada penolakan dari Armell.
Seno lalu menaikkan sebelah kakinya di atas ranjang, semakin menarik tubuh Armell. Memeluknya erat. Tangis Armell semakin menjadi dalam pelukan suaminya. Senopun juga ikut menangis.
Mereka berdua sama-sama menangis. Sama-sama larut dengan kesedihan mereka. Tuan Adiguna dan yang lain, hanya bisa mendengarkannya dari balik pintu. Dengan tangisan pula.
Fitria tidak tahan dengan situasi di sana. Ia ingin berteriak. Ia berlari meninggalkan kamar kakaknya. Entah kemana ia berlari. Berlari dan berlari sampai dia menabrak seseorang.
" Hei, hati-hati nona. Jangan berlarian seperti ini. " ujar seseorang yang Fitria tabrak.
" Maaf, dokter. Saya tidak sengaja. " jawab Fitria sambil sesenggukan dan menatap ke bawah.
Dokter yang Fitria tabrak, seperti tidak asing dengan suaranya.
" Nona..." panggilnya.
Fitria mendongakkan kepalanya. " Dokter..." sapa Fitria.
" Kalau tidak salah, kamu adiknya Armell? " tanya dokter itu. Fitria mengangguk sambil mengusap air matanya.
" Kamu kenapa? Kenapa berlarian seperti itu? " tanya dokter itu.
" Maaf dok. Saya tidak tahan di sana. Semua orang menangis. Saya jadi pengen nangis. Apalagi denger mbak Armell sama bang Seno seperti itu... Pipit jadi nyesek dok rasanya...." ujar Fitria sambil menangis kembali.
" Ssssss.....Udah jangan nangis di sini. Malu kalau di lihat orang. Masak udah gede kok nangis. Mau ke taman rumah sakit ini? " tawar dokter itu.
Fitria mengangguk. " Dokter mau menemani saya? Saya tidak tahu tamannya di mana. " ucap Fitria dengan polosnya.
Dokter Bryan mengangguk. Lalu mulai berjalan dengan di ikuti oleh Fitria dari belakang.
" Nama dokter siapa? " tanya Fitria.
" Bryan. "
" Oh, pantesan wajah dokter kayak orang bule. " ujar Fitria. Bryan tersenyum tipis. " Kalau nama saya Fitria dok. Tapi mbak Armell sama ibu manggil saya Pipit. " ucapnya memperkenalkan diri.
***
bersambung
...Sebelumnya author minta maaf ya kakak semua...Kalau misalnya hari ini author hanya bisa update satu episode... Soalnya hari ini author sibuk banget...Ya tetap author coba usahakan buat update seperti biasa .. 2 kali sehari...Tapi ini hanya seandainya hari ini author hanya bisa update 1 x, tolong jangan pada marah ya kak......
...insyaallah author janji, sebagai gantinya, besok author 3 kali sehari ...kayak minum obat deh pokoknya...Nuhun🙏🙏...