
Satu tahun kemudian
Kehidupan Seno dan Armell kian hari kian harmonis. Cinta yang mereka tautkan dalam hati mereka kian merekat dan kian tumbuh kembang. Kehadiran si kecil Daniq menambah keharmonisan dalam rumah tangga mereka.
Si kecil Daniq kini sudah mulai bisa berjalan meskipun baru dua tiga langkah. Ia juga sudah mulai bisa belajar berbicara, meskipun hanya memanggil mommy-nya dengan sebutan ' mam ' dan Daddy-nya dengan sebutan ' dad '. Tapi ia juga bisa memanggil Pipit dengan ' Ati ' yang berasal dari kata onty.
Kini Pipit tinggal di rumah Seno. Ia bekerja sambil kuliah di sana. Meninggalkan kampung halaman seperti Armell. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan keponakannya karena memang Daniq sangat dekat dengannya.
Karena si kecil Daniq yang baru senang-senangnya belajar berjalan, membuat Armell sering kecapekan. Si kecil Daniq selalu ingin berjalan kesana dan kemari. Mengambil apapun yang ada di atas meja yang bisa ia raih. Bahkan Daniq sudah memecahkan beberapa guci mahal yang berada di beberapa sudut ruangan. Vas bunga yang berada di atas meja. Semua hancur oleh tangan kecil Daniq.
Tidak hanya guci yang berada di rumahnya. Bahkan guci kesayangan granma-nya yang ada di rumah besar juga menjadi korban. Tapi karena yang melakukan adalah tangan kecil cucu tersayangnya, beliau hanya tersenyum saat melihat guci kesayangannya hancur berkeping-keping. Dan si kecil Daniq bertepuk tangan sambil tertawa riang kala ia memecahkan sesuatu. Ia sangat menyukainya karena bunyinya yang nyaring.
Malam itu, setelah menidurkan si kecil Daniq, Armell masuk ke dalam kamarnya. Sang suami nampak duduk di atas ranjang dengan bersandar di badan ranjang dan kaki saling bertumpangan. Ia sedang serius dengan ponselnya. Sampai sang istri masuk ke dalam kamar saja ia tidak mengetahuinya.
Armell menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan cukup keras. Ia merebahkan diri telentang. Membuat sang suami agak sedikit terkejut.
" Baby, kau membuatku terkejut. " keluh Seno.
" Maaf. Habis mas sibuk banget akhir-akhir ini. Ke kantor pagi buta, sampai rumah sudah malam. Udah gitu, di rumah juga sibuk sama pekerjaan, sama gadget. " jawab Armell sambil memejamkan matanya.
Sudah satu minggu ini, Seno memang sangat di sibukkan dengan pekerjaannya. Ia mendapatkan proyek baru yang bernilai milyaran rupiah. Dan sang klien minta rencana budget real secepatnya. Jadi ia dan Rezky di bantu oleh Dion lembur tiap hari untuk menyelesaikan perhitungannya.
" Sorry baby. Aku pastikan, hari ini yang terakhir aku pulang malam. Ini tadi aku mengirim email budget ke tuan Boby Permana. Klien aku. Dan sekarang semua sudah selesai. " sahut Seno dengan rasa bersalahnya. Ia menaruh ponselnya ke atas nakas yang ada di sampingnya.
Armell tidak menyahut. Ia masih memejamkan matanya. Ia merasa sangat capek.
Seno menggeser duduknya mendekati Armell yang sedang tidur telentang.
" Apa Dan sudah tidur? " tanya Seno.
" Ehm . " jawab Armell sambil mengangguk.
" Kamu sepertinya sangat lelah. " ujar Seno sambil membelai rambut panjang Armell.
" Ehm.." jawab Armell sambil mengangguk.
" Aku pijitin. " ujar Seno sambil mengambil tangan Armell dan mulai memijit perlahan.
" Nggak usah mas. " Armell berusaha menarik tangannya, tapi di tahan oleh Seno. " Mas juga capek. Udah kerja lembur satu minggu lebih. " lanjut Armell sambil membuka matanya kembali.
