
Rombongan keluarga Adiguna kini sudah sampai di rumah sakit dengan selamat.
Bryan sudah siap dengan dokter Ratna dan beberapa suster di depan pintu masuk gedung rumah sakit dengan brankar terbaik juga. Mereka berjajar rapi bak mau kedatangan seorang pejabat.
Melihat mobil keluarga Adiguna tiba, suster segera bersiap mendorong brankar dan di dekatkan ke mobil. Seno membuka pintu mobil dan segera mengangkat tubuh Armell. Pas ketika ia di bawa keluar dari mobil, rasa sakit kembali datang. Armell mengalungkan kedua tangannya ke leher Seno erat mencari kekuatan. Sambil tanpa ia sadari, ia kembali menggigit bahu Seno. Lagi-lagi Seno hanya bisa meringis menahan perih.
Saat tubuhnya akan di rebahkan di atas brankar, kedua tangan Armell tetap mengalung ke leher suaminya erat. Seolah ia enggan untuk berpindah tempat. Akhirnya Seno tidak jadi meletakkan Armell di atas brankar. Ia kembali membawa Armell ke dalam gendongannya. Salah satu satpam rumah sakit mengambil alih brankar kosong itu dari tangan para suster.
Tanpa melalui ruang UGD seperti pasien-pasien lainnya, Armell langsung di bawa masuk ke ruang penanganan oleh Seno. Bryan, dokter Ratna, suster-suster serta keluarga yang lain mengikuti dari belakang.
Setelah sampai di dekat ruang penanganan, salah satu suster berlari terlebih dahulu dan membuka pintu lebar-lebar. Seno membawa Armell masuk ke dalam ruang penanganan. Sedangkan anggota keluarga yang lain menunggu di luar.
" Lo ngapain ikut masuk kesini? " tanya Seno setelah merebahkan tubuh sang istri di atas brankar.
" Lo lupa, gue juga dokter di sini. " tukas Bryan.
" Tapi Lo bukan dokter kandungan. Keluar lo sana. Apa jangan-jangan Lo mau lihat punya bini gue? Masih kurang lo lihat punya banyak cewek yang udah Lo tidurin? " seru Seno.
Pletak ...( bunyi kepala Seno di jitak oleh Bryan ).
" Auu...." Seno memekik.
" Kalau ngomong tu di jaga. Siapa yang mau lihat punya bini lo? Jangan suka menuduh. Gue di sini nemenin dokter Ratna. Lo lupa, dari awal siapa yang tahu kondisi bini lo? Hem? " seru Bryan santai sambil berjalan menuju samping ranjang Armell.
Sedangkan dokter Ratna yang mendengar perdebatan dua sahabat beda profesi itu hanya menggelengkan kepalanya. Beliau mulai mengecek pembukaan berapa yang di alami oleh Armell. Setelah suster mengangkat kedua kaki Armell dan membukanya lebar, lalu menyingkap baju Armell.
" Gimana dok? Apa sudah waktunya? " tanya Bryan saat melihat dokter Ratna selesai memeriksa.
Dokter Ratna menggeleng. Seno melihat mereka berdua cengo karena tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
" Baru buka lima. " jawab dokter Ratna.
" Apanya yang buka lima dok? " tanya Seno.
" Nona Armell baru pembukaan lima jalan lahir bayinya. " jawab dokter Ratna.
Seno mengernyitkan alisnya. " Pembukaan lima? Harusnya buka berapa sampai lahir? " tanyanya.
" Sepuluh sempurna, tuan. " jawab dokter Ratna.
" Sepuluh? Kenapa masih kurang banyak dok? Padahal saya sudah melakukan saran dokter. Supaya sering-sering beraktivitas dengan istri saya. Jadi jalan lahir bayinya bisa melebar. Kok ini masih kurang lebar? Apa perlu sekarang kami beraktivitas lagi supaya pembukaannya menjadi sepuluh? " tanya Seno dengan tak tahu malunya.
Pletak...( lagi-lagi Bryan menjitak kepala Seno ).
" Ck. Kenapa lo jitak kepala gue lagi? " protes Seno.
" Kalau punya mulut itu di jaga. Pikiran Lo mesum mulu. Tuh lihat muka bini Lo merah kayak gitu karena malu. Tuh, suster-suster juga gitu. Mukanya memerah padahal bukan mereka yang lo ajak berolahraga. " seru Bryan kesal.
" Pembukaan yang di maksud dokter Ratna itu terjadi bukan karena jalan yang tiap malam lo buat. Tapi anak Lo yang bikin jalan sendiri. Dan jalan yang di bikin anak Lo, masih kurang lebar. " jelas Bryan.
" Ya kan kasihan anak gue kalau harus buat jalan sendiri. Gue mau bantuin. Boleh kan dok? " tanya Seno ke dokter Ratna.
" Lo mau, belalai gajah lo nendang kepala anak Lo? Kalau Lo mau tahu, kepala anak Lo tuh udah di sini. " ujar Bryan sambil menunjuk ke perut Armell bagian bawah.
Plak...( bunyi tangan Seno memukul tangan Bryan ).
" Lo nggak cari-cari kesempatan buat sentuh-sentuh bini gue. " ucap Seno dengan tatapan tajamnya.
