
Armell membuka pintu kamar dengan sangat perlahan. Sebelum benar-benar keluar, ia melongokkan kepalanya keluar melihat ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan suaminya. Dan ternyata suaminya sedang berdiri di depan jendela dan memandang keluar.
Armell keluar perlahan, kemudian menutup pintu kamar mandi dengan perlahan juga. Ia berjalan tanpa suara ke arah Seno berdiri. Sampai di dekat suaminya, ia melingkarkan kedua tangannya di perut Seno. Memeluknya dari belakang, lalu menyandarkan kepalanya di punggung Seno.
Seno tersenyum mendapati perlakuan seperti itu dari istri tercintanya. Ia meletakkan gelas yang tadi di pegangnya ke atas meja yang ada di sebelahnya. Lalu ia meraih tangan istrinya yang berada di atas perutnya. Mengecup punggung tangannya.
" Sudah selesai mandinya? " tanya Seno. Dan Armell mengangguk dari belakangnya. Seno hendak memutar tubuhnya. Tapi Armell melarang.
" Seperti ini sebentar saja. Aku ingin menikmatinya. " ujar Armell sambil mengeratkan pelukannya.
Seno mengikuti keinginan istrinya. Ia diam dalam pelukan istrinya. Menikmati kebersamaan mereka. Sampai beberapa saat mereka saling diam menikmati irama jantung mereka yang berdebar. Seperti malam pertama menurut Armell. Iapun tersenyum di balik punggung Seno.
Setelah membiarkan posisi seperti itu beberapa saat lamanya, Seno membalikkan badannya menghadap sang istri. Ia cukup terkejut melihat baju yang di kenakan oleh istrinya.
" Baby, kau kelihatan sangat seksi. " bisik Seno sambil terus menatap istrinya.
Armell memalingkan wajahnya karena malu sambil menggigit bibir bawahnya.
" Sepertinya kamu juga sudah mempersiapkannya. " lanjut Seno karena melihat istrinya memakai lingerie yang sangat seksi.
" Mmm.... sekali-sekali memberikan kejutan boleh dong. Masak suamiku terus yang memberi kejutan. " sahut Armell. Kini ia membalas tatapan mata Seno sambil meletakkan tangannya di atas dada bidang Seno.
" Kau tahu, malam ini serasa malam pertama untuk kita. " tukas Seno.
" Bukankah apa yang kita lakukan sekarang adalah apa yang di lakukan oleh pasangan pengantin baru? Pergi berbulan madu di negara yang romantis, menginap di hotel yang mewah, suasana kamar yang romantis juga. Bukankah ini memang seperti malam pertama untuk pengantin baru? " sahut Armell sambil memainkan jari-jarinya di dada Seno.
Naluri kelelakian Seno mulai mendesir. " Di tambah dengan baju yang kamu kenakan. " ujar Seno.
" Hem... Rasanya juga nanti seperti malam pertama. Bukankah kita tidak melakukannya lumayan lama? " goda Armell.
" Menurutku, akan lebih nikmat daripada saat malam pertama. " jawab Seno sambil tangannya mengelus punggung Armell yang terbuka. Karena lingerie yang Armell kenakan terbuka lebar di bagian belakangnya. Matanya juga kini telah beralih ke bawah. Ia melihat lingerie yang di kenakan istrinya juga memperlihatkan dada mon*** istrinya. Ia menelan salivanya.
Armell meraih wajah Seno lalu mendekatkan bibir mereka. Senopun tidak mau kalah. Ia juga mendekatkan bibirnya ke bibir Armell. Lalu bibir mereka saling menempel. Dalam kelembutan, mereka saling menyalurkan hasrat yang telah terpendam selama beberapa bulan terakhir.
Seno mengangkat tubuh Armell di bawa ke dalam gendongannya dan di bawa berjalan menuju tempat tidur tanpa melepas bibir mereka. Sampai di dekat tempat tidur yang bertabur bunga, Seno merebahkan tubuh istrinya perlahan di sana. Masih dengan bibir yang saling memagut.
Seno ikut merebahkan tubuhnya di sisi Armell. Menempel di sebelah Armell. Tangannya kini juga sudah mulai bermain di tempat-tempat yang ia sukai. Suara ******* lembut yang keluar dari mulut istrinya membuat Seno semakin bergairah.
Seno melepas panutannya. Ia sedikit mengangkat tubuhnya dan membuka lingerie yang di kenakan istrinya. Dan kini terpampanglah tubuh bagian atas Armell yang polos. Sedang bagian bawahnya masih sedikit tertutup dengan G-st****.
Lalu Seno melepas kaosnya juga. Dan kegiatan mereka terus berlanjut hingga entah selama berapa lama. Seperti yang sebelum-sebelumnya, Seno selalu memperlakukan istrinya dengan lembut.
Kali ini mereka melakukannya entah berapa kali. Bahkan mereka mulai memejamkan mata saat ayam mulai berkokok. Mereka melakukannya seolah-olah mereka baru melakukan enak-enak untuk pertama kali.
Mereka kini sama-sama tertidur dengan saling berpelukan dalam selimut tebal. Udara yang dingin seakan tidak terasa karena kehangatan yang saling mereka ciptakan.
Hari berikutnya
Seno dan Armell masih sama-sama bergelung di balik selimut. Padahal matahari sudah bersinar dengan terangnya. Seno dan Armell masih asyik dalam mimpi mereka.
