
Hari kedua Seno di kampung Armell.
" Hai, baby. Kamu apa kabar? " tanya Seno saat ia bertandang ke rumah sang mertua. Awalnya Armell enggan menemui suaminya. Tapi ibu selalu memaksanya.
Armell merasa gagal dalam rencana pelariannya. Niatnya dia ikut pulang ke kampung, karena ingin berusaha menghindar dari Seno. Karena ia sangat merasa bersalah dengan suami juga mertuanya yang sudah sangat baik kepadanya. Ia merasa telah membuat mereka semua kecewa terhadapnya. Dan ia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah mereka.
Armell tidak menjawab pertanyaan Seno. Ia hanya diam dan menunduk.
" Maaf, beb. Aku nggak bilang dulu kalau mau kesini. Sebenarnya, sudah dari kemarin aku di sini. Tapi aku takut untuk menemuimu. Maaf. Aku sudah melanggar janjiku. " ujar Seno. Lalu ia menarik nafas dalam-dalam.
" Aku tidak bisa tidur malam itu. Aku begitu merindukanmu padahal baru beberapa jam tidak bertemu denganmu. Kalau aku tidak menyusulmu ke sini, bisa gila aku beb. " ucap Seno. Tapi Armell masih saja diam.
" Baby, apa kamu senang ada di sini? Apa kamu tidak merindukan rumah kita? " tanya Seno. Masih tidak ada tanggapan dari Armell. Ia masih tetap bungkam.
Sampai tak terasa waktu pun berlalu. Seno masih tetap berusaha mengajak Armell berbicara. Meskipun tak satu kalipun Armell menjawab. Sampai akhirnya malam menjelang. Seno memutuskan cukup untuk hari ini. Besok, ia akan kembali kemari lagi. Akhirnya dia berpamitan dengan istrinya, juga ibu mertuanya.
Hari ketiga
📩 Bang, mbak Mell mau jalan-jalan. Abang mau ikut nggak? tanya Fitria dalam pesan singkatnya.
📩 Sama siapa Mell jalan-jalan?
📩 Sama adik tercinta lah. Siapa lagi.
📩 Mau jalan-jalan kemana?
📩 Puter kampung aja. Mbak Mell bilang mau nostalgia. Sekalian jalan-jalan pagi nyegerin otak.
📩 Abang ikut. Berangkat sekarang?
📩 Abang boleh ikut. Tapi jauh-jauh dari kami ya. Takutnya mbak Mell jadi diem lagi.
📩 Iya, bawel!
📩👍....kita mau berangkat nih.
Seno segera bersiap dan menunggu Armell juga Fitria lewat. Tak berselang lama, Armell lewat. Seno segera mengikuti mereka dari belakang. Seperti janjinya ke Fitria, Seno mengikuti mereka dari kejauhan. Nampak Armell menikmati suasana pagi yang cerah dan segar itu.
Sampai pada saat mereka tiba di sebuah lumbung padi. Seseorang menghampiri Armell. Seorang laki-laki tentu saja. Dan hal itu tentu saja membuat Seno merasa panas. Fitria yang tahu kalau kakak iparnya sedang bertanya-tanya, segera mengirim pesan.
📩 Anaknya kepala desa itu bang. Keren kan? Nggak kalah keren sama abang.
Pesan terkirim. Fitria terkikik geli. Sudah pasti kakak iparnya semakin panas.
📩 Mau ngapain dia?
📩 Menyapa mbak Mell. Bentar, Pipit video call abang ya..Abang dengerin sendiri mereka ngobrol apaan.
Lalu Fitria memencet icon video call di layar ponselnya.
" Hai, Mell. Kapan kamu balik? " tanya anak kepala desa itu.
" Udah tiga hari aku di sini. "
" Kamu apa kabar? Lama loh, kita nggak ketemu. "
" Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Kamu gimana? "
" Alhamdulillah, aku juga baik. Pipit bilang, kamu udah wisuda ya? "
" Iya Lil. " jawab Armell sambil tersenyum.
Sedangkan laki-laki yang ada agak jauh dari belakang mereka, mengepalkan tangannya. Fitria pun yakin jika kakak iparnya pasti sedang marah.
Armell tersenyum. " Aku tidak pernah memintamu ataupun menyuruhmu untuk menungguku, Lil. " ujar Armell.
" Aku tahu itu. Tapi aku yang ingin menunggumu. Aku yakin, kamu akan kembali ke kampung kita ini. Aku juga udah bilang sama bapak sama ibu, supaya mereka segera bersiap untuk melamarmu saat kamu kembali ke kampung ini. Dan sekarang kamu sudah kembali. Aku sangat senang, Mell. " ucap Ulil dengan mata berbinar.