" E lah...Gue cuma nunjukin ke elo. Dasar posesif akut. " protes Bryan.
" Bisa diam nggak sih kalian berdua!!" bentak Armell yang merasa berisik oleh perdebatan unfaedah dua laki-laki tampan di depannya ini.
" Mas, aku tuh mau ngelahirin ya. Sakit ini. Mas malah berdebat tentang sesuatu yang memalukan. " protes Armell.
" Itu bukan hal yang memalukan baby. Aku hanya ingin membantu membukakan jalan buat anak kita biar dia cepet keluar. Jadi kamu nggak perlu merasakan sakit terlalu lama. " seru Seno.
" Lo pernah di ajarin nggak sih waktu sekolah. Pelajaran biologi. " ujar Bryan.
" Gue tidur. Gue cuma tertarik sama pelajaran ekonomi, mathematics, sama olahraga. " seru Seno.
" Pantesan Lo nggak mudeng soal beginian. " ledek Bryan.
" Yang penting gue sukses bikin anak. Daripada elo? Sering nabur benih tapi nggak ada yang jadi. Kecebong lo kualitas KW. Punya gue dong kualitas no 1. " ledek Seno gantian.
" Enak aja Lo ngomong ya. Kecebong gue kualitas super. Cuma selama ini gue hati-hati, gue tampung tuh benih gue biar nggak sembarangan tumbuh di perut sembarangan cewek. Gini-gini gue juga lagi nyari calon induk semang yang kualitasnya juga super. " seru Bryan.
" Mas keluar aja deh daripada di sini bikin pusing. " ujar Armell.
" Kok gitu beb? " protes Seno.
" Rasain Lo. " seru Bryan.
" Dokter Bryan juga mending keluar. Daripada anak Mell nggak keluar-keluar karena takut otaknya terkontaminasi sama omongan Daddy-nya sama uncle-nya. " jawab Armell.
" Dok, dari pembukaan lima ke sepuluh apa masih lama dok? " tanya Armell.
" Masing-masing orang berbeda nona. Ada yang lima jam lagi, sepuluh jam lagi, tapi ada juga yang hanya satu jam. Tergantung bayinya juga dan kondisi sang ibu. " sahut dokter Ratna.
" Berhubung masih lumayan lama, nona akan kami bawa ke ruang rawat inap sekarang, sambil menunggu hingga pembukaan delapan. Nanti di kamar kami sudah menyediakan bola besar. Nanti nona bisa duduk-duduk di sana untuk menstimulasi pembukaan biar cepat sempurna. " lanjut dokter Ratna.
Seno dan Armell sama-sama mengangguk.
" Tapi nona jangan terlalu banyak berjalan. Kalau sesekali memang di anjurkan. Tapi jangan terlalu sering. Karena khawatirnya bisa memacu ketuban pecah sebelum pembukaan sempurna. " lanjut dokter Ratna lagi.
Setelah memberikan beberapa informasi, suster segera membawa Armell ke ruang rawat inap yang sebelumnya sudah di pesan oleh Nyonya Ruth tentu saja. Seno mengikuti dari samping. Juga dengan keluarga yang lain. Sedangkan Bryan, kembali ke tempat prakteknya.
Sampai di kamar, lagi-lagi Armell merasakan sakit yang tiada tara. Semua anggota keluarga mendekat. Seno menggenggam tangan Armell erat. Meski perut dan pinggang Armell terasa sakit, Armell berusaha untuk duduk.
" Baby, mau kemana? " tanya Seno.
" Tadi dok-ter bi-lang suruh du-duk di atas bola itu. Biar ba-yinya ce-pat keluar. " jawab Armell terbata-bata.
" Tapi kan kamu masih sakit gini. " ujar Seno.
Armell menggeleng, " Nggak pa-pa. " jawab Armell sambil tetap turun dari ranjang.
Seno dengan cekatan membantu istrinya turun dari ranjang, lalu menggandengnya menuju bola besar lentur yang ada di samping ranjang.
Dengan menahan rasa sakit yang mendera, Armell mulai duduk dan sedikit bergerak teratur di atas bola raksasa itu. Seno berada di depannya sebagai pegangan.
Armell akan tersenyum jika sakit itu menghilang. Tapi ia akan memejamkan mata dan mencengkeram erat baju suaminya saat rasa sakit itu kembali mendera. Keringat segede biji jagung menetes di pelipis Armell. Ibu Armell dengan telaten mengusap keringat itu.
" Sayang, operasi saja bagaimana? " tanya nyonya Ruth karena ia tidak tega melihat menantu kesayangannya kesakitan seperti itu. Ia membelai rambut Armell.
Armell menggeleng. Ia masih tetap ingin berjuang melahirkan bayinya dengan normal. Ia ingin menjadi ibu yang sesungguhnya. Seno terharu melihat perjuangan istrinya. Sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya. Bahkan air matanya menetes melihat kesakitan yang di rasakan oleh sang istri.
***
bersambung
Adiguna junior mau launching aja lama prosesnya ya guys ...sudah otw di 2 episode masih belum launching juga....yang sabar ya ... insyaallah besok author launching kan deh....😄😄