Saat jam dinding kamar hotel tersebut menunjukkan pukul 1 siang hari waktu Perancis, Armell mulai menggerakkan tubuhnya. Perutnya terasa keroncongan. Ia hendak mengubah posisi menjadi telentang. Tapi pinggangnya terasa berat. Karena matanya masih terpejam, ia meraba pinggangnya dengan tangan kanannya. Ternyata tangan kekar suaminya yang melingkar erat di atas pinggangnya.
Armell membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia mengangkat tangan suaminya dan di pindahkan ke atas tubuh suaminya sendiri.
Armell menggeliatkan tubuhnya yang terasa berat. Badannya terasa pegal-pegal. Apalagi pinggangnya. Karena gempuran sang suami yang tiada hentinya. Armell bangun dari tidurnya, lalu menggeser tubuhnya ke belakang sehingga ia bisa bersandar di sandaran ranjang.
Ia menatap wajah Seno yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum dan pipinya memerah mengingat aktivitas mereka semalam. Lalu ia mengelus perutnya sambil berdoa semoga segera ada kabar baik kembali.
Armell mengambil karet rambut yang ia taruh di atas nakas lalu mengumpulkan rambutnya jadi satu dan menalinya. Ia hendak turun dari ranjang ketika tiba-tiba tangan kekar suaminya menariknya sehingga tubuhnya kembali terjerembab ke atas ranjang.
" Awwww....." pekik Armell.
Seno kembali memeluk tubuh Armell erat. Ia masih memejamkan matanya.
" Mas, awas tangannya. Mell mau bangun. " ujar Armell sambil berusaha melepas pelukan Seno.
" Udah siang ini mas. Mell mau mandi. Mell mau makan. Lapar. " sahut sang istri.
" Siang? Emang jam berapa ini? " tanya Seno sambil membuka matanya perlahan.
" Udah jam satu ini. Seharusnya kita udah makan siang. Tapi ini, sarapan aja belum. " jawab Armell memelas.
Seno merenggangkan pelukannya, tapi belum melepasnya. Ia membuka matanya sempurna. Lalu mengecup pipi istrinya sekilas.
" Terima kasih untuk yang tadi malam. " ucapnya.
" Mas nyeremin semalam. " ujar Armell.
" Nyeremin gimana? " tanya Seno yang sudah mulai kembali kesadarannya.
" Mas buas banget. Kayak singa. Nggak ada capeknya. Masak iya semalam bisa sampai berkali-kali. Padahal biasanya cuma sekali. " ujar Armell.
" Semalam yang asli keluar. Biasanya aku tahan. Sengaja semalam nggak aku tahan. Pengen puas-puasin. " sahut Seno sambil kembali memeluk erat tubuh Armell.
" Tiga bulan terkekang. Sekalinya bebas, kebablasan. " goda Armell.
" Tapi kamu juga suka. Kamu menikmatinya kan? " goda Seno balik.
" Iya menikmati kalau pas lagi enak-enak. Tapi habis itu, badan rasanya remuk semua. Capek. " gerutu Armell.
" Ntar malem kita coba gaya baru. " goda Seno.
" Gaya baru gimana lagi? Semalem aja udah bergaya-gaya. Gaya nungging, ngesot, ngebor, jumpalitan juga udah. Mau gaya apa lagi emangnya mas? Gaya batu, gaya katak, gaya punggung? " omel Armell.
" Emangnya mau berenang? Pakai gaya katak gaya punggung. " sahut Seno.
" Wah, ide bagus. Kita sarapan, terus berenang yuk mas. Katanya di hotel ini ada kolam renang air hangat. " usul Armell.
" Kamu mau berenang emang bawa baju renang? " tanya Seno.
Armell menggeleng, " Nggak. Eh, tapi kan kalau Mell nonton film luar negeri nih ya mas. Mereka kalau berenang pakai baju renangnya cuma pakai CD sama b**. Lah kan Mell punya kalau itu. Tinggal pakai aja. Gampang kan? " ucap Armell asal.
Cethak
Seno menyentil kening Armell. " Awww.... sakit tahu mas. " protes Armell sambil mengelus dahinya.
" Habisnya kamu kalau ngomong asal. Mana boleh kamu berenang cuma pakai CD sama b**. Nggak ada ya. " protes Seno balik.
" Emang kenapa? " tanya Armell.
" Jangan gila kamu ya. Mau mamerin tubuh kamu ke orang lain? Nggak boleh. Cuma aku aja yang boleh lihat tubuh dalam kamu. " ujar Seno dengan tatapan tajam dan suara tegas.
" Tapi bule-bule itu boleh-boleh aja kok. Temennya juga banyak yang pakai kayak gitu. " tukas Armell.
" Tapi kamu bukan mereka. Aku bilang nggak ya nggak boleh. Mending kamu berendam aja di kamar mandi sana. Berendam di bathtub. Nggak pakai baju juga nggak masalah. Entar aku temenin. " sahut Seno.
" Ck. Kalau berendam di temenin mas, yang ada makin capek. " gerutu Armell.
Seno terkekeh.
" Udah, lepasin tangannya. Aku mau mandi. Habis itu mau sarapan. Kalau mas nggak mau nemenin berenang, Mell mau berenang sendiri. Lagian resepsionisnya bilang, kalau kita mau kolam renang private juga boleh. Jadi berenangnya nggak di lihatin orang lain. Cuma harganya mahal. Tapi nggak masalah kan ya? Orang suamiku kaya raya. " cerocos Armell.
Seno semakin terkekeh, " Istriku udah mulai pintar menggunakan uang suami ya. " ujarnya gemas sambil memencet hidung Armell.
***
bersambung