
" Welcome to the world, prince....Made in Perancis, lahir juga minta di bantuin sama uncle from France too..." seru Bryan setelah memotong tali pusat bayi dan melihat jenis kelamin sang bayi.
Bryan membawa bayi mungil itu menghampiri Armell dan Seno sebelum di bersihkan. Bryan menaruh the new baby di atas dada Armell. Armell menatap bayi mungil miliknya itu dengan mata berkaca-kaca. Begitu juga Seno. Ia terharu melihat malaikat kecil hasil karyanya berada di atas tubuh sang istri.
Tepat di saat itu, dokter Ratna masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. Semua melihat ke arahnya. Dokter Ratna melihat ke arah bayi yang menangis itu dengan perasaan lega.
Bryan mengambil the new baby dan di berikan ke salah satu suster untuk di bersihkan.
" I am sorry, dok. Aku mengambil alih tugasmu. " ujar Bryan.
" Ya. Kau mengambil jatahku kali ini. But, it's oke. Kau sudah melakukan hal yang hebat. Persalinan pertama yang kau lakukan. Dan bayinya lahir dengan selamat. " ujar dokter Ratna dengan sedikit tersenyum. " Benar sekali jika kau di pilih untuk mengisi kursi kepala rumah sakit ini. Kau memang dokter hebat. Serba bisa." lanjutnya.
" Tapi aku menolaknya. " ujar Bryan. Lalu Bryan dan dokter Ratna tertawa bersama-sama.
" Oh iya, aku masih menyisakan tugas untukmu. " ujar Bryan.
Dokter Ratna mengernyit, " Tugas apa? "
Bryan berbisik, " Tadi aku sedikit menambah jalan lahirnya. Dan aku belum menjahitnya kembali. " bisik Bryan. Ia sengaja membisikkannya ke dokter Ratna karena ia tahu kalau Armell sangat takut dengan jarum suntik. Apalagi jarum jahit.
Dokter Ratna sedikit membungkuk untuk melihat di bagian bawah Armell. Kemudian ia manggut-manggut.
" Jangan sampai kau memperlihatkan jarum jahitnya. Karena pasien istimewa kita kali ini sangat takut dengan jarum. " bisiknya kembali. Dokter Ratna kembali menganggukkan kepalanya.
Bryan melepas penutup kepala juga sarung tangannya. Lalu ia menghampiri Seno.
" Bro, ayo kita keluar. Biar dokter Ratna dan suster melakukan sentuhan terakhir untuk istrimu. Dan membersihkan istrimu juga pastinya. Semua anggota keluargamu pasti menunggu kabar gembira ini. " ajak Bryan.
Seno mengangguk, " Baby, aku keluar dulu ya. Aku mau kasih kabar gembira ini ke papa, mama, juga ibu. " ucap Seno. Ia mengusap keringat yang masih menempel di pelipis Armell. Lalu ia mengecup kening Armell.
Armell mengangguk menjawab Seno. Ia merasa tubuhnya masih lemas setelah menggunakan seluruh tenaganya untuk melahirkan sang bayi.
Seno tersenyum, mengusap puncak kepala Armell, lalu berjalan keluar dari kamar diikuti oleh Bryan.
" El, apa sudah lahir? " tanya nyonya Ruth begitu antusias.
Seno tersenyum, lalu memeluk erat tubuh sang mama. Ia mengangguk sambil menangis di pelukan sang mama.
" Anak El sudah lahir ma. Dengan selamat. Tidak kurang suatu apapun. " ujar Seno masih sambil memeluk sang mama.
" Syukurlah kalau begitu. Lalu kenapa kamu malah menangis? " tanya Nyonya Ruth sambil melepas pelukan Seno.
" Karena El baru tahu, dulu mama ngelahirin El juga penuh perjuangan seperti itu. Tapi El malah sudah banyak mengecewakan mama. Maafin El ya ma. " jawab Seno sambil kembali memeluk sang mama.
Nyonya Ