My Handsome Police

My Handsome Police
Curhatan



Setelah melakukan terapi pemijatan, Armell dan Seno kini kembali ke ruangan dokter Ratna. Wajah Armell tampak agak pucat. Badannya terasa lemas.


" Nona, setelah pemijatan hari ini, sementara jangan berhubungan suami istri dulu ya. " ucap dokter Ratna sambil tersenyum.


Wajah Seno langsung berubah menjadi kaku. ' Belum juga buka puasa. Udah di tambah aja sama nih dokter. ' batin Seno.


" Rahim nona Armell perlu penyesuaian terlebih dahulu. Otot-ototnya perlu rileks dahulu. Setelah satu minggu, baru boleh berhubungan. Saya harap tuan bisa bersabar. " canda dokter Ratna.


Seno tersenyum kaku di paksakan. Sedangkan Armell mengulum senyumnya. Ia tahu apa yang ada di pikiran suaminya sekarang.


" Dua Minggu yang akan datang, akan saya jadwalkan untuk pemijatan kedua. Semoga kita segera mendapat hasil yang bagus. " lanjut dokter Ratna.


Setelah berbincang-bincang, Seno dan Armell berpamitan dengan dokter Ratna. Keluar dari ruangan dokter Ratna, Seno mengamit pinggang Armell erat. Ingin sekali ia menggendong saja istrinya karena ia yakin istrinya saat itu sedang lemas. Tapi Armell menolaknya.


" Baby, kita makan malam di luar saja sekalian oke? Biar sampai rumah kamu bisa langsung istirahat. " ujar Seno sambil mengelus pipi Armell. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.


Armell mengangguk, " Sebenarnya aku tuh nggak pa-pa tahu mas. " ujar Armell ke Seno karena ia yakin, suaminya sedang mengkhawatirkannya saat ini.


" Aku tahu. Kamu itu wanita yang kuat. Bahkan wanita terkuat dari wanita-wanita lain yang pernah aku kenal. Makanya aku bangga punya istri seperti kamu. " sahut Seno dengan pandangan fokus ke jalanan.


" Tapi mas. Kenapa tadi mukanya di tekuk aja waktu di ruangan dokter Ratna. " goda Armell.


Seno langsung terdiam. Ia melirik ke spion kanan untuk melihat keadaan di belakang, karena ia akan mengambil jalur kanan.


" Hmmm...aku tahu. Mas pasti kesel ya, karena dokter Ratna nyuruh mas puasa lagi. " tambah Armell.


" Nggak. " jawab Seno singkat.


" Yakin nggak? " goda Armell kembali sambil memiringkan tubuhnya menghadap Seno. " Tapi mukanya di tekuk gitu. "


" Aku tuh kesel aja. Kenapa dokter Ratna harus ngomongin itu segala. Aku juga tahu kali. Kalau kamu sedang tidak bisa di ajak beraktivitas. Lagian, mana tega aku ngajakin kamu yang enak-enak. Lihat kamu tadi lemes dan kesaktian kayak gitu. " ujar Seno.


Armell tersenyum, lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Seno. Cup. Ia mendaratkan bibirnya di pipi kiri suaminya. " Suamiku emang ter-the best. Mas tahu, aku pikir selama ini, suami seperti mas cuma ada di dunia Maya. Cuma ada di novel-novel romantis. Eh, ternyata di kehidupan nyata ada. Dan beruntungnya aku, karena aku mendapatkan suami yang seperti itu. " ujar Armell sambil mengelus pipi kiri Seno.


Seno tersenyum tertahan. Ingin rasanya ia meloncat-loncat kegirangan mendapatkan pujian seperti itu dari mulut istrinya. Suatu hal yang sangat langka menurutnya. Karena ia merasa istrinya itu tidak pernah mengatakan hal-hal indah seperti itu.


" Baby, jangan membuatku berubah pikiran. " ujar Seno.


" Maksudnya? " tanya Armell tidak mengerti.


" Mendengarmu bicara seperti itu, membuatku ingin sekali mengajakmu beraktivitas. Ingin rasanya memakanmu sekarang. " goda Seno.


Armell menjauhkan dirinya. Dan Seno tergelak melihat tingkah Armell. Di raihnya kepala sang istri, dan di bawanya ke dekatnya. Ia kecup puncak kepala Armell, lalu berucap, " I love you so much. "


Seno menatap mata Armell.


" Mas, fokus ke jalan. Jangan sampai karena mas lihatin kecantikan aku, kita jadi korban lalu lintas. " ujar Armell memperingatkan.


Seno mengusap rambut Armell gemas. Lalu ia kembali fokus ke jalanan.


" I love you too, my lovely husband. " ucap Armell kemudian, sambil terus memandang wajah tampan suaminya. " Aku nggak nyangka loh mas. Ternyata kamu itu laki-laki yang romantis, perhatian, nggak kaku, hangat, mesum lagi. Aku pikir, dulu saat kita baru kenal, mas itu sosok laki-laki yang kaku, yang egois, seenaknya sendiri. " ujar Armell sambil menerawang jauh mengingat awal pertama mereka bertemu.


" Wah, kesan pertama kamu jelek banget ternyata. " sahut Seno.


" Kok gitu? " tanya Seno sambil menoleh ke arah Armell sebentar.


" Iya. Mas ingat kan, waktu aku mulai buat laporan. Mas nggak percaya sama cerita aku. Kamu selalu curiga, kalau Arvin itu anakku. Yang sengaja aku buang karena aku malu mengakui kalau dia hasil hubungan terlarang. Kesel banget aku saat itu. Pengen nonjok. " ujar Armell sambil menggenggam tangannya.


Seno tersenyum mengingat saat-saat itu. Benar juga. Dia lumayan keterlaluan.


" Boleh jujur nggak? " tanya Seno sambil tersenyum.


" Hem? "


" Sebenarnya saat pertama kali aku melihat kamu, ada yang aneh di hatiku. Hatiku berdebar. Tapi saat kamu bercerita tentang baby Arvin, entah kenapa aku jadi kesal sendiri. Aku langsung membayangkan kalau Arvin itu anak kamu sama pacar kamu. Yang ada, keluar deh dari mulut aku yang tidak bisa aku kontrol, semua kecurigaan itu. " cerita Seno


" Hemmm.... Jadi, mas udah tertarik nih sama aku saat pertama kita ketemu? " ledek Armell.


" Bisa di bilang begitu. Dan saat Alif memintaku menangani kasusmu, ada rasa senang di hatiku. Aku bisa sering bertemu denganmu. "


" Ow...ow...ow.... jangan-jangan saat mas mengajakku menikah, itu bukan karena kasihan. Tapi emang mas ngarep bisa nikah sama aku. "


" Mmmm....bisa jadi. Aku emang kasihan juga sama Arvin jika ia harus berada di panti. Aku juga kasihan sama kamu. Kamu sedih kayak gitu. Nggak seneng aja lihat kamu sedih. Terus di tambah lagi, aku emang ada keinginan untuk menikahi kamu. Entahlah, tiba-tiba saja saat itu, aku nggak rela aja kalau kamu nikah sama laki-laki lain. " jawab Seno.


" Dan saat kamu bilang bersedia nikah sama aku, hatiku sangat bahagia. Tapi saat kamu mengajukan kesepakatan, rasanya agak kecewa juga. Tapi aku tetap berusaha untuk membuatmu menerima pernikahan ini. " lanjut Seno.


" Berarti sudah sejak lama dong mas suka sama aku? " tanya Armell.


Seno mengangguk. " Lama. Sebelum kita menikah. Dan saat kita sudah menikah, rasa suka itu berubah menjadi cinta. Aku semakin tidak bisa jauh dari kamu. Saat jauh dari kamu, rasanya rindu sekali. Dan saat kamu di dekatku, rasanya selalu ingin memelukmu. " jawab Seno.


Armell tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka jika suaminya itu telah menyukainya sejak lama.


" Kalau kamu, sejak kapan kamu mencintaiku? " tanya Seno.


" Sejak kapan ya? " Armell tampak mengingat. " Mungkin semenjak mas maksa aku buat tinggal bareng setelah penculikan yang pertama dulu. Tinggal satu atap sama kamu, bertemu setiap hari, membuat aku tahu bagaimana dirimu. Bagaimana sikapmu sama aku, bagaimana perhatiannya mas sama aku. Dan mungkin juga karena mas yang selalu saja tiba-tiba nyosor. Jadi ada rasa aneh di hati. Aku yang sama sekali belum pernah di jamah sama laki-laki manapun, mendapat perlakuan mas jadi berasa gimana gitu. Terus saat kak Ikke bicara sama aku, mengatakan kalau rumput tetangga bisa lebih indah, aku baru menyadari kalau sebenarnya, aku sudah mulai mencintai mas. " jawab Armell.


" Maksud omongan Ikke apa? Kok jadi bahas rumput tetangga? "


" Ya kan saat itu, pas aku lihat mas makan siang sama Mariana, aku kesel banget tuh. Mungkin emang bener kalau saat itu aku cemburu. Nah, habis itu aku ketemu sama kak Ikke. Terus curhat-curhat gitu. Setelah aku cerita kak Ikke bilang, kalau sebenarnya aku tuh cinta sama mas. Cuma akunya aja yang gengsi. Terus kak Ikke bikin perumpamaan kayak gitu. Dia bilang, kalau aku selalu anggurin mas, bisa-bisa mas cari cewek lain. " sahut Armell.


Seno manggut-manggut, " Berarti aku harus berterima kasih sama Ikke ini. Harus aku traktir makan sepuasnya. " ujar Seno.


" Mmm jangan-jangan habis itu terus kamu mau di unboxing sama aku? Karena kalau nggak ngasih, takut aku cari kesenangan di tempat lain. " tanya Seno.


" He...he...he...iya. "


" Baby, berarti kamu terpaksa waktu itu? Kalau tahu kamu terpaksa, aku nggak akan ngelakuin itu. Aku akan tetap tunggu sampai kamu ikhlas ngasihnya. Aku juga nggak bakalan nyari di tempat lain. Karena aku bukan tipe laki-laki seperti itu. " tukas Seno.


" Nggak terpaksa kok. Ikhlas. Lahir batin. Ikhlas ngelayanin kamu, ikhlas berumah tangga sama kamu, ikhlas jadi istri kamu seutuhnya. Karena saat itu, aku sudah tahu, kalau aku mencintai mas. " jawab Armell.


Lalu mereka berdua sama-sama saling memandang dan tersenyum.


***


bersambung