
Malam menjelang. Armell dan Seno benar-benar menginap di rumah besar keluarga Adiguna. Kini mereka sedang bersiap untuk tidur. Berada di atas tempat tidur dengan posisi tiduran dan saling berpelukan. Tangan kiri Seno berada di bawah kepala Armell dan tangan Armell melingkar di atas perut Seno. Mereka saling berhadapan.
" Mas, apa yang di katakan dokter Ratna dulu itu benar? " tanya Armell sambil memainkan ujung baju suaminya.
" Soal apa? " tanya Seno sambil memandang istrinya.
Armell sedikit mendongakkan kepalanya. " Apa benar aku bisa hamil lagi? "
Seno tersenyum dan mengangguk. " Iya baby. Kita bisa tetap punya baby lagi. Asalkan kamu mau menjaga tubuh kamu, mau ikut terapi, dan minum vitamin untuk rahimmu. Maka jika Tuhan memberikan kepercayaan kepada kita lagi, kamu akan hamil. "
Armell ikut tersenyum. " Aku mau mas. Ikut terapi. Aku mau mengikuti saran dokter Ratna. Aku ingin hamil lagi. Aku ingin punya anak. Aku ingin memberikan keturunan dalam rumah tangga kita. Dan aku ingin memberikan cucu buat ibu, papa, juga mama. "
Seno mengecup puncak kepala Armell dalam-dalam. " Terima kasih. Telah kembali ke sisiku. Dan terima kasih, karena telah bersedia menjadi istriku, mendampingi diriku dalam semua kondisi. " ucap Seno.
" Aku yang seharusnya berterima kasih. Karena mas udah mau menikahiku, mau menjadikan aku istri mas. Padahal aku hanyalah seorang perempuan kampung, yang tidak punya apa-apa ini. Dan terima kasih, karena telah mencintaiku. " sahut Armell sambil tersenyum menghadap suaminya.
" Ngomong-ngomong soal cinta nih, dulu kamu pernah bilang sama anak pak kades di kampung kamu, kalau kamu sangat mencintai suamimu. Apa itu benar, baby? Karena selama ini aku tidak pernah mendengar kamu mengatakan kalau kamu mencintaiku. " protes Seno.
" Kapan aku bertemu dengan anak pak kades? " Armell berpura-pura tidak tahu.
" Common, baby. I know that he love you. Dia mencintaimu. Dan dia menginginkan kamu untuk menjadi miliknya. Kau tahu baby, aku sempat bertemu dengannya dan beradu argumen. " ujar Seno.
" Ha? " Armell terkejut. Spontan ia menjauhkan tubuhnya dari suaminya.
Seno menariknya kembali ke dalam dekapannya. " Jangan terkejut seperti itu baby. Aku hanya beradu argumentasi. Aku tidak melakukan sesuatu yang membahayakannya. Kamu tenang saja jika kamu mengkhawatirkannya. " ujar Seno dengan rasa sedikit cemburu.
Armell tersenyum, lalu mengecup sekilas bibir Seno. " Lucunya suamiku kalau sedang cemburu. Dengar, honey....Aku tidak pernah mengkhawatirkannya. Aku justru mengkhawatirkanmu. Karena dia itu jadi karate. "
" Kamu pikir aku akan kalah dengan dia. Tubuhnya saja kerempeng gitu. Kamu lupa, suamimu ini mantan polisi? Aku juga jago beladiri. " ucap Seno tak terima.
" Iya, iya ..Honey..."
" Honey? Kau memanggilku honey? " tanya Seno.
" Kenapa? Tidak suka? " tanya Armell.
" Suka, baby. Aku suka kamu memanggilku begitu. Hemmm... istriku banyak kemajuan sekarang ya? " goda Seno.
" Iya dong. Siapa dulu suaminya. Suamiku kan pintar menggombal. Jadi aku harus bisa mengimbanginya. " jawab Armell.
" Kalau ingin mengimbangiku, kenapa tidak pernah mengatakan kalau kau juga mencintaiku? " protes Seno.
" Emang laki-laki juga butuh kejelasan? Aku pikir, mas tidak butuh mendengar kata cinta dariku. Bukankah laki-laki berbeda dengan perempuan? " tanya Armell.
" Siapa bilang seperti itu. Laki-laki juga butuh mendengar ungkapan cinta, baby. Jadi sekarang, katakan kalau kau juga mencintaiku. " pinta Seno.
Armell menggeleng. Lidahnya terlalu kaku untuk mengucap kata cinta.
" Ayo dong baby. " pinta Seno sambil mulai meraba-raba tubuh Armell.
Armell menepis tangan terampil Seno. " Apaan sih mas. "
" Makanya, ayo katakan...." Seno kini beralih menggelitik pinggang Armell.
" Mas....ha....ha ..ha ..geli mas ....ha...ha...ha..." teriak Armell sambil tertawa kegelian. Tubuhnya menggeliat-geliat.
" Makanya, ayo bilang cinta..." desak Seno.
Armell menggeleng, " Nggak Mauuu....." teriak Armell sambil menahan geli karena ulah sang suami.
" Baby, common...Apa kamu ingin aku menerjang lampu merah yang sedang menyala di tubuhmu? " bisik Seno di telinga Armell. Kini aksi menggelitiknya telah ia sudahi. Tapi tangannya kini beralih memegang benda keramat milik Armell yang sangat ia sukai.
Seno berhenti. Ia menatap mata Armell tajam. " Apa susahnya sih baby, tinggal bilang ' Aku cinta kamu' Gitu doang. "
" Susah tahu mas. Kan aku belum pernah punya pengalaman pacaran sebelumnya. Jadi belum pernah bilang cinta sama cowok. " ujar Armell.
" Makanya sekarang mulai di biasakan. Kan sekarang sudah punya suami. Harus biasa mengungkapkan cinta, biar rumah tangga kita selalu harmonis dan penuh cinta. " sahut Seno.
Armell tersenyum. " I love you. " bisiknya di telinga Seno dengan ucapan yang sangat cepat.
" Pfffttt.." Seno terkikik. " Baby, nggak ada romantisnya kalau begitu. Aku aja nggak denger kamu bilang apa. " protes Seno.
" Aahhh, yang penting aku udah bilang. Salah sendiri nggak denger. " sahut Armell. Karena ia malu, ia pura-pura merajut dan memutar posisi tidurnya sehingga kini ia membelakangi suaminya.
" Kok malah aku di kasih punggung sih. Dosa lho tidur membelakangi suami. " ujar Seno sambil melingkarkan tangannya di perut Armell.
" Bodo. " sahut Armell sambil tersenyum.
" Marah nih ceritanya? Hem? " tukas Seno. Armell hanya diam saja.
Seno bangkit dari tidurnya, lalu berpindah ke depan Armell sehingga kini mereka saling berhadapan lagi. Armell hendak berpindah lagi, tapi Seno segera mengunci tubuh Armell dengan melingkarkan kakinya di kaki Armell, dan memeluk tubuhnya.
" Baby, jangan marah. " ujar Seno lembut. " Aku tidak suka kamu marah. Aku maunya kamu selalu cinta sama aku. Seperti aku yang selalu mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu. " lanjutnya.
Seno menarik tubuh Armell lebih mendekat. Mata mereka saling bertemu. Mata mereka saling berbicara. Saling mengungkapkan cinta. Sedangkan bibir mereka saling mendekat dan akhirnya saling bertautan.
Mereka terhanyut dalam buaian cinta masing-masing. Rindu, cinta yang selalu mereka rasakan tiap harinya. Seno semakin memperdalam ciumannya. Dan tak ketinggalan, tangannya tidak tinggal diam. Naluri seseorang jika sudah dalam mode on.
Tangan Seno mulai bergerilya masuk ke dalam baju tidur yang di kenakan oleh Armell. Masuk mencari bukit salju nan sejuk dan menyejukkan, tapi membuat tubuh memanas. Meremas dan memainkan puncak gunung Everest. Membuat si pemilik menggelinjang dan mendesah.
" Ssshhh....Ahhh...." suara Armell saat lidah suaminya mulai merasakan gunung Everest nya. Rindu dengan rasa ini. Itulah yang Armell rasakan saat ini.
" Mass......"
" I Miss you baby. Aku mencintaimu. " ujar Seno dalam rasa yang tertahan.
Bibirnya kembali ke bibir Armell. Tapi tangannya masih enggan berpaling dari gunung Everest nya. Satu tangannya menuntun tangan Armell untuk memegang Martinez. Karena jika tidak di pegang, maka Martinez pasti akan berontak.
" Baby, aku menginginkanmu. " ucapnya dengan suara serak.
" Mas, masih belum boleh. " sahut Armell.
" Aku tidak akan melebihi batas, baby. Tapi aku begitu merindukanmu. Aku ingin sentuhanmu. Bantu aku, baby. Aku janji tidak akan melebihi batas. " ujar Seno.
Armell melihat wajah dan mata suaminya yang sudah berkabut gairah, hanya bisa mengangguk. Ia berinisiatif memagut bibir suaminya. Dan Seno mulai melepas kancing baju tidur Armell satu persatu.
Bahkan Armell memberikan sesuatu ke suaminya servis plus-plus yang selama ini belum pernah dia berikan. Ia yang tidak bisa memberikan Martinez sarangnya, demi memuaskan suaminya juga Martinez, ia berinisiatif melakukan hal lain. Dan Seno benar-benar di buat gila oleh apa yang Armell lakukan. Seno sangat puas dengan servis istimewa istrinya.
" Baby, dari mana kamu belajar? " tanyanya saat ia telah usai dengan pelepasannya.
Armell menelusupkan wajahnya ke dada suaminya karena malu. Iapun tidak menyangka jika ia bisa melakukan hal itu. Rasa cinta, rasa rindu, dan rasa ingin membuat suaminya bahagia, membuatnya melakukan hal itu sesuai dari nalurinya.
" Tapi aku suka. Kamu memang yang terbaik. Aku mencintaimu, baby..." ucap Seno, kemudian mengecup puncak kepala Armell.
Armell mendongakkan kepalanya menatap sang suami. " Aku juga mencintaimu, mas. Aku sangat mencintaimu. " ucapnya pada akhirnya. Seno tersenyum lalu memberikan kecupan singkat di bibir tipis milik Armell. Lalu mendekap erat tubuh Armell. Mereka saling berpelukan, dan akhirnya sama-sama masuk kedalam alam mimpi dengan membawa ungkapan hati yang telah terungkapkan.
***
bersambung
Maafkan ya kak...kalau beberapa hari ke depan ini, author hanya bisa update satu episode perharinya. Pekerjaan author sedang banyak soalnya... Nanti kalau pekerjaan author udah beres, udah kelar, author pasti kasih Doble up lagi ..🙏🙏🙏