My Handsome Police

My Handsome Police
Pak polisi mesum



Di sinilah mereka sekarang. Di kota paling romantis di dunia. Paris. Sekarang waktu menunjukkan pukul satu dini hari di Paris. Perjalanan yang lumayan lama dari Jakarta ke Paris, yaitu 16 jam. Mereka berangkat dari Jakarta pukul 6 pagi waktu Indonesia.


" Huh, capeknya. " keluh Armell sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. " Ternyata naik pesawat selama 16 jam sangat melelahkan. Aku pikir hanya tinggal duduk saja. Tidak tahunya, lebih capek daripada kalau bekerja. " tambahnya.


Seno duduk di samping Armell yang rebahan. Membelai rambut Armell lembut.


" Ganti baju dulu. Terus tidur. " ucapnya. " Apa mau di pijit dulu? " tawarnya.


Armell langsung memandangnya penuh selidik.


" Ck. Cuma mijit. Nggak pakai plus-plus. " ujar Seno yang tahu arti tatapan istrinya. " Aku tidak segila itu mengajak istrinya beraktivitas saat ia sedang kelelahan. "


" Bener ya? " tanya Armell memastikan. Lalu ia mengubah posisinya menjadi tengkurap. " Sini. " tunjuk Armell ke pinggangnya.


Seno lalu mulai memijit punggung Armell perlahan. " Terlalu kencang nggak? " tanya Seno. Tapi tidak ada jawaban dari Armell. Seno mendekatkan tubuhnya ke Armell untuk melihat istrinya. Ternyata istrinya sudah masuk ke alam mimpi. Padahal ia baru saja memulai memijit. Sepertinya istrinya itu benar-benar sedang kelelahan.


Seno membalik tubuh Armell menjadi telentang perlahan. Lalu ia mengangkat tubuh Armell dan menidurkannya di atas bantal. Menarik selimut hingga ke dada sang istri. Ia tersenyum, lalu mengecup kening Armell sekilas.


Kemudian Seno berdiri dan berjalan menuju koper yang masih tergeletak di dekat sofa. Ia membuka koper yang berisi pakaiannya. Lalu mengambil baju tidur dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya.


Selesai mengganti bajunya, Seno segera naik ke atas tempat tidur untuk menyusul sang istri masuk ke dalam alam mimpi. Karena dia juga merasa sangat lelah hari ini. Bahkan mereka sampai lupa memberi kabar ke orang tua mereka.


💫💫💫


" Hoaaammm......." Armell menguap sambil menggeliat. Merentangkan kedua tangannya. Saat matanya terbuka, ia tidak mendapati suaminya ada di sebelahnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tetap ia tidak menemukan suaminya.


Armell menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Turun dari ranjang, dan berjalan menuju ke jendela. Ia menyibak tirai yang masih menutupi jendela itu. Sepertinya Seno sengaja tidak membuka tirai itu karena dia tidak ingin mengganggu tidur istrinya meskipun matahari sudah mulai beranjak naik.


" Wuahhh.....indah sekali. " ujar Armell yang terpesona oleh pemandangan yang bisa ia nikmati dari hotel tempatnya menginap sekarang. Dari hotel yang menjulang tinggi itu, ia bisa melihat hamparan pasir di tepi laut. Dari kejauhan juga ia bisa melihat menara Eiffel.


Saat sedang asyik menikmati pemandangan, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Armell sudah terkejut lagi. Karena ia sudah sangat hafal pelukan suaminya.


" Morning, baby. " sapa Seno lalu menghadiahi sebuah kecupan hangat di pipi Armell.


Armell tersenyum, " Morning, honey." sapa balik Armell.


" Sedang menikmati pemandangan? " tanya Seno sambil mengarahkan pandangannya ke arah pandang Armell.


" Hem. " Armell mengangguk. " Semalam sampai sini langsung tidak sadarkan diri. Jadi tidak sempat melihat keluar jendela. " lanjutnya.


" Iya. Baru juga di pijit, udah lelap. " sahut Seno. Dan Armell tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Seno meletakkan dagunya di pundak Armell. " Nyenyak tidurnya beb? "


" Banget. Eh, mas dari mana tadi? Kok Mell bangun udah nggak ada? " tanya Armell sedikit memiringkan kepalanya supaya ia bisa melihat wajah suaminya.


Seno beralih menaruh dagunya di atas kepala Armell. " Dari resto di bawah. Pengen ngopi. " jawab Armell.


" Kok aku nggak di bangunin? "


" Nggak tega baby. Kamu tidurnya pules banget. " sahut Seno sambil mengeratkan pelukannya.


Armell kembali tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya. " Hari ini kita mau kemana? " tanya Armell.


" Kamu udah nggak capek emangnya? " tanya Seno.


Armell menggeleng. " Pengen jalan-jalan. Ke sana? " sahut Armell sambil menunjuk ke menara Eiffel.


" Mau ke menara Eiffel hari ini? " tanya Seno. Dan Armell langsung mengangguk dengan mata yang berbinar.


" Tapi kita sarapan dulu. Kamu pasti lapar. " ujar Seno.


" Banget. " jawab Armell. " Tapi mau mandi dulu. Dari kemarin belum mandi, belum ganti baju juga. " lanjutnya sambil hendak ke kamar mandi. Tapi Seno tidak juga melepas pelukannya. " Mas, mau ke kamar mandi. " rengeknya.


Armell menggeleng sambil menutup mulutnya, " Nggak mau. Mell baru bangun tidur loh. Masih bau mulutnya. " ujarnya sambil dengan mulut tertutup.


" Nggak pa-pa. " jawab Seno. " Ayo buruan. "


Armell tetap kekeh menggelengkan kepalanya. Ia tidak pede mencium suaminya karena ia yakin, mulutnya masih bau jigong sekarang.


" Beneran nggak mau nih? Aku siap sih kalau harus mandi lagi. Gimana? " tanya Seno sambil menaik turunkan alisnya.


Armell mengerutkan alisnya. Mencoba mencerna kata-kata suaminya. Setelah ia paham maksud dari suaminya, ia langsung buru-buru menempelkan bibirnya ke bibir suaminya dengan mulut yang ia tutup rapat.


Seno tergelak melihat tingkah menggemaskan istrinya. Kesempatan itu Armell gunakan untuk melarikan diri dari pelukan suaminya. Karena kini Seno agak merenggangkan pelukannya. Armell segera lari menuju kamar mandi.


Masuk ke dalam kamar mandi dan melihat suasana kamar mandi juga bathup yang besar dengan berbagai sabun aroma terapi yang berada di dalam botol-botol kecil di dekat bathtub membuat Armell ingin merendam dirinya. Ia mulai mengisi bathtub dengan air hangat dan menuangkan sabun aroma terapi ke dalamnya.


Setelah air di dalam bathtub di rasa sudah cukup, Armell masuk ke dalam bathtub. Merebahkan dirinya dengan berbantalkan ujung bathtub. Memejamkan matanya menghirup dan menikmati aroma terapi. Armell tersenyum. Badannya perlahan menjadi semakin segar. Pikirannya jug semakin jernih.


Di luar kamar, Seno menunggu sang istri mandi sambil duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Bukan bermain game tentunya. Tapi meneliti email yang masuk. Siapa tahu ada yang penting. Karena mengingat jabatannya sekarang. Jadi ia tetap harus menyempatkan waktu untuk mengecek pekerjaan meskipun sedang berlibur.


Setengah jam telah berlalu. Seno sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi. Ah, belum ada tanda-tanda istrinya akan keluar. Ia kembali dengan pekerjaannya. Sampai satu jam telah berlalu. Seno yang sudah menunggu selama satu jam, merasa aneh jika istrinya tidak keluar dari kamar mandi. Padahal biasanya, waktu mandi Armell demgan dirinya, masih lamaan dirinya.


Seno memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke depan pintu kamar mandi. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Seno mencoba membuka pintu kamar mandi. Oh, tidak terkunci. Seno langsung membuka lebar-lebar pintu kamar mandi itu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Seno mendapati istrinya yang sedang asyik berendam dengan mata yang tertutup. Seno tersenyum memandang istrinya. Sungguh keindahan alam yang menyejukkan hati. Batin Seno. Ia berjalan perlahan mendekati bathtub. Lalu ia duduk di sisi bathtub. Mengulurkan tangannya dan membelai lembut pipi Armell.


Armell yang sedang asyik menikmati segarnya aroma terapi dari sabun yang ia tumpahkan ke dalam bathtub, terperanjat. Ia segera membuka matanya dan sedikit mengangkat tubuhnya. Sehingga separuh dari dadanya menyembul. Tapi ia segera tersadar dan segera menenggelamkan tubuhnya kembali.


" Asyik bener. Pantesan di tungguin nggak keluar-keluar. " sindir Seno.


" Ih, baru sebentar. " protes Armell.


" Baby, satu jam kamu bilang sebentar? " tanya Seno sambil memicingkan matanya.


" Masak sih satu jam? " tanya Armell tak percaya.


" Lihat itu jam dinding. Kamu tadi masuk ke kamar mandi jam berapa. Sekarang udah jam berapa. " ujar Seno sambil menunjuk ke jam dinding yang ada di dalam kamar mandi.


Armell juga langsung melihat ke jam dinding, " Oh, ya Tuhan... Beneran udah satu jam. Nggak ngerasa mas. Maaf. Habisnya aroma terapi sabun ini menyegarkan banget. " ucap Armell sambil tersenyum memamerkan giginya.


" Kamu suka aroma ini? Ya udah besok kalau mau pulang, kita beli sabun aroma terapi yang kayak gini buat di rumah. " ujar Seno.


" Beneran? " tanya Armell dengan mata berbinar.


Seno mengangguk, " Aku juga suka aromanya. Apalagi kalau sudah melekat di tubuh kamu. Pasti bisa makin bergairah. Jadinya makin hot goyangnya. " goda Seno.


" Ke situ lagi arahnya. Dasar pak polisi mesum. "


" Ha...ha..ha..." Seno tergelak mendengar ucapan Armell. " Biarin . Yang penting mesum sama yang halal. Nggak mesum sama yang lain. " ucapnya.


" Ya udah, mas keluar dulu. Mell mau mandi. " ujar Armell.


" Mandi ya tinggal mandi. Kenapa pakai ngusir? Toh, aku nggak ganggu. Aku nggak ngelakuin apa-apa. " ujar Seno sambil mengangkat kedua tangannya.


" Iya , sekarang bilangnya nggak ngelakuin apa-apa. Tapi nanti, siapa yang tahu. Udah ah ..buruan mas keluar dulu sana. " usir Armell.


Seno tersenyum sambil beranjak berdiri. " Ya udah, aku keluar. Kamu cepetan mandinya. Jangan sampai aku nungguin satu jam lagi. Kalau sampai kamu suruh aku nungguin satu jam lagi, aku nggak jamin hari ini kit jadi keluar dari kamar. " ujarnya sambil tersenyum menyeringai.


***


bersambung