
" Bini gue hilang. " ucap Seno ke Rezky yang saat itu sedang berada di rumah Seno karena Seno memintanya datang.
" Hah? Hilang? Di culik lagi tuan? " tanya Rezky.
Seno menggeleng. " Dia sengaja pergi dari rumah ini. " ucapnya. " Mungkin karena semalam gue nggak pulang ke rumah. " tambahnya lirih. Seno terlihat sangat sedih. " Dia pasti marah sama gue. Gue udah marahin dia kemarin. "
' Haduh tuann, semalam saya juga bilang apa? Sebaiknya tuan pulang dan minta maaf. Gengsi aja di gedein. Begini kan jadinya? Terus kalau udah kek begini, siapa lagi yang repot? Saya juga tuaaannn.....' jerit Rezky dalam hati.
" Oh iya, Lo cepat hubungi cewek Lo. Tanya di mana bini gue. " perintah Seno.
" Baik tuan. " jawab Rezky yang kemudian segera mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Ikke tentu saja.
Selama beberapa saat Rezky melakukan panggilan dengan Ikke.
" Tuan, Ikke bilang, nona Armell tidak ada di sana. " Rezky memberitahu Seno dengan tanpa menutup panggilannya.
" Tanyakan, tadi ada datang ke rumah kost atau menghubungi dia nggak. " suruh Seno.
Rezky kembali berbicara dengan Ikke.
" Ikke bilang, tadi pagi nona Armell sempat datang ke rumah kost. Tapi saat Ikke pulang dari kampus, nona Armell sudah tidak ada di sana lagi. " Rezky memberitahu.
Seno mengacak rambutnya asal. Rezky masih melakukan panggilan.
" Tuan, Ikke bilang, tadi dia sempat tanya sama teman kostnya, kata teman kostnya, nona Armell tadi pergi sama ibu-ibu. " Rezky kembali memberitahu. Kemudian Rezky mengakhiri panggilannya.
" Kemana kamu Mell? " pekik Seno sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
" Lo pulang aja sana. Besok pagi-pagi bener, lo kesini lagi. Anterin gue ke rumah mertua gue. Siapa tahu dia di sana. " ucap Seno sambil memejamkan matanya.
" Tapi besok ada meeting penting tuan. Dan waktunya siang hari. Tidak mungkin kita bisa kembali saat meeting. Rumah mertua tuan cukup jauh. " Rezky memberitahu.
" Gue nggak peduli. Yang penting nyari bini gue. " ujar Seno.
" Tuan, meeting itu sangat penting. Klien kita orang yang sibuk. Tidak mungkin kita meminta jadwal ulang. Dan ini proyek besar tuan. " ujar Rezky.
" Gue bilang gue nggak peduli. Gue hanya mau nyari bini gue. Titik. " kekeh Seno.
" Tapi tuan, kalau tuan besar tahu anda melewatkan proyek ini, beliau akan sangat marah. " kekeh Rezky juga.
Seno kembali mengusap rambutnya kasar.
" Lo besok datang ke meeting. Lo urus semua. Suruh Damar besok anterin gue ke rumah mertua gue. " perintah Seno.
" Tapi tu..."
" Udah ya Rez. Lo jangan bikin gue tambah pusing. " potong Seno. Lalu ia beranjak berdiri dan meninggalkan Rezky sendirian.
💫💫💫
Pagi harinya, Seno pergi ke kampung halaman Armell. Seperti perintahnya kemarin ke Rezky, saat ini ia diantar oleh Damar, tangan kanan Rezky.
" Kenapa rumahnya jauh sekali? " gerutu Seno saat ia sudah mulai penat dengan perjalanannya.
" Sabar tuan. Kita masih harus berkendara sekitar ia jam lagi. " sahut Damar.
Seno menghembuskan nafas lelah. Ia sebenarnya sangat mengantuk. Karena semalam ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan kesalahannya yang sudah membentak istrinya karena suatu hal yang konyol untuk ia lakukan.
Yah. Cemburu. Satu hal konyol yang bisa membuat seseorang selalu melakukan hal-hal bodoh. Seperti yang terjadi pada Seno. Karena rasa cemburunya, ia jadi tidak bisa berpikir jernih.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama lima jam, akhirnya Seno dan damar sampai di kampung halaman Armell. Mereka masuk ke sebuah perkampungan dengan jalanan yang belum di aspal. Jalannya bergelombang dan berlubang.
Lalu Damar menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sederhana, namun terlihat sangat bersih dan indah.
" Ini tuan, rumah nona Armell. " Damar memberitahu Seno.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Seno segera turun dari mobil dan berjalan menghampiri rumah Armell. Ia berdoa semoga istrinya memang ada di sana.
