My Handsome Police

My Handsome Police
Di anggurin



" Baby....Uh...." pagi hari menjelang. Seperti biasa, Armell melakukan aktivitas paginya seperti biasa. Dan suara-suara aneh mulai terdengar dari mulut Seno.


Tapi pagi ini berbeda dari biasanya. Kalau biasanya Armell puas hanya dengan melihat wajah bergairah suaminya, tapi pagi ini, Armell menginginkan lebih.


Setelah membuat suaminya on fire, Armell berbisik di telinga Seno, " Sayang, pengen...." bisiknya manja.


Seno membuka matanya, lalu menangkup kedua pipi Armell. " Apa tidak apa-apa? " tanyanya ragu.


Armell menggeleng, " Dokter bilang kan sudah boleh. Asal nggak terlalu sering dan kamunya nggak terlalu bersemangat. " ujarnya.


" Yakin kamu baby? Akan baik-baik saja? " ttanya Seno kembali.


" Aku yakin nggak pa-pa. Lagian ini juga keinginan dia. " ujar Armell sambil mengelus perut buncitnya. " Karena dia yang ingin kenalan sama Daddy nya, jadi aku yakin, dia akan baik-baik saja. " lanjutnya.


Kini Seno mulai bergerak. Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke istrinya. Lalu memberikan ciuman panas di bibir sang istri. Berbulan-bulan ia selalu menahannya, hari ini ia akan mengeluarkan semuanya.


Seno mulai menanggalkan satu persatu pakaian Armell. Lalu di lihatnya tubuh yang sekarang sudah makin berisi. Sudah tidak kurus seperti saat awal kehamilan dulu. Perutnya yang buncit, membuat Armell semakin seksi di mata Seno.


Seno mengelus perlahan perut buncit istrinya. Lalu mengecupnya sebentar sambil membisikkan sesuatu entah apa itu. Lalu ia naik ke atas dan meraih kembali bibir tipis milik istrinya.


******* dan erangan mulai terdengar dari mulut Armell. Lama ia tidak merasakan sensasi seperti ini. Ia juga sangat merindukannya. Perlahan ia meraih tangan suaminya dan di arahkan ke dadanya. Ia juga sangat merindukan sentuhan sang suami di dadanya.


" Baby, dadamu semakin besar. Semakin enak buat di pegang. " bisik Seno di telinga Armell sambil jari-jarinya menari di dada istrinya.


Dan kegiatan pagi itu berlangsung hingga menjelang siang. Kerinduan akan sentuhan yang mereka rasakan selama beberapa bulan, terbayar sudah pagi ini. Senyum merekah tak pernah lepas dari bibir Seno. Apalagi si Martinez ya guys.... Akhirnya setelah beberapa bulan hanya merasakan licinnya sabun mandi, kini ia kembali merasakan indahnya dan nikmatnya sangkar emasnya.


Sesuai dengan janjinya kepada sang bayi yang masih berada di dalam kandungan istrinya di awal, Seno pagi ini melakukannya dengan sangat perlahan dan lembut. Tapi tetap memberikan sensasi yang luar biasa untuk sang istrinya.


Armell tersenyum menatap wajah tampan suaminya. " Terima kasih banyak, mas. Atas pagi yang indah ini. I love you. " ucap Armell sambil mengecup bibir Seno.


" Hey, iku kata-kataku, baby. Aku belum sempat mengatakannya. Kenapa kamu mengambilnya? " protes Seno.


Armell tersenyum, " Boleh dong sekali-sekali aku yang ngucapin dulu. Kan aku juga dapat enaknya. " sahutnya.


Seno kini ikut tersenyum. " Terima kasih karena telah menjadi perempuan yang istimewa untukku. Terima kasih karena telah bersedia menampung benihku di sini. " ucap Seno sambil mengelus perut polos istrinya. " I love you, baby. I love you so much. Aku sangat bahagia mendapatkanmu sebagai istriku. Sungguh, aku tidak menyangka jika pernikahan kita akan sebahagia ini. " lanjut Seno.


