My Handsome Police

My Handsome Police
Di culik lagi



Hai para pembacaku.....jangan lupa di like, vote, jika kalian sudah selesai membaca ya...Tulis komen juga boleh...Asal komennya jangan sepedas sambal cabe rawit 🤭🤭


__________________________________________________


Setelah selesai bersiap, Armell segera menemui Lilik.


" Lik...." panggilnya.


" Iya non. "


" Lik, nanti Kalau sekitar satu jam lagi, kamu hubungi mas Seno ya. Suruh dia pulang, terus cari kertas di bawah bantal. Habis itu, bilang sama dia, suruh buka tracker di ponselnya ya. Aku pergi dulu. Sampaikan juga ke dia, hati-hati jangan gegabah. " pesan Armell.


" Maksud mbak Armell apa? " tanya Lilik yang bingung karena mendapat pesan seperti itu.


" Udah kamu bilang aja seperti itu. Aku nggak bisa jelasin lebih lanjut. " jawab Armell lalu pergi karena dia di buru oleh waktu.


Armell masuk ke taksi online yang sudah ia pesan tadi. Lalu Armell memberikan alamat yang di berikan oleh Robert tadi. Tak lupa, di perjalanan, ia menghidupkan penyadap yang Seno pasang di liontinnya.


Selama perjalanan, Armell selalu cemas. Ia berdoa dalam hati, semoga Seno bisa menemukannya dan menyelamatkan dirinya juga baby Arvin. Jika saat ini ia tidak sedang dalam masa pemulihan kesuburan rahimnya, ia tidak akan khawatir. Ia akan melawan bule kampret itu dengan seluruh tenaganya.


Setengah jam perjalanan, Armell sampai di lokasi yang Robert sebutkan. Ia membayar taksi online itu dan turun dari mobil. Setelah Armell turun, taksi online itu segera berlalu. Armell menoleh ke kiri dan ke kanan. Tempat itu tidak terlalu sepi. Lalu ponsel Armell berbunyi.


" Halo. " sapa Armell.


" Terus berjalan ke kanan dan masuk gang yang ada di dekat tempatmu berdiri. " ujar Robert di seberang.


Armell mengikutinya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi. Ia berjalan ke arah kanan sepanjang dua meter, lalu berbelok masuk ke dalam gang yang lumayan sempit.


Tiba-tiba ada seseorang yang datang dari arah belakang dan membekap mulut Armell dengan selembar kain. Dalam hitungan detik, Armell langsung tidak sadarkan diri. Pria suruhan Robert segera menggendong tubuh Armell dan membawanya masuk ke dalam mobil yang ada di seberang gang.


Setelah kepergian Armell, Lilik di landa kecemasan dan kebingungan. Belum sampai satu jam Armell berangkat, Lilik segera menghubungi tuan bosnya.


" Halo, tuan. "


" Iya Lik. Ada apa? "


" Tuan bos sebaiknya pulang sekarang. "


" Memangnya ada apa Lik? Kenapa kamu terdengar cemas begitu? " tanya Seno.


" Tuan, nona Armell tadi sekitar hampir satu jaman yang lalu pergi. Lalu berpesan sama Lilik, setelah satu jam Lilik di suruh menghubungi tuan bos. Tuan bos di suruh cepat pulang. Non bos ninggalin surat di bawah bantal. Lalu tuan bos juga di suruh buka aplikasi tracker gitu. " jelas Lilik panjang lebar.


Tut...Tut...Tut .. panggilan di akhiri dari pihak Seno.


Seno buru-buru membuka aplikasi tracker di ponselnya. Ia melihat alat penyadap Armell di aktifkan dan saat ini Armell sedang berada di lokasi yang cukup jauh dari rumahnya.


" Pasti ada yang tidak beres. " gumam Seno. Ia lalu buru-buru keluar dari ruangannya dan segera masuk ke ruangan Rezky yang ada di sebelah ruangannya.


" Rez, tolongin gue. " ucap Seno dengan panik.


" Ada apa tuan? "


" Armell pergi dari rumah dan berpesan ke lilik. Agak aneh pesannya. Dan alat penyadap yang gue taruh di liontinnya di aktifkan tadi. Pasti ada sesuatu yang tidak beres terjadi. " ujar Seno sambil berkacak pinggang.


