
Seno kembali ke ibu kota dengan tangan kosong. Tidak hanya tidak membawa sang istri, bahkan informasi saja dia tidak dapatkan. Selama perjalanan Seno hanya diam sambil berpikir keras di mana kira-kira istrinya berada.
Tut ..Tut ..Tut ...Seno melakukan panggilan.
" Halo, tuan. " sapa pria di seberang.
" Bagaimana meeting tadi? Apa papa tahu kalau gue tidak datang? " tanya Seno.
" Iya tuan. Dan beliau marah besar. Beliau bilang anda tidak bertanggungjawab. " jawab Rezky.
" Hah. " Seno menghembuskan nafas kasar. " Armell nggak ada di kampungnya. " ucap Seno lirih.
" Lalu di mana nona Armell? Lalu tuan sekarang apa masih di rumah mertua tuan? " tanya Rezky.
" Tidak. Gue udah balik. " jawab Seno. " Rez, bantuin gue. Bantuin gue nyari Armell. " pinta Seno dengan nada suara tak berdaya.
" Pasti tuan. Saya pasti bantu tuan cari non Armell. Saya akan coba cari teman-teman non Armell di kampus. " ucap Rezky.
" Makasih Rez. " ucap Seno.
" Sama-sama tuan. "
Seno mengakhiri panggilannya. Seno kembali memijit pelipisnya. Kepalanya tiba-tiba terasa berat.
" Tuan, nona muda pasti ketemu. Dia tidak akan meninggalkan tuan. " ucap Damar memberikan dukungannya.
Damar melihat bosnya sangat berantakan. Belum pernah dirinya melihat sang bos seperti itu sebelumnya. Bahkan ketika dua tahun lalu cintanya di khianati oleh kekasihnya, dia tidak terpuruk seperti ini. Damar melihat Seno begitu putus asa.
" Saya akan membantu mencari nona muda sebisa saya tuan. " ucap Damar lagi.
" Makasih, Dam. " ucap Seno sambil memejamkan matanya.
💫💫💫
Hari berganti. Hari ini hari kelima hilangnya seorang Armell.
" Pagi ma, pa. " sapa Armell ketika ia menemui mertuanya di meja makan. Mereka bersiap untuk sarapan.
" Pagi . "
" Pagi sayang. " jawab sang mama mertua sambil mengelus rambut Armell. " Ayo kita sarapan. " ajaknya.
Armell mengangguk sambil tersenyum. Tapi saat ia hendak mengambil nasi, tiba-tiba selera makannya hilang.
" Kenapa tidak jadi ambil nasinya nak? " tanya tuan Adiguna.
" Mmmm....Boleh apa tidak kalau Mell tidak makan ini? " ucap Armell sambil takut-takut.
" Kamu mau makan apa sayang? Biar bibi di dapur yang buatin. " tanya sang mama mertua.
" Mell pengen makan spaghetti carbonara ma. Sama minum juice mangga. " ucap Armell.
" Kamu yakin sayang, masih pagi mau makan spaghetti? " tanya Nyonya Ruth memastikan.
Armell langsung mengangguk. Nyonya Ruth segera memanggil ART nya yang biasa memasak. Kemudian menyuruhnya membuat spaghetti untuk Armell.
" Pa, apa hari ini Mell boleh ke kampus? " tanya Armell ke tuan Adiguna.
" Suamimu setiap hari masih datang ke kampus untuk mencarimu. Bahkan sekarang ia menaruh beberapa anak buahnya untuk memantau kampusmu. Jadi sepertinya kamu masih belum bisa ke kampus hari ini. " jawab tuan Adiguna.
" Tapi Mell harus segera daftar untuk ikut wisuda, pa. Mell juga harus mengambil skripsi Mell di penjilidan dan segera menyerahkannya ke pihak kampus. " terang Armell.
" Bagaimana ya?" tuan Adiguna nampak berpikir. " Oh, begini saja, kamu menyamar saja. Ubah penampilan kamu. Nanti kamu ke penjilidan ambil skripsi dulu lalu menyerahkannya ke pihak kampus. Untuk daftar wisuda, Dion yang akan mengurusnya." lanjut tuan Adiguna.
" Iya pa. " jawab Armell sambil mengangguk.
" Nanti biar kamu diantar sama anak buah papa. Ma, nanti mama dandani Lusi sedemikian rupa sehingga anak kamu tidak mengenalinya. " ucap tuan Adiguna.
" Sip pa. " jawab Nyonya Ruth.
" Berantakan. Suamimu terlihat berantakan. Dia terlihat begitu kacau karena tidak bisa menemukanmu. Padahal dia sudah mencarimu kemana-mana. " jawab tuan Adiguna.
" Pa, apa tidak sebaiknya kita sudahi saja mengerjai mas Seno? Kasihan mas Seno. " ujar Armell.
