
Di sinilah Seno dan Armell hari ini. Di dalam kamar ternyaman Armell. Bergelung di dalam selimut yang sama. Bermimpi indah bersama. Mereka telah kembali dari berbulan madu. Pukul 4 dini hari tadi, pesawat yang mereka tumpangi baru saja landing di bandara Soekarno-Hatta.
Capek tentu saja. Tapi bahagia, sudah pasti. Itu yang Seno dan Armell rasakan.
" Assalamualaikum......" sapa seorang wanita dengan suara nyaring dari ruang tamu.
" Assalamualaikum...." sapanya kembali. Dan kini beliau sudah berada di ruang tengah.
" Waalaikum salam..." sahut Lilik sambil berlari kecil dari belakang. " Oh, Nyonya besar. Maaf Nyonya, Lilik lagi di dapur. Jadi nggak denger. " ucap Lilik penuh sesal.
" Udah, nggak pa-pa. " sahut Nyonya Ruth sambil menepuk pundak Lilik. " Kok masih sepi Lik? Anak-anakku sudah pada pulang kan? " tanya Nyonya Ruth.
" Sudah nyonya. Tadi sampai rumah jam 4 dini hari. " jawab Lilik.
Nyonya Ruth melihat jam tangannya. " Sekarang sudah jam 1 siang. Apa mereka belum bangun sama sekali? "
" Sepertinya belum Nyonya. Sarapan yang saya sediakan tidak tersentuh sama sekali. " sahut Lilik.
" Jadi mereka belum makan? Sarapan saja nggak? Ya Tuhan...gimana si El itu. Masak istrinya di biarkan kelaparan. " Cecar Nyonya Ruth. " Aku akan membangunkan mereka. " Nyonya Ruth mulai beranjak.
" Yakin nyonya mau membangunkan mereka? Bagaimana kalau seandainya mereka sedang....." Lilik terpaksa menggantung ucapannya.
" Sedang apa maksud kamu Lik? " tanya Nyonya Ruth sambil memicingkan matanya. " Oh, aku tahu. Sedang bikin anak kan maksud kamu? Ha...ha...ha... ada-ada saja kamu ini. Emang kamu pernah gitu mergoki mereka sedang....."
" He...he...he... pernah Nyonya. Sekali. " sahut Lilik sambil menunjuk jari telunjuknya.
Nyonya Ruth memandang tak percaya ke arah Lilik.
" Bukan seperti itu, Nyonya. Beneran. Saya tidak mengintip. Tapi saya tidak sengaja melihatnya. Habisnya mereka begini di dapur Nyonya. " cerita Lilik sambil menyatukan jari-jari tangannya kiri dan kanan seperti dua orang yang sedang berciuman.
" Apa? Mereka berciuman? Di dapur? Ya salam....." nyonya Ruth terkejut dan menggelengkan kepalanya. " Ini pasti kerjaan anak nakal itu. " gumam Nyonya Ruth. Beliau kembali berjalan dan menaiki tangga menuju kamar anaknya di lantai dua.
Sampai di depan kamar anaknya, Nyonya Ruth mencoba membuka pintu perlahan. Ternyata tidak di kunci. Berarti mereka sedang tidak in the hoy dong.
Nyonya Ruth membuka lebar pintu kamar itu, lalu masuk ke dalam dengan langkah pelan. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat kedua anaknya masih dalam keadaan tidur pulas dalam selimut dengan posisi Seno memeluk Armell dari belakang. Bahkan mereka sepertinya masih memakai pakaian yang mereka kenakan saat perjalanan pulang dari honeymoon.
Nyonya Ruth mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu membidikkan kamera ponselnya ke arah anak-anaknya. Lalu mengunggah foto itu ke dalam status salah satu aplikasi pesannya.
' Rasanya sangat bahagia melihat anak-anakku seperti ini.🥰🥰😊'
Begitulah isi status Nyonya Ruth dalam aplikasinya dan di sertai foto anaknya. Kemudian beliau memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Mendekati ranjang, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh Seno.
Plak
Nyonya Ruth memukul paha Seno. Seno langsung terperanjat. Secara otomatis karena terkejut, ia langsung duduk. Mengucek matanya yang masih terasa berat. Lalu melihat ke arah seseorang yang berada di dekat ranjangnya.
" Mama...." ucap Seno.
" Hem..Udah jam berapa ini? Belum bangun. " ujar mamanya.
Seno menengok ke arah jam dinding di kamarnya. Sudah pukul 1 lebih. Ternyata memang sudah siang.
" Mau sampai kapan kamu mengajak istrimu tidur? Apa kamu nggak kasihan? Dia belum makan dari pagi. " cerocos mamanya.
" Tapi dia kecapekan ma. Nggak tega banguninnya. " sahut Seno dengan suara serak khas bangun tidur.
" Ck. Kamu bangunin. Ajak makan. Dia itu tidak cuma butuh tidur, tapi juga butuh nutrisi. Butuh makan. Buat tambah energinya. Kalau sampai nggak kamu kasih makan, terus dia saki gimana? Mama nggak mau ya anak perempuan mama jadi sakit. " cerca mamanya.
" Iya...iya...ma...Mama ini kalau udah ngomong nggak ada koma, nggak ada titiknya. Terus mama kok bisa masuk gimana? " tanya Seno mamandang mamanya.
" Mama nggak ngetuk pintu dulu? Kalau mama asal masuk terus kita lagi telanjang gimana? " ujar Seno.
" Ck. Ya nggak masalah. Mama juga udah sering lihat gajah kamu. Dari kamu bayi malah. Jadi mama hapal betul perkembangannya. Kalau istri kamu, paling juga sama kayak punya mama. " sahut sang mama yang memang agak gesrek.
" Beda. " sahut Seno.
" Apa bedanya coba? "
" Punya istri El masih singset...Masih pada kenceng. Kalau mama udah pada keriput. Udah nggak kenceng lagi. " ledek Seno.
" Dasar kamu. " umpat sang mama sambil memukul seno dengan guling. " Cepetan bangun, terus bangunin istri kamu. Mama tunggu di bawah. " titah sang mama. Lalu beliau beranjak keluar dari kamar.
Seno malah merebahkan tubuhnya kembali. Ia kembali memeluk pinggang istrinya. Semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Lalu ia kecupi tengkuk istrinya.
" Baby, bangun yuk. " ucap Seno. Armell hanya menggeliat kecil. Ia hanya merasa agak terganggu. Tapi matanya tetap terpejam.
" Baby......" kini tangan Seno mengusap perut rata Armell. Lalu beranjak naik sampai ke dada. Mengusap-usap sekilas di sana, lalu naik ke pipi. Seno mengelus pipi Armell sampai akhirnya Armell mulai membuka matanya.
" Bangun, putri tidur. " ujar Seno sambil mengecup pipi Armell.
" Hmm....Jam berapa ini? " tanya Armell dengan suara serak.
" Hampir jam setengah dua, baby. "
" Hmmm? Udah siang? Pantesan lapar. " ujarnya.
" Makanya, ayo bangun. Cuci muka, terus kita turun makan. Mama udah nungguin di bawah. " ajak Seno.
" Mama? " tanya Armell membenarkan pendengarannya. Seno mengangguk. " Mama di sini? " Seno kembali mengangguk.
Armell langsung buru-buru turun dari atas ranjang. Karena selimut yang masih tergulung di bagian kakinya hampir saja ia terjatuh. Untung saja tangan Seno lebih cekatan. Jadi ia terhindar dari ciuman dengan kerasnya lantai.
" Hati-hati baby. " ujar Seno. Armell hanya menampilkan cengirannya. Ia lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Mencuci mukanya dan gosok gigi. Urusan mandi belakang. Yang penting segera bertemu dengan mertuanya dan mengisi perutnya yang kosong.
Selang beberapa saat, ia sudah keluar dari kamar mandi. Ia mengambil karet lalu menguncir rambutnya.
" Mas, buruan cuci muka dan gosok gigi sana. Biar nggak bau jigong. Mell ke bawah duluan. Ketemu mama. Mas ntar nyusulin aja. " ucap Armell sumpringah.
" Kamu ini ketemu mama aja girang banget gitu. Kayak mau ketemu artis papan atas aja. " gerutu Seno.
" Artis mah lewat di bandingin mama. Mell kangen banget sama mama. Sama ibu juga sih pastinya. Tapi kan nggak mungkin ketemu ibu sekarang. Ya udah, kangen-kangenan sama mama aja. " jawab Armell. " Mas, Cepetan sana ke kamar mandi. " lanjutnya karena melihat Seno masih asyik di atas tempat tidur.
Seno memegang lengan Armell saat Armell melaluinya hendak keluar dari kamar. " Morning kiss dulu. " pintanya.
" Ogah. Mas bau jigong mulutnya. " jawab Armell sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Seno.
" Pipi juga nggak pa-pa. Yang penting morning kiss. " ujar Seno.
" Morning apaan. Ini tuh udah afternoon. " sahut Armell.
" Ya udahlah terserah. Yang penting kasih kiss dulu. Buruan. Katanya mau cepet-cepet ketemu mama. " ucap Seno.
" Ck. " Armell berdecak. Tapi tak urung, dia mendaratkan bibirnya di pipi suaminya juga. Tidak hanya pipi, tapi juga kening suaminya berkali-kali. " Puas? " ujar Armell yang di jawab dengan senyuman oleh suaminya. Lalu Armell segera berlalu.
***
bersambung