" Bisa lihat ponsel anda tuan? " pinta Rezky.


Seno lalu memberikan ponselnya ke Rezky. Rezky lalu membuka tracker itu.


" Nona berada di jalan XX. Ini di sebuah gang sempit tuan. Apa yang nona lakukan di gang sempit ini? "


Lalu ia dan Rezky segera keluar dari ruangan. Rezky sambil menghubungi Damar dan memberikan perintah ke damar.


Di luar ruangan, si Desi hanya mengikuti arah Seno dan Rezky yang berlalu dari hadapannya tanpa menyapanya dengan tampang bingungnya.


Rezky segera menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman bosnya. Hanya butuh waktu 20 menit, mobil itu memasuki pekarangan rumah Seno. Seno segera turun dari mobil dan berlari masuk serta menaiki tangga rumahnya.


Seno lalu masuk ke dalam kamar dan mencari surat yang di bilang oleh Lilik di telepon tadi. Seno mencari surat itu di semua tempat karena ia belum bertemu Lilik, dan Lilik tadi juga belum mengatakan di mana surat itu berada.


Setelah membuat kamarnya seperti kapal pecah, akhirnya Seno menemukan surat yang di tinggalkan oleh Armell di bawah bantal.


Isi surat Armell


Mas, tadi Robert menghubungiku. Ia meminta bertemu denganku dan menggunakan baby Arvin untuk memaksaku mau bertemu dengannya. Maaf, aku tidak bilang langsung kepada mas. Karena Robert mengancam akan mencelakakan Arvin jika aku mengatakan akan bertemu dengannya. Kami kalau mau cari aku, hati-hati ya mas. Dua nyawa yang di pertaruhkan.


Seno mengepalkan tangannya dan meremas surat Armell. Dari awal ia sudah curiga jika itu ulah Robert. Seno lalu bergegas turun dan menemui Rezky.


" Robert Rez. Dia yang sudah membuat Armell pergi. "


" Iya tuan. Damar juga sudah sampai di lokasi. Dan sepertinya nona tidak ada di sana. Damar menemukan sebuah kalung terjatuh di gang itu. " Rezky memberitahu.


" Kalung? "


" Iya tuan. Ini tuan gambar kalung itu. Damar tadi mengambil gambarnya. " Rezky menunjukkan foto kalung yang di kirimkan oleh Damar.


" Ini, ini kalung milik Armell. Alat penyadapnya gue taruh di liontin. ****! Kita kehilangan jejak mereka jika begini. " umpat Seno.


" Sebentar, tuan. Saya coba cek dari nomer telpon nona. " kemudian Rezky mengotak-atik ponselnya. Dan dahinya berkerut. " ****. " umpatnya.


" Kenapa Rez? "


" Sepertinya ponsel nona di matikan. Kita agak susah melacaknya. " jawab Rezky.


Seno mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


" Halo, pa. " sapa Seno. Ia menghubungi papanya.


" Ada apa El? "


" Pa, Armell di culik lagi. " ucap Seno.


" Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kamu sudah menaruh penjaga di rumah? " ujar tuan Adiguna.


" Iya pa. Tapi Armell pergi sendiri. Ia di ancam. Menggunakan baby Arvin pa. El kehilangan jejaknya. El sempat memasang alat penyadap di liontinnya, tapi liontin itu terlepas dan jatuh di tempat Armell di culik. Rezky sudah mencoba melihat dari nomer telpon Armell. Tapi sepertinya ponselnya di matikan. Bantuin El pa. El nggak mau hal buruk terjadi sama istri El lagi. " pinta Seno.


" Kamu tenang dulu. Papa telepon Dion, biar dia nyuruh anak buahnya yang di bagian IT melacak keberadaan istrimu. Papa juga akan mengerahkan anak buah papa untuk membantu mencarinya. " ujar tuan Adiguna.


" Iya pa. " jawab Seno.


Panik, sudah pasti. Marah, apalagi. Tapi Seno bingung harus mencari Armell di mana. Ia tidak tahu tempat-tempat persembunyian Robert. Robert mempunyai banyak tempat singgah di negara ini. Dan Seno tidak tahu, saat ini Robert membawa istrinya kemana. Dan sangat tidak mungkin dia mendatangi tempat itu satu persatu.


" Aaarrrrgggghhhhh....." teriak Seno frustasi.


***


bersambung