
" Aku hamil mas? Ada anak kita di sini? " tanyanya dengan mata berbinar, tapi air matanya juga menetes.
" Iya sayang. " sahut Seno dengan mata yang mulai berkaca-kaca juga.
Armell lalu berusaha duduk setelah puas mengelus perutnya sambil tersenyum. Kini sudah tidak ada air mata yang menetes.
" Baby, mau ngapain? " tanya Seno sambil memegang lengan istrinya.
" Mau duduk. Capek tiduran terus. " sahut Armell.
Lalu Seno membantu Armell untuk duduk. Ia memencet tombol remote ranjang yang ada di depannya. Lalu meninggikan separuh bagian ranjang bagian kepala. Membenarkan posisi bantal sang istri supaya lebih nyaman.
" Mas..." panggil Armell.
" Hem..." Seno menghentikan aktivitasnya membenarkan posisi duduk Armell.
" Peluk. " pinta Armell manja sambil merentangkan kedua tangannya. Seno tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang sekarang sangat manja. Tapi tak urung, diapun memeluk sang istri penuh dengan kasih sayang.
Ceklek
Suara pintu kamar di buka.
" Ups. Maaf, saya tidak tahu kalau sedang sibuk. " goda dokter Ratna yang ketika memasuki ruangan melihat Seno dan Armell saling berpelukan.
" Dokter..." sapa Armell dengan malu-malu.
Dokter Ratna berjalan mendekat. " Bagaimana sekarang keadaan nona? Apa yang di rasakan? " tanyanya.
" Kepala saya kok masih agak pusing ya dok? Berat gitu rasanya. " sahut Armell.
" Baik. Mari kita periksa dulu. " ujar dokter Ratna. Ia memakai stetoskopnya di telinga. Lalu menempelkan bagian diapraghm di dada Armell. " Bagus kok. Tidak ada masalah. " lanjutnya. " Sus, tolong di cek tekanan darahnya. " pinta dokter Ratna ke suster yang mendampingi.
Suster lalu mengecek tekanan darah Armell.
" 90/70 dok. " ucap suster.
" Wah, tekanan darahnya rendah ya. Nanti saya akan memberikan obat penambah darah juga vitamin penguat kandungan. Sudah tahu kan kalau nona sekarang sedang mengandung kembali? " ujar dokter Ratna sambil tersenyum.
Armell menjawab dengan anggukan dan senyum manisnya.
" Di jaga ya nona kandungannya. Ingat, nona mempunyai riwayat kandungan lemah. Jadi nona harus bedrest total sampai kandungan nona benar-benar kuat. Sementara, nona di rawat inap di rumah sakit dulu beberapa hari ya. Untuk mengobservasi lebih lanjut. Besok pagi, akan ada petugas dari laboratorium untuk mengambil sampel darah nona Armell. Kita harus mengecek semuanya lebih detail. " jelas dokter Ratna.
" Iya dokter. Saya pasti akan menjaga kandungan saya dengan baik. Saya tidak ingin kehilangannya kembali. " ujar Armell sambil menatap sendu ke arah perutnya. Ia teringat janin pertamanya. Melihat wajah istrinya yang tiba-tiba mendung, Seno menggenggam erat tangan Armell memberinya kekuatan.
" Anda berdua memang harus bersama-sama saling menjaga. Oh iya, nanti suster akan membawakan kursi roda kesini. Sementara nona tidak di perbolehkan berjalan-jalan dulu. " ujar dokter Ratna sambil tersenyum.
Armell dan Seno mengangguk. Lalu setelah selesai semuanya, dokter Ratna berpamitan dan meninggalkan ruang rawat inap Armell.
Kini tinggal Armell dan Seno berdua di ruangan itu. Seno duduk di atas ranjang di sebelah Armell sambil memeluk Armell. Mereka sedang berbahagia. Armell menyandarkan kepalanya di dada Seno. Sesekali Seno mengecup puncak kepala Armell. Meskipun saling diam sibuk dengan pikirannya masing-masing, tapi mereka benar-benar sangat bahagia.
" Kamu bahagia, baby? " Seno mengawali percakapan.
Armell mengangguk, " Sangat. " jawabnya sambil tersenyum memandang suaminya. " Mas juga bahagia? "
" Sangat, baby. Sama sepertimu. " Seno kembali mengecup kening Armell. " Kau tahu, baby. Tadi mama memukuliku habis-habisan. " ucap Seno mengadu.
" Mama? Mama tadi juga di sini? " tanya Armell.
Seno mengangguk, " Iya. Tadi saat kamu pingsan, aku langsung menghubunginya. Dan tak berselang lama dari saat kita tiba di rumah sakit, mama juga sampai sini. " jawab Seno.
" Apa mama juga sudah tahu kalau aku sedang mengandung? " tanya Armell.
" Heem. Mama sangat bahagia. Sebenarnya mama mau menungguimu sampai kamu terbangun. Tapi, saking senangnya, ia lalu segera menemui papa untuk memberikan kabar bahagia ini. Paling sebentar lagi, beliau juga sampai di sini lagi. " lanjut Seno.
Armell sangat senang mendengarnya. " Lalu, ceritakan padaku, apa yang terjadi sampai mama memukulimu. "
Lalu Seno menceritakan semua drama yang terjadi siang tadi. Membuat Armell tertawa terbahak-bahak. " Kasian. Mana yang di pukul mama? Apa sakit? " tanya Armell masih dengan sisa tawanya.
" Biasa aja baby. Suamimu ini punya tubuh yang kekar dan kuat. Cuma di pukul pakai tas dan dengan tenaga mama, bukan apa-apa. " jawab Seno sambil membelai rambut Armell.
" Apa kamu tahu mas? " ucap Armell serius sembari memainkan jari-jarinya di dada suaminya. " Aku sangat beruntung. Dan sangat bersyukur. Mempunyai suami seorang Seno Gael Adiguna. Mempunyai mama sama papa sebagai mertua aku. Selama menjadi keluarga kalian, selama aku menjadi istrimu, aku selalu merasa bahagia. Dan sekarang, di tambah lagi kehadiran anak kita di sini. " ucap Armell yang kini tangannya berpindah mengelus perutnya. " Sungguh memang benar, jika nikmat dari Tuhan tidak bisa kita dustakan. " lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
Armell menengadahkan kepalanya menatap suaminya, " I love so much my Handsome husband. " ucapnya.
" I love you too, my lovely wife. " jawab Seno. Lalu mereka saling berciuman.
" E hem...e hem...." seseorang tiba-tiba berdehem.
Seno dan Armell segera melepas bibir mereka, dan menoleh ke sumber suara.
" Ganggu aja. " protes Seno.
" Ck. Kalian kalau bermesraan selalu nggak tahu tempat. " protes Bryan balik.
" Bener apa yang di bilang bini gue. Mending lo Cepetan cari cewek buat di halalin. Jangan cari yang cuma buat semalam doang. Lo dokter kan? Lo pasti tahu dong penyakit yang bisa saja lo derita kalau sering main gonta-ganti. " saran Seno.
" Lo udah kayak emak Lo aja. Lo tenang aja, gue selalu pakai pengaman. Lagian gue juga nggak asal sruduk ke asal cewek. Gue cari yang higienis. " sahut Bryan.
" Lo kata makanan? Pakai cari yang higienis. " timpal Seno.
" Ya kan cari aman bro. Biar nggak kena penyakit kelamin. " sahut Bryan.
" Ngomongin apaan sih? " tanya Armell yang tidak begitu paham arah bicara Seno dan sahabatnya itu.
" Lo masih kecil. Jadi belum saatnya tahu. " sahut Bryan.
" Ck. Kecil-kecil gini jam terbangnya juga banyak. Nggak kalah sama dokter. " sergah Armell karena akhirnya otaknya bekerja dan tahu apa yang sedang di bahas dua laki-laki di ruangan itu.