Seno mengetuk pintu rumah Armell sambil bilang, " Assalamualaikum. "
" Waalaikum salam. " jawab seorang anak gadis dari dalam. " Cari siapa ya? " tanyanya.
" Ibu ada? " tanya Seno ke anak gadis itu. Seno tidak mengenal gadis itu dan gadis itupun tidak tahu siapa laki-laki ganteng dan gagah yang ada di depannya ini.
Tapi gadis itu memandang wajah Seno lekat. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu. Ia seolah pernah melihat wajahnya.
" Halo...non...." Seno melambaikan tangannya di depan wajah anak gadis yang sedang bengong di hadapannya.
" Ah, i-iya kak. Maaf, malah bengong...He...he..he.." ucap gadis itu cengengesan. " Tanya apa tadi kak? "
" Ibu ada? " tanya Seno mengulangi pertanyaan tadi.
" Ibu? Kakak ganteng kenal sama ibu? Oh, pelanggan ibu di pasar ya? Eh, tapi sepertinya nggak deh. Penampilan kakak ini nggak pantes kalau masuk pasar. " ujar anak gadis itu sambil meneliti penampilan Seno dari atas sampai bawah.
" Jadi, ibu ada apa tidak? " tanya Seno sambil geram sama anak gadis ini. Nggak tahu apa kalau Seno ini sudah tidak sabar ingin segera bertemu istrinya.
" Ibu lagi ikut pengajian. Biasa, kalau jam segini ibu suka ikut pengajian di masjid. Tuh, masjidnya kelihatan dari sini. " jawab gadis itu sambil bersedekap dan menunjuk masjid dengan dagunya.
Seno berkacak pinggang dengan tangan yang satunya mengusap wajahnya kasar.
" Ibu pulangnya jam berapa? " tanya Seno kembali.
" Biasanya sih habis duhur. Sekalian jamaah dulu di masjid. " jawab anak gadis itu. Seno melirik sekilas jam tangan yang melingkar di tangannya.
" Kakak ini ada perlu apa sih sebenarnya sama ibu? Kok ngebet banget pengen ketemu ibu? Mau melamar anak gadis ibu? Kakak terlambat. Kakak perempuan saya sudah di nikahi sama seorang polisi dari ibu kota sana. Ganteng orangnya. Kalau anak gadis ibu yang nomer 2 masih ABG. Belum mau kawin. Apalagi sama kakak. Tampangnya udah kayak om-om gini. " cibir gadis itu sambil memandang Seno dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" Kamu siapa? " tanya Seno dengan pandangan menyelidik.
" Ya anaknya ibu lah. " jawab anak gadis itu.
" Jadi kamu adiknya Armell? " tanya Seno kembali.
" Ya iyalah. " jawab anak gadis itu.
' Pantesan mirip banget sama bini gue. Cara bicara juga. Jadi inget waktu pertama kali ketemu sama dia. ' batin Seno sambil dengan senyuman di bibirnya.
" Kok kakak kenal sama kakak aku? " tanya gadis itu. Tak selang beberapa lama, anak gadis itu membekap mulutnya. " Ya Allah...Ya ampun...Kakak ini....Kakak ini su-suami kak Armell? " tanya anak gadis itu.
Seno mengangguk sambil tersenyum.
" Ya Tuhan....maaf kak...maaf...Aku nggak tahu... Pantesan tadi pas pertama lihat kayak nggak asing. Maklum lah kak, aku tahunya cuma foto kakak aja. Yang pernah di kirim sama kak Armell. " ucap adik Armell.
" It's oke. Nggak papa. Kan kita emang belum pernah ketemu. " jawab Seno.
" Masuk dulu kak. " adik Armell mempersilahkan Seno masuk ke dalam rumah. Sekarang ia tidak seketus yang tadi
" Terimakasih. " sahut Seno sambil mengikuti adik Armell masuk ke dalam rumah.
" Duduk kak." adik Armell menyuruh Seno untuk duduk di ruang tamu. Seno duduk.
" Kenalin kak. Namaku..."
" Fitria Amera Umma. " potong Seno sambil tersenyum.
" He..he..he...iya. " sahut Fitri sambil tersenyum cengengesan.
" Ngomong-ngomong kak Armell mana? Kok nggak kelihatan. Apa jangan-jangan masih di dalam mobil? " tanya Fitri sambil celingak-celinguk.
' Apa? Kok adiknya malah tanya? Berarti bini gue nggak kesini dong. ' batin Seno.
" Oh, Armell...Armell tidak ikut. Karena kebetulan saya mampir kesini karena ada kerjaan di dekat sini. Armell kan lagi sibuk ngurus skripsi. " jawab Seno.
' Ya Tuhan...Kemana sebenarnya istriku??? Kemana lagi aku harus mencarinya? Sedangkan teman kampusnya aku tidak kenal. ' jerit batin Seno.
***
bersambung