" Aku nggak capek. Di kantor kan aku hanya duduk dan berjalan sesekali. Tapi kamu di rumah, jagain si kecil, pasti capek. " ujar Seno sambil tetap memijit Armell. Armell tersenyum kepada suaminya. Ia membiarkan suaminya memijit tubuhnya.
" Gimana kalau besok kamu pergi ke salon? Sesekali pergilah memanjakan diri kamu. Pijat refleksi, spa. " usul Seno.
" Terus Dan gimana? Nggak mungkin aku ninggalin Dan cuma sama mbak Siti mas. Kasihan mbak Siti. Anak kamu itu super aktifnya. Nggak mau diam anaknya. " sahut Armell.
" Besok aku akan mengantarmu ke salon langganan mama, lalu aku akan membawa Dan ke kantor. " ujar Seno.
" Hem? Mas mau bawa Daniq ke kantor? Yakin? Mell jamin, mas nggak akan bisa kerja. " seru Armell sambil sedikit tertawa.
" Nggak masalah. Aku akan bermain dengannya seharian. Aku akan mengenalkannya dengan perusahaan. Besok, dia yang akan mengambil alih perusahaan itu. Dulu papa juga gitu. Aku sering di ajak ke kantor. " sahut Seno.
" Terserah mas ajalah. " jawab Armell pada akhirnya.
" Ajaklah Pipit. Ajak dia bersenang-senang juga. Aku akan memberinya cuti besok. Besok, lakukan apapun yang kamu mau. Jangan pikirkan yang lain. Sudah lama kamu tidak shopping. Belilah beberapa potong baju baru. " titah Seno.
" Bajuku masih banyak mas. Buat apa beli baju baru lagi. Mubazir sama uangnya. " jawab Armell yang sekarang sudah dalam posisi tengkurap. Seno memijat punggungnya.
" Kamu ini memang beda sama perempuan yang lain. Kalau perempuan lain, sudah pasti akan kegirangan kalau di suruh shopping. Kalau kamu.... selalu menolak. " ujar Seno.
" Ya ..kalau masih ada dan masih layak untuk di pakai, kenapa mesti buang-buang uang. Mending uangnya di tabung. Buat masa depan anak-anak kita besok. " sahut Armell.
" Oke, baiklah. Terserah kamu, baby. Pokoknya tomorrow is yours. " ujar Seno.
" Hem..." sahut Seno. " Kalau kamu besok ajak mama untuk bersenang-senang, sekarang waktunya kamu mengajakku bersenang-senang, baby. " ujar Seno.
" Hem? " tanya Armell sambil merubah posisi tidurnya menjadi miring karena ia ingin melihat suaminya.
" Aku merindukanmu, baby. Satu minggu lebih aku tidak dapat jatah. Martinez sudah mengeluh terus-terusan. " ujar Seno merayu Armell.
" Siapa yang suruh pulang larut malam terus. " jawab Armell sambil menelungkup kembali. Ia ingin menggoda suaminya. Ia akan berpura-pura merajuk dan menolak.
" Pekerjaan baby. Bukan aku yang mau. Ayolah, baby. Aku sangat merindukanmu. " ujar Seno sambil menciumi tengkuk Armell.
Seno tidak akan menyerah. Ia sangat merindukan istrinya. Bibir dan tangannya mulai bekerja. Tangannya mengelus punggung Armell dan bibirnya mencium tengkuk dan leher Armell dari belakang.
Seperti biasa, Armell tidak akan menang melawan suaminya. Jika sang suami sudah menginginkan, ia tidak akan sanggup untuk berkata tidak. Tangan terampil sang suami selalu bisa merubah segalanya. Kini yang terdengar hanya ******* dan suara bibir yang sedang bekerja.
" Baby, Dan sudah berusia satu tahun lebih. Dia sudah waktunya punya adik. Kita sudah punya prince di rumah kita. Ayo kita buat princess kecil juga. " ujar Seno di sela-sela aktivitasnya.
