
" Gimana ceritanya bini lo bisa sampai kayak gitu? " tanya Bryan.
Saat ini Bryan dan Seno sedang duduk di ruang tengah sembari meminum kopi dan menunggu Rezky yang sedang mengambilkan baju-baju Armell juga Arvin di tempat kost, dan membeli obat dari yang sudah di resepkan oleh Bryan.
" Dia di culik. " jawab Seno.
" Di culik? Sama? " tanya Bryan terkejut.
" Robert. Robert Downey. Lagi-lagi gue harus berurusan sama dia. " jawab Seno sambil menghela nafas berat.
" Kenapa dia bisa culik bini lo? Apa dia tahu kalau Armell itu bini Lo? " tanya Bryan.
" Dia tahu kalau Armell itu bini gue. Entah bagaimana dia bisa tahu. Secara yang tahu soal pernikahan gue juga cuma lo-lo pada. Robert sengaja nyulik Armell buat di jadikan sandera. " ucap Seno.
" Sandera? Maksudnya? " tanya Bryan semakin bingung.
" Beberapa hari yang lalu, tim gue habis menyita senjata ilegal. Yang jumlahnya tidak sedikit. Gue nggak tahu kalau ternyata senjata itu milik Robert. Gue baru tahu kemarin setelah Alif berusaha membuat anak buah Robert membuka mulut. Dan Robert berniat menukar Armell dengan senjata yang gue sita kemarin. " ucap Seno.
" Jadi gitu ceritanya. I see ...Tapi bro, apa Robert berlaku kasar sama Armell? Kok bisa badannya penuh dengan memar. " tanya Bryan kembali.
" Kalau itu, gue juga belum tahu. Gue belum bertanya sama Armell. Kasihan gue lihat dia. Bibirnya robek gitu. Setiap dia bicara pasti kesakitan. " jelas Seno.
" Apa mungkin Robert memukuli Armell. Tapi bro, bukannya dia penyayang wanita? Mantan lo aja klepek-klepek sama dia. Bahkan lebih milik dia ketimbang elo. " ujar Bryan.
" Br3ngs3k Lo. Kalau itu sih ceweknya aja yang matre. " tukas Seno.
" Gue harap sih, kejadian yang dulu jangan sampai terulang lagi. Jagain bini lo yang bener. Jangan sampai di ambil dia lagi. " ledek Bryan.
" Kalau sama bini gue sih gue yakin bakal aman-aman aja. Secara bini gue bukan cewek matre macam Stella. Bini gue biarpun masih polos, tapi dia punya prinsip yang kuat. Sama gue yang udah sah dan halal aja dia nggak ngebolehin gue pegang dia. Bisa berubah jadi singa betina dia kalau gue deketin. " sahut Seno.
" Berarti lo belum belah duren dong? Masih perjaka ting-ting nih ceritanya. " goda Bryan.l
" Boro-boro belah duren bro. Megang aja harus nunggu dia merem dulu. " sahut Seno kesal.
" Ha...ha...ha... berarti lo nyuri-nyuri kesempatan kalau malam ya...Ha...ha...ha .." goda Bryan kembali.
" Rese Lo! " Seno memukul muka Bryan dengan bantal sofa.
" Pagi, tuan. " sapa Rezky yang tiba-tiba sudah ada di antara mereka.
" Pagi. " jawab Seno dan Bryan bersamaan.
" Dokter Bryan. " sapa Rezky sambil mengangguk hormat.
" Sudah dapat semua obatnya Rez? " tanya Seno.
" Sudah tuan. Ini obatnya, dan ini baju nona Armell dan baby Arvin. " Rezky memberikan semua pesanan Seno.
" Baju-bajunya tolong kasihkan ke Lilik di belakang. Biar baby Arvin bisa cepat di mandikan. " perintah Seno sambil mengambil plastik yang berisi obat untuk Armell.
" Baik tuan. Saya permisi dulu. " pamit Rezky.
" Bry, kaki bini gue juga terkilir lumayan parah. Baiknya gue apain? Tadi pagi udah gue urut juga. " Seno memberitahu Bryan.
" Baguslah kalau udah di urut. Lo kompres aja ntar pakai air es. Terus Lo kasih cream yang udah gue resepin tadi. Habis itu, balut pakai perban tensor. " ujar Bryan menjelaskan.