" Tidak sayang. Sebelum dia datang kemari dan menjemputmu. " jawab tuan Adiguna. " Biar anak nakal itu tidak seenaknya saja. " lanjutnya.
" Benar kata papa kamu sayang. " nyonya Ruth membenarkan.
Armell hanya bisa menurut apa kata mertuanya. Meskipun di hati, Armell sangat merindukan suaminya.
Setelah mereka selesai dengan sarapannya, Nyonya Ruth segera mengajak Armell ke kamarnya untuk touch up. Beliau mendandani Armell sedemikian rupa hingga wajah cantik semakin bertambah cantik.
" Ma, apa ini tidak terlalu berlebihan? Mell berasa mau ke pesta ini ma. " ujar Armell.
" Nggak sayang. Mama hanya memoles wajahmu tipis. Karena memang kamu sudah cantik dari sananya, jadi aura kecantikan kamu lebih keluar. " jawab sang ibu mertua. " Nah, selesai. " ucapnya saat ia telah selesai mendandani Armell.
" Sekarang kamu tinggal ganti baju. Mama udah siapin. " Lanjut Nyonya Ruth sambil berjalan menuju ke tempat tidur dan mengambil sepasang baju. " Ini, pakailah. " suruh Nyonya Ruth.
" Ma, ini bukan style Mell banget. " protes Armell setelah ia melihat baju yang mertuanya berikan. Baju itu terdiri dari atasan dan bawahan rok pendek sedikit di atas lutut. Gaul sih bajunya, tapi menurut Mell agak berlebihan. Ia merasa seperti cabe-cabean kampus.
" Mama emang carinya yang bukan style kamu sayang. Kalau kamu masih tetap pakai baju dengan style kamu, mama yakin, anak buah El akan langsung mengenalimu. " ujar Nyonya Ruth.
Mau tidak mau, Armell akhirnya memakai apa yang telah di siapkan sang mertua. Ia tidak ingin mengecewakan mertuanya.
Setelah selesai dengan penampilan barunya, Armell memakai sepatu high heels yang juga sudah di siapkan sang mertua. Lalu ia turun ke bawah untuk berpamitan dengan mertuanya.
" Ma, Mell berangkat dulu. " pamit Armell sambil mencium punggung tangan mertuanya.
" Iya. Hati-hati di jalan. Orang suruhan papa udah nunggu di depan. "
Armell mengangguk. " Papa mana ma? " tanya Armell karena ia berniat berpamitan dengan papa mertuanya.
" Papa udah berangkat. Katanya mau ada meeting. " nyonya Ruth memberitahu.
Lalu Armell segera berangkat ke kampus. Sampai di area kampus, Armell minta di antar ke tempat penjilidan untuk mengambil skripsinya. Setelah mengambil skripsinya, Armell meminta untuk di antar ke kampus.
Orang suruhan tuan Adiguna menghentikan mobilnya di dekat gedung yang akan Armell datangi.
" Nona, jangan lupa pakai kacamata anda. " ucap anak buah tuan Adiguna memperingatkan.
" Oh iya, lupa. He..he..he..." sahut Armell sambil tersenyum cengengesan. Armell lalu mengenakan kacamatanya.
" Nona, harap selalu hati-hati dan waspada. Anda di lihat di arah jam sembilan, itu adalah anak buah tuan muda. " ujar orang suruhan itu.
Armell mengikuti petunjuk dari orang itu. Dia melihat ada dua orang pria berbadan kekar, sedang berdiri di sana sambil mengamati gedung kampus Armell.
" Baiklah bang. Mell masuk dulu. Semoga tidak ketahuan. " ujar Armell.
" Berdoa saja nona. Dan berlakulah senatural mungkin. " pesan orang suruhan itu.
Armell mengangguk. Ia lalu turun dari mobil. Ia berjalan berlenggak lenggok seperti arahan sang mertua. Sungguh bukan Armell banget. Armell jadi geli sendiri. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.
Armell segera menyerahkan skripsinya ke bagian TU universitasnya. Setelah semua urusan selesai, Armell segera kembali ke mobil yang mengantarnya tadi.
" Huh! Leganya. Akhirnya selesai sudah. " ujar Armell sambil melepas kacamata mainannya.
" Nona, lihatlah. Ada tuan muda di sana. Untunglah sepertinya beliau tidak mengenali anda. " ujar orang suruhan memberitahu.
Armell segera memandang ke tempat di mana anak buah Seno tadi berada.
' Mas...' panggilnya dalam hati. Armell melihat suaminya sedang berkacak pinggang sambil mengamati pintu masuk dan keluar gedung kampus Armell.
Armell begitu merindukan suaminya. Meskipun Seno tidak menjemputnya, ingin rasanya sekarang Armell meloncat turun dari mobil dan memeluk suaminya. Armell tahu bagaimana perjuangan Seno untuk mencarinya. Dan itu sudah cukup buat Armell.
***
bersambung