
Ceklek
Seno membuka pintu kamarnya di rumah utama. Ia masuk ke dalam. Lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Samar-samar tercium aroma Armell di sana.
Seno menghirup dalam-dalam aroma itu. " Bahkan aromamu tercium sampai di kamar ini, baby. Aku bisa gila jika begini terus. Ah ...." gumam Seno sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya. " Aku merindukanmu. " ucapnya lirih.
Saat Seno sedang mau terlelap, tiba-tiba terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Seno langsung kembali membuka matanya lebar-lebar. Ia mencoba mendengarkannya lagi. Karena aneh jika ada orang di dalam kamar mandinya. Tidak ada yang berani menggunakan fasilitas apapun yang ada di kamarnya.
Seno kembali menajamkan pendengarannya. Sudah tidak ada suara.
' Ah, mungkin gue salah dengar. Karena gue kurang tidur. ' batin Seno. Iapun kembali merebahkan tubuhnya.
Baru saja ia memejamkan matanya kembali, terdengar pintu kamar mandi di buka dari dalam. Seno kembali membuka matanya. Dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat seseorang keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandinya.
Sedangkan orang yang dari dalam kamar mandi, siapa lagi kalau bukan Armell istrinya, belum menyadari keberadaannya. Setelah keluar dari kamar mandi, armell langsung menutup pintu kamar mandi sambil membelakangi Seno.
Seno segera bangun dari tempat tidur dan memeluk Armell dari belakang. Ia ingin meluapkan kerinduannya. Daaaannnn......brak...
" Au....." pekik Seno.
Karena Armell terkejut tiba-tiba ada orang yang memeluknya dari belakang, secara reflek Armell menyikut perut Seno, kemudian membanting tubuh Seno ke lantai.
Dan alhasil, sekarang di sinilah Seno berakhir. Di lantai keramik yang keras. Sambil menggosok pantatnya yang terasa ngilu karena berciuman langsung dengan lantai.
" Maaass...." teriak Armell. Ia lalu membantu suaminya berdiri. Membantunya duduk di atas tempat tidur.
" Tega kamu beb....sshhh..... Ketemu suami setelah beberapa hari menghilang, bukannya di sayang, di cium, di peluk...ini malah di banting. " keluh Seno sambil mendesis kesakitan dan masih menggosok pantatnya.
" Lagian mas datang udah kayak hantu aja. Nggak ada suaranya. Mell mana tahu kalau yang meluk itu mas. " sahut Armell ketus yang tidak mau di salahkan.
Sebenarnya Armell sangat senang bertemu dengan suaminya. Tapi karena ultimatum dari sang mertua yang mengatakan, ' Kamu jangan mudah goyah. Jangan langsung memaafkan suamimu. Kerjai saja dia dulu. Kasih dia pelajaran. Biar tidak mengulangi kesalahannya. '
Akhirnya sekarang Armell harus berakting. Armell beranjak berdiri. Tapi tangannya di cekal oleh Seno.
" Mau kemana kamu? " tanya Seno.
" Terserah aku dong, mau kemana. Kenapa mesti nanya-nanya? Nggak boleh? Kemarin mas pergi tanpa pamit aja boleh. Kok aku nggak? Nggak adil itu namanya. " jawab Armell panjang lebar tanpa melihat ke arah Seno.
Seno menarik nafas dalam-dalam. Susah urusannya kalau ibu negara sudah dalam mode ngambek seperti ini. Ia melepas tangannya dari Armell. Armell kembali akan melangkah, tapi kembali Seno memegang tangannya.
" Lepas bisa nggak sih. " pinta Armell ketus.
" Baby...."
" Lepas. " Armell menepis tangan Seno. " Aku mau ganti baju. " lanjut Armell kemudian ia berjalan mendekat ke lemari baju dan mengambil bajunya dari sana. Setelah mengambil baju, Armell berjalan menuju kamar mandi.
" Kamu ngapain ke kamar mandi lagi? " tanya Seno.
" Ya mau ganti baju lah. " jawab Armell.
" Kenapa harus di kamar mandi. Biasanya kan kamu ganti bajunya di kamar. " ujar Seno.
" Ogah! " Armell langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat, Armell keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan memakai pakaian komplit.