Armell menggeleng. " Tunggu sampai Dan berusia dua tahun, massshhh ...Ah ..... Kasihan kalau punya adik sekarang. " sahut Armell dengan suara mendayu-dayu.
Tak lama kemudian, seno memasukkan Martinez ke dalam sarangnya. Suara ******* makin mendayu-dayu di dalam dinginnya malam. Dan mereka mengerang berteriak bersamaan kala mereka mencapai puncak bersama.
" Thank you, baby. I love you so much. For yesterday, now, and tomorrow. " ucap Seno setelah aktivitas malam mereka usai.
" I love you too, honey. " jawab Armell sambil tersenyum menatap sang suami.
Lelah, tapi nikmat. Itulah yang mereka rasakan malam ini. Tidur memejamkan mata dengan saling berpelukan. Sungguh indah kehidupan yang Tuhan berikan.
💫💫💫
Dua tahun telah berlalu.
Seperti yang di katakan Armell malam itu. Setelah Prince Dan berusia dua tahun, Armell kembali mengandung. Saat ini, usia kandungannya sudah menginjak usia 3 bulan. Ia tidak lagi mengalami morning sick seperti kala mengandung Prince Dan. Ia malah aktif sekali di kehamilannya kali ini. Tapi meskipun begitu, Seno tetap memberikannya perhatian ekstra.
" Sayang, jangan kejar-kejaran. Nanti jatuh, kepentok meja. " pekik Armell saat melihat kedua putranya berlarian saling kejar-kejaran. Siapa lagi kalau bukan Arvin dan Dan. Mereka kejar-kejaran dengan saling tertawa. Dan mbak Siti mengikuti mereka dari belakang.
" Sayang, kasihan mbak Siti loh. Mending mainan lego aja. " pekiknya kembali. Ia duduk di sofa. Saat ia hendak berdiri, sebuah tangan kekar melarangnya.
" Mau kemana? " tanya Seno.
" Itu mas. Mereka kejar-kejaran kayak gitu. Kalau jatuh gimana? " ujar Armell.
" Baby, mereka itu laki-laki. Biarkan saja. Kalau mereka jatuh, justru mereka akan belajar dari pengalaman mereka sendiri. Mereka akan tahu kalau mereka kejar-kejaran dan jatuh itu sakit rasanya. " sahut Seno memberikan pengertian.
Tapi Armell, sebagai seorang ibu, tetap saja merasa khawatir. Ia tak henti-hentinya mengamati anak-anaknya dengan sesekali seperti meringis miris kala putra-putranya hendak menabrak meja ataupun pintu.
Seno tersenyum sambil mengelus perut Armell yang sudah agak buncit. " Jangan terlalu panik begitu. Kasihan yang di dalam sini. Kalau mommy-nya stress, dia akan ikut stress. Mending kita ke taman belakang aja yuk. " ajak Seno supaya istrinya tidak bertambah stress melihat tingkah anak-anaknya.
Begitulah kehidupan rumah tangga Armell dan Seno. Selalu di liputi kebahagiaan. Saling memberikan pengertian, saling menjaga, dan saling mencintai.
***
Tamat...
Akhirnya, cerita Armell dan Seno, sampai di sini dulu. Insyaallah cerita kelanjutan mereka, akan othor sempilin di cerita Pipit dan Bryan yah....Jadi kalian tidak merindukan mereka....
Maaf kalau endingnya hanya seperti ini. Karena cerita mereka akan tetap ada dan berlanjut di lapak Pipit juga Bryan...
Jangan lupa klik favorit di novel ini, biar kalau othor kasih pengumuman launching novel cerita Pipit juga Bryan, kalian langsung tahu dan tidak ketinggalan.
Rencananya sih othor bakal mulai nulis cerita Pipit dan Bryan di akhir bulan ini...Kalian tunggu saja yah .. Othor perlu sedikit waktu luang untuk memikirkan dan mengumpulkan ide cerita buat Pipit dan Bryan biar tidak kalah menarik dari cerita Armell dan Seno...
Salam lope lope dari othor.....🥰🥰🥰😍😍😍