" Ulil, aku sudah tidak seperti aku yang dulu. Jadi, aku mohon, jangan mengharapkan aku lagi. " sahut Armell.
" Tapi aku masih ingin mengharapkanmu. Perasaanku masih tetap sama seperti dulu. "
" Lil, aku tidak bisa menerimamu. Karena aku sudah menikah. " ucap Armell tegas.
" Aku tahu itu. Dan aku juga tahu kenapa kamu bisa sampai menikah. Aku tidak masalah jika kamu sudah menyandang status janda. " kekeh Ulil.
" Aku tidak akan menjadi janda Lil. Karena aku dan suamiku saling mencintai. Aku tidak akan pernah berpisah dengan suamiku. " ucap Armell tegas.
Lalu Armell menarik tangan Fitria melanjutkan jalan-jalan mereka. Armell agak malas meladeni Ulil kali ini.
Seno yang mendengar ucapan Armell barusan, seperti tersiram air dingin. Hatinya terasa sejuk. Ia menampilkan wajah bahagianya. Ia bahagia, Armell mengatakan kalau tidak akan berpisah darinya. Armell juga mengatakan kalau ia mencintai dirinya.
Seno melanjutkan acara jalan-jalan mengikuti sang istri dengan wajah bahagia. Sampai di hadapan Ulil, ia membungkukkan badannya menyapa, sambil tersenyum mengejek.
" Siapa laki-laki itu? Sepertinya bukan warga sini. " gumam Ulil.
Dan gumamannya itu terdengar dari telinga Seno. Segera saja Seno berbalik dan mendekati Ulil kembali.
" Kenalin bang, saya Gael Adiguna. SUAMI dari Armell. " Seno memperkenalkan diri sambil menelan kata suami dalam ucapannya.
" Hah?????" Ulil terkejut. Tapi ia segera sadar dari keterkejutannya dan kembali menguasai dirinya.
" Jangan bicara asal anda. Armell belum menikah. Karena saya masih menjadi CALON suaminya. "
" Anda adalah CALON suami. Oh, tidak...Anda hanya mengaku sebagai CALON suami Armell. Tapi saya, adalah SUAMINYA yang sah secara hukum, juga agama. " ujar Seno tidak mau kalah.
" Suami pura-pura aja bangga.. Heh! " ledek Ulil.
" Mending bangga jadi suami pura-pura. Yang penting udah sah. Udah halal. Daripada situ. Pura-pura ngaku-ngaku jadi Calon suami. Iya kalau bakalan jadi suami. Lah, kalau di tolak kayak tadi? Nyesek mas. " ledek Seno ganti.
" Jangan asal bicara kamu ya. Aku pastikan, akan mengambil Armell darimu. "
" Tidak usah mimpi. Ini udah pagi. Bangun. Gue nggak akan pernah ngelepasin Armell. Ke siapapun. Dia akan tetap menjadi istri gue. Milik gue. Mending lo cari cewek lain. Yang masih perawan banyak lah pastinya di kampung ini. Soalnya, gue udah unboxing milik Armell. " ucap Seno sambil tersenyum bangga. Lalu kembali berjalan meninggalkan Ulil yang masih bingung, apa yang di unboxing oleh suami Armell itu.
Seno kembali mengikuti Armell yang telah berada jauh di depannya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini, cukup sampai di sini usaha Seno. Besok ia akan melakukan hal lain lagi. Tiap hari, ia akan melakukan banyak usaha untuk membawa Armell kembali ke rumahnya. Rumah mereka. Melanjutkan perjalanan cinta yang baru mereka jalani.
" Hai, Mell. Habis jalan-jalan ya? " sapanya saat ia berjalan di depan rumah Armell. Armell masih tetap diam tak menjawab. Seno sudah semakin terbiasa dengan sikap Armell.
Armell segera masuk ke rumah, menemui adiknya si biang kerok.
" Kamu ya Pit, yang ngasih tahu mas Seno kalau kita mau jalan-jalan? "
" Kan bang Seno nanya. Ya Pipit jawablah mbak. Ntar kalau nggak jawab, di kira sombong. "
Armell hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Fitria. Sebenarnya Armell tidak merasa marah Seno mengikutinya. Tapi ia takut jika suaminya itu salah paham sama anak kepala desa yang tiba-tiba menemuinya.
***
bersambung