Armell mengangguk dan tersenyum tipis dengan mata yang sayu karena kembali mengantuk.


" Mas, aku ngantuk banget. Hooaammm....Boleh aku tidur lagi? " Armell meminta ijin ke suaminya.


" Tidur lah. Tapi sebentar saja. Karena kamu belum sarapan. " sahut Seno sambil membelai rambut Armell. Lalu mengecup keningnya.


Setelah melihat istrinya sudah tertidur, Seno bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Seno segera menuju ke meja kerja yang ada di kamarnya, dan membuka laptop. Memulai pekerjaannya yang tertunda karena kegiatan pagi yang hot.


Karena serius bekerja, tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala. Seno melihat jam dinding di kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Lalu ia melihat istrinya yang sepertinya masih asyik dengan mimpinya.


Seno beralih dari duduknya. Berjalan menuju tempat tidur. Lalu ia duduk di samping sang istri yang masih tertidur lelap. Karena mengingat sang istri yang semenjak pagi belum terisi apa-apa perutnya, Seno membangunkannya.


" Baby ...." Seno mengelus pipi Armell. " Baby....." bagunnya lagi. Tapi sepertinya Armell masih enggan bangun. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun.


Seno menoel pelan pipi Armell, " Baby ...bangun sayang ..." kali ini Armell mulai bergerak. Ia menggeliat sambil perlahan membuka sebelah matanya. Menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya.


" Jam berapa ini mas? " tanyanya dengan suara serak.


" Sudah jam setengah satu siang. Ayo bangun. Jangan tidur melulu. Kamu ini sudah seperti putri tidur saja. Kalau sudah tidur, susah bangunnya. Masak iya anakku besok jadi tukang tidur. " canda Seno.


Armell memanyunkan bibirnya.


" Udah ayo bangun. Terus mandi. " ujar Seno.


Tiba-tiba Armell memasang wajah manisnya dengan puppy eyes nya. Seno menghela nafas berat setiap Armell menunjukkan wajah seperti itu. Seno yakin, kali ini pasti akan sama.


" Baby, jangan seperti itu. Tadi pagi kan udah. " ucap Seno.


" Iya boleh. Tapi nggak sering-sering juga. Kasihan dedek bayinya entar. " sahut Seno.


" I hiks....Tapi kan dedek bayinya yang pengen di jenguk Daddy-nya lagi. " rajuk Armell lagi.


" Baby, jangan sekarang, oke. Kamu belum makan juga dari pagi. Kasihan anak kamu juga kan kalau nggak di kasih makan sama mommy-nya. " rayu Seno.


Dan rayuan Seno kali ini sepertinya berhasil. Armell lalu menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dan dengan santainya tanpa malu dengan sang suami. Armell berjalan melenggang ke kamar mandi dengan tanpa sehelai benangpun.


Seno menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurb istrinya. Meskipun ia menolak sang istri, tapi jangan lupakan Martinez yang tidak bisa melihat kenikmatan di depan mata.


💫💫💫


Hari kian berganti. Bulanpun telah berganti. Kini usia kandungan Armell sudah memasuki usia 7 bulan. Ngidam yang di alami Armell pun sudah berubah. Tanpa harus berbuat mesum di pagi hari, kini Armell sudah tidak mengalami mual dan muntah.


Kala masih usia 6 bulan kandungannya, Seno tidak berani meninggalkan Armell kemanapun. Apalagi jika pagi hari. Karena jika saat pagi hari Armell tidak melakukan g****-gre** ke Seno, sudah di pastikan Armell akan mengalami mual dan muntah.


Kehidupan rumah tangga Seno dan Armell kian hari kian romantis saja. Mereka saling mencintai melebihi sebelumnya. Dan Seno makin perhatian sama Armell.


Saat ini, Seno dan Armell sedang duduk berdua bersantai di bangku taman belakang rumah. Sambil menikmati camilan hangat dan segelas teh hangat, mereka menikmati pemandangan sore. Mereka duduk saling berdampingan dengan salah satu tangan Armell memeluk lengan Seno dan sebelah tangannya lagi berada di atas perutnya sambil mengelus perutnya yang sudah semakin membuncit. Kepalanya ia sandarkan di pundak sang suami. Sesekali Seno mengecup puncak kepalanya.


" Baby, kapan kita belanja buat keperluan anak kita? " tanya Seno yang tangannya ikut mengelus perut Armell.


" Nanti aja kalau usia kandunganku sudah 8 bulan saja mas. Kata ibu, kalau masih lama bayinya lahir udah di siapin baju-bajunya, pamali. Nggak boleh. " sahut Armell.


" Tapi di kamar, mama udah beliin box bayi, stroller juga. " ujar Seno.


" Itu kan mama yang beli. Bukan kita. Jadi anggap aja itu nggak termasuk pamali. Lagian mas tahu sendiri gimana hebohnya mama. Kalau di larang, takutnya mama malah jadi mikir yang enggak-enggak. Jadi biarlah. " sahut Armell.


" Oke. Tapi apa kamu nggak ingin beli baju lagi? Sepertinya baju-baju yang kamu beli saat hamil 4 bulan kemarin, sudah hampir nggak muat. " lanjut Seno.


" Iya ya.. Aku makin gemuk ya mas? Jelek ya? " tanya Armell sambil menatap wajah Seno.


Seno tersenyum. " Siapa yang bilang kamu jadi jelek? Hem? Semenjak hamil, aura kamu itu semakin terpancar. Mana mungkin kamu jadi jelek? " Tutur Seno.


" Tapi kan tubuh aku jadi melar semua. Jadi gemuk banget. Berat badan aku udah naik 10 kg ini. Mas jadi berkurang deh cintanya ke aku. " ujar Armell.


Seno kembali tersenyum lalu mengecup kening Armell. Ia menatap dalam-dalam mata Armell yang juga sedang menatapnya.


" Aku mencintaimu bukan karena badan kamu. Jadi mau kamu tambah gemuk, tidak akan merubah perasaanku ke kamu. Sampai kapanpun, aku akan selalu cinta sama kamu. Dan cintaku, tidak akan pernah berkurang. Malah akan bertambah setiap hari. Apalagi kamu gemuk, karena kamu sedang mengandung anak aku. Anak kita. Jadi aku malah semakin cinta sama kamu. " Lalu Seno mendekap tubuh Armell.


" Malah aku merasa kamu terlihat makin seksi seperti ini. Tubuh kamu jadi berisi. Lebih enak buat di pegangnya. Lebih pas di telapak tangan aku. " ujar Seno sambil masih mendekap tubuh Armell.


Mendengar ucapan suaminya, Armell melepas paksa dekapan suaminya. " Mas....Mulai deh mesumnya. " protes Armell.


" Siapa yang mesum sih baby? Aku cuma mengatakan realita kok. " ujar Seno.


" Ck. Ngeles aja. " gerutu Armell.


" Baby, malam ini kita berolahraga yuk. Udah lebih satu Minggu ini Martinez di anggurin. " ajak Seno.


" Apaan sih mas. Baru juga satu Minggu. Kemarin 5 bulan juga di anggurin, baik-baik saja. " sahut Armell.


" Kenapa sekarang kamu jadi kayak dulu lagi? Susah bener di ajak enak-enakan. Emang anak aku nggak pengen gitu di tengokin daddy-nya? Dulu aja pengen di tengokin melulu. " protes Seno.


" Nggak. " sahut Armell santai sambil berdiri dan meninggalkan Seno sendirian.


" Yah, di anggurin lagi deh..." gumam Seno sambil menatap punggung istrinya.


***


bersambung