" Eh, Lo sekarang lagi bunting. Jangan asal main. Kegiatannya harus di kurangi. Bawaan bayi emang macam-macam ya. " ucap Bryan menyindir Seno dan Armell sambil tersenyum. " Lo juga Sen, jangan asal main sruduk, kalau bini Lo minta. Ada debay di perut bini Lo. Entar kalau gagal lagi, nggak jadi deh gue punya ponakan Made in Perancis. " lanjut Bryan lalu di ikuti tawa menggelegar dari mulut Bryan.
Armell langsung cemberut mendengar sindiran Bryan. " Mas, handphone aku mana? Mau telpon ibu kasih kabar kalau aku lagi hamil. Daripada dengerin omongan dokter mesum kayak dia. " ucapnya.
Lalu Seno mengambil ponsel Armell yang ada di dalam tas Armell. Kemudian memberikannya ke tangan istrinya. Armell langsung segera menghubungi ibunya.
" Kok nggak di angkat mas. " ujar Armell.
" Coba ke nomer Pipit aja. Siapa tahu di angkat. Tuh anak kan ponselnya selalu di tangan. " sahut Seno.
Armell mengangguk. Lalu menghubungi adiknya. Dan benar saja, hanya satu kali nada dering, Pipit langsung menerima panggilan videonya.
" Mbak......" panggil Pipit histeris.
Dan di seberang sana, ada seseorang yang tiba-tiba berdebar jantungnya saat mendengar suara Pipit. Siapa lagi kalau bukan dokter Bryan.
" Pit, kamu lagi ada di mana? " tanya Armell.
" Lagi di rumah mbak. Kenapa? "
" Ibu mana? "
" Nih, di deket Pipit. " jawab Pipit. " Bu, di cariin mbak Mell. " suara Pipit terdengar sedang berbicara dengan ibunya.
Dan tak lama, muncullah wajah sang ibu. " Assalamualaikum Mell. "
" Assalamualaikum, Bu. Ibu apa kabar? " tanya Armell.
" Alhamdulillah, ibu baik-baik saja. Kamu sendiri gimana? Eh, tunggu deh. Kamu Sepertinya sedang tidak di rumah. " tebak ibunya. " Kamu di rumah sakit? " tanya ibu yang mengenali baju yang di pakai putrinya.
Armell mengangguk, lalu berkata, " Tapi ibu jangan khawatir. Mell nggak apa-apa kok Bu. Mell malah mau nyampein kabar gembira ke ibu sama Pipit. "
" Kabar gembira apa? Kamu di rumah sakit gitu kok kabar gembira. " ujar sang ibu sambil mengerutkan keningnya.
" Mell hamil Bu. " sahut Armell sambil tersenyum.
" Apa? Kamu hamil nak? Bener? " tanya ibu memastikan tapi dengan binar wajah yang gembira.
Armell mengangguk.
" Alhamdulillah, ya Allah...." ucap ibunya.
" Mbak Mell hamil? Pipit bakalan punya ponakan? Aahhh senengnya. " ujar Pipit sambil berteriak. Kini ponsel sudah beralih ke tangan Pipit kembali.
" Tapi kok mbak Mell malah di rumah sakit? " tanya Pipit.
" Mbak tadi siang tiba-tiba pingsan. Mungkin bawaan bayi. Terus dokter suruh mbak rawat inap dulu. Soalnya mbak kan punya riwayat lemah kandungan. " jelas Armell.
" Ohhh...Mbak Mell sehat-sehat terus ya...Jagain dedek bayinya juga. " pesan Pipit.
" Pasti. "
" Mbak sama siapa itu di rumah sakit? Sama mama Ruth? " tanya Pipit.
" Sama abangmu, sama dokter Bryan juga. Nih Abang kamu. " Armell menghadapkan ponselnya ke suaminya.
" Bang, titip mbak Mell sama dedek bayinya ya. " ucap Pipit. " Awas kalau ada apa-apa. Pipit bakal hajar abang habis-habisan. " ancam Pipit yang juga jago beladiri seperti Armell.
" Iya, pasti di jagain. " jawab Seno.
" Mbak, abang bule mana? " tanya Pipit.
" Abang bule siapa? " tanya Armell.
***
bersambung