Habis dari kamar mandi, Armell menyisir rambutnya dan memoles wajahnya dengan bedak dan lipstik tipis. Sedangkan Seno, hanya memperhatikan apa yang ia lakukan.
Setelah selesai berdandan, Armell beranjak menuju pintu. Tapi tangannya segera di cekap lagi sama Seno.
" Apa kamu tidak merindukan aku? " tanya Seno.
" Nggak tuh. " jawab Armell tanpa melihat Seno.
" Tapi aku merindukanmu. " Seno berdiri, kemudian memeluk Armell dari belakang. " Sangat merindukanmu. " bisiknya.
Jantung Armell berdetak dengan kencang. Ia juga sangat merindukan suaminya tentu saja. Tapi karena ia sedang berakting, jadi dia harus bisa menahan diri untuk tidak membalas pelukan suaminya.
" Aku sangat merindukanmu, baby. Maafkan aku. Don't leave me again. " ucap Seno masih dengan memeluk tubuh Armell erat.
Armell memejamkan matanya meresapi pelukan suaminya.
" Baby, I am so sorry. Maaf, aku telah menyakitimu. Maaf aku udah bentak-bentak kamu, menuduh kamu yang tidak-tidak. Dan maaf juga udah pergi ninggalin kamu malam itu tanpa pamit. " ucap Seno masih sambil memeluk Armell.
" Mengatakan kata maaf itu memang sangat mudah. " sahut Armell.
" Aku sungguh-sungguh meminta maaf, baby. Tidak hanya di mulut saja. " jawab Seno. Ia melepas pelukannya, lalu membalikkan badan Armell sehingga menghadap kepada dia.
" Look at me. Look at my eyes, baby. Apa aku berpura-pura?" ujar Seno sambil menatap dalam-dalam manik mata Armell. Armellpun menatap dalam ke manik mata Seno. Armell melihat tidak ada kebohongan di sana.
" Aku benar-benar menyesal. Tidak seharusnya aku termakan hasutan orang itu. " lanjut Seno.
" Karena aku terlalu cemburu. " sahut Seno cepat.
" Cemburu? " ucap Armell kemudian ia terkekeh. " Mana mungkin mas cemburu? Mas tahu artinya cemburu itu apa? "
" Tentu saja aku tahu. Aku cemburu. Karena aku...." Seno menangkup kedua pipi Armell. " Karena aku mencintai kamu. Sangat mencintai kamu. " ucap Seno serius sambil menatap kedua manik mata Armell.
Bunga-bunga bertebaran di hati Armell. Ia begitu bahagia mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Baru kali Seno mengatakan cinta kepadanya. Armell mengulum senyumnya. Ia bahkan ingin jingkrak-jingkrak saking senangnya. Tapi karena peringatan sang mertua, ia hanya bisa mengulum senyumnya.
" Kalau mas cinta sama aku, kenapa tidak percaya sama aku? Kenapa lebih percaya sama foto itu. Jelas-jelas kelihatan foto itu editan. " gerutu Armell.
" Iya, maaf. Karena terlalu cemburu, aku jadi tidak bisa berpikir jernih. Maaf karena tidak memberimu kesempatan untuk menceritakan semuanya. " ujar Seno penuh dengan penyesalan.
" Maaf sekarang sudah tidak ada gunanya mas. Semua sudah terjadi. Aku sudah terlanjur kecewa sama kamu. Kamu sudah tidak mempercayaiku. " sahut Armell masih dengan sandiwaranya.
" Aku tahu semua sudah terlanjur terjadi. Tapi setidaknya berilah aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku berjanji, hal seperti kemarin tidak akan terulang kembali. Aku akan selalu mempercayaimu. " tukas Seno.
" Yakin kamu bisa mas? " tanya Armell sambil memicingkan matanya.
" Mas, hari itu, bukan hanya kamu yang mendapatkan foto-foto nggak jelas gitu. Akupun sama. Aku juga mendapatkan foto mas sama seorang perempuan. Akupun marah mas saat itu. Tapi aku masih bisa berpikir jernih. Aku mengamati kembali dan teliti foto-foto itu. Akhirnya aku menemukan kejanggalan dalam foto itu. " ujar Armell.