" Waduh bro, gue nggak punya tuh perban tensor nya. Di rumah cuman ada perban pembalut luka biasa. " jawab Seno.
" Ya udah, ntar sore habis praktek gue bawain kesini. Sekalian gue pasangin. Lagian Lo bro, bini kondisinya kayak gitu, kenapa nggak Lo bawa ke rumah sakit aja sih. " ujar Bryan.
" Ya gue sih kasih saran aja. Mending di periksain ke rumah sakit. Di Rontgen, MRI, USG...Bini Lo butuh itu. Kita kan nggak tahu siapa tahu ada efek dari penyerangan kemarin. " jelas Bryan.
" Lo bener sih. Entar gue coba bicara lagi sama dia." jawab Seno sambil menghela nafas.
" Ya udah, gue pamit dulu. Gue harus segera ke rumah sakit. Ada operasi gue jam 8. " ujar Bryan yang sebenarnya adalah dokter spesialis bedah.
Bryan beranjak dari duduknya dan menjabat tangan Seno.
" Gue anterin ke depan. " ujar Seno.
" Nggak usah. Mending lo cepetan kasih obat ke bini lo. " sahut Bryan.
" Iya udah kalau gitu. Lo hati-hati. " ujar Seno.
Bryan mengangguk sambil melambaikan tangannya dan segera berlalu dari rumah Seno. Dan senopun segera menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
" Loh, nggak tidur? " tanya Seno saat mendapati istrinya sedang mendengarkan musik dari ponselnya.
" Nggak bisa tidur. Badanku rasanya semakin sakit semua. " keluh Armell.
Seno menghampiri Armell dan duduk di dekat Armell. " Maaf. " hanya itu yang mampu Seno ucapkan sambil menggenggam tangan Armell. Kemudian mereka saling menatap dalam diam.
" Apa obatnya sudah tiba? " tanya Armell memecah suasana sunyi yang tercipta.
" Iya. Ayo aku bantu duduk, dan minum obatnya. " ujar Seno sambil membantu Armell untuk duduk.
" Terimakasih. Mell malah jadi ngerepotin mas. " ujar Armell tak enak hati.
" Hei, siapa merepotkan siapa? Kamu istriku. Jadi wajar jika aku menjagamu. " elak Seno. " Sekarang buka mulutnya. " pinta Seno.
Armell mengikuti perintah Seno. Ia membuka mulutnya sedikit. Karena bibirnya di semakin terasa kaku untuk di gerakkan. Lalu Seno memasukkan obat ke dalam mulut Armell dan memberikan Armell minum dengan menggunakan sedotan.
" Terimakasih. " ucap Armell.
" Sama-sama. " jawab Seno sambil menguap.
" Apa mas semalem nggak tidur? " tanya Armell mengernyitkan dahinya sambil melihat wajah Seno yang kelihatan lelah karena kurang tidur.
" Bagaimana aku bisa tidur kalau kondisimu seperti semalam? Apa aku tega meninggalkanmu untuk tidur? No, baby. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Jadi aku tidak bisa memejamkan mataku. " jawab Seno.
" Sekarang aku sudah baik-baik saja. Mas sebaiknya tidur, istirahat. " pinta Armell.
" Nanti. Habis aku mengobati lukamu yang lain. " jawab Seno.
" Luka yang mana? " tanya Armell.
" Semua baby. Ini, ini, ini, dan ini. " jawab Seno sambil menunjuk ke semua bagian tubuh Armell yang terluka.
" Nggak usah. Terimakasih kasih. Mell bisa sendiri. " jawab Armell.
" Oke. Kalau gitu, ini salepnya. Kamu pakai sendiri. " jawab Seno sambil menyerahkan salep ke tangan Armell. Armell menerimanya. Kemudian membuka tutup salep itu, dan Seno hanya memperhatikannya saja. Ia ingin lihat apa si keras kepala Armell bisa melakukannya atau tidak. Senyum tipis terbit dari sudut bibirnya saat melihat Armell kesulitan mengobati. Tapi Seno tetap diam saja dan menunggu Armell sendiri yang meminta tolong.
Cukup lama Armell berkutat berusaha mengobati lukanya. Tapi tangannya terasa kebas dan kaku untuk di gerakkan.
***
bersambung