" Berapa usiamu sekarang mas? Usiamu berada di atasku. Dan urusan cinta, cemburu, kamu pasti sudah pernah merasakannya sebelumnya. Karena aku yakin, sebelum aku, mas pasti pernah dekat dengan perempuan. Tapi aku tidak mas. Aku sama sekali nol pengalaman masalah cinta dan cemburu. Tapi aku tetap bisa mengendalikan emosiku. " lanjut Armell. Seno hanya bisa menunduk.
" Maafkan aku, baby. Aku tahu aku sudah kekanak-kanakan. Tidak seharusnya di umurku yang segini aku masih seperti ABG labil. " sahut Seno kemudian. " Tapi foto apa yang kamu terima? Apa fotoku bersama Mariana lagi? "
Armell menggeleng, " Bukan mas. " Armell berjalan ke nakas. Mengambil ponselnya dari atas nakas. Dan menunjukkan foto itu ke Seno.
" Perempuan dari masa lalu kamu kan mas? " tanya Armell saat Seno tengah melihat foto itu.
Seno meletakkan ponsel Armell di ranjang yang ada di sebelahnya berdiri. Ia menarik nafas dalam-dalam.
" Mau menceritakan masa lalumu? " tanya Armell.
" Dia memang masa laluku. Namanya Stella. ......" Seno menceritakan semuanya kepada Armell tanpa terkecuali. Termasuk adanya Robert diantara Seno dan Stella.
" Jadi kemarin mas mengangapku sama seperti mantanmu itu? Mas pikir aku ini cewek matrealistis gitu? Mas, seandainya aku tahu kamu anak orang kaya seperti ini, justru aku akan menolak menikah denganmu. Aku takut dengan yang namanya kekayaan. " ujar Armell.
" Maaf...." Seno kembali menunduk.
" Tega ya mas kamu. " ujar Armell sambil membuat suaranya seakan ingin menangis.
Sebenarnya Armell sudah ingin menyudahi sandiwara ini. Ia tidak tega melihat suaminya yang seperti terpuruk dan putus asa.
" Maaf...."
" Tapi berhubung terlanjur kamu udah unboxing aku, terpaksa aku kasih kamu kesempatan lagi. " cetus Armell.
" Hah? Apa baby? " Seno terkejut.
" Iya, aku nggak mau jadi janda muda. Masak iya gadis secantik aku, masih muda gini jadi janda. Nggak keren dong. Mana aku jadi jandanya cowok sekeren kamu. " ujar Armell.
Seno tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Armell. Armell hendak membalas pelukan itu tapi...
" Mas, bau kamu kok nggak enak gini. " protes Armell sambil menutup hidungnya. " Udah berapa hari kamu nggak mandi? Hoek...Hoek..." perut Armell terasa di aduk-aduk.
Seno segera melepas pelukannya. Ia menciumi bau tubuhnya sendiri.
" Nggak bau gini kok baby. Masih sama kayak tadi pagi. Meskipun udah seharian, parfumnya juga masih terasa. Lagian seharian aku di ruangan ber-AC terus. Nggak keringetan sama sekali. Aku juga mandi tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. " ujar Seno.
" Nggak mau. Pokoknya jangan dekat-dekat Mell. Mell mau muntah kalau nyium bau mas. Mending mas sekarang mandi. Terus tidur. " ucap Armell sambil masih menutup hidungnya.
" Mas pasti kurang tidur. Tuh, matanya ada lingkaran hitamnya. Kalau mama yang bilang gini, ' You like a ghost. ' " ujar Armell menirukan mama mertuanya.
Armell berlalu, mengambil tasnya, dan membuka pintu kamar.
" Kamu mau kemana? " tanya Seno.
" Mau jalan-jalan sama mama. " jawab Armell.
" Kok aku di tinggalin. " protes Seno.
" Mas tidur aja. Nanti waktu makan malam juga kami udah balik. " jawab Armell.
Ia membuka pintu kamar. " Jangan lupa mandi dulu. Biar nggak bau. " ucap Armell sampai akhirnya ia menutup pintu kamarnya. Di luar pintu, ia tersenyum senang. Uhhh, senangnya yang habis ngerjain suami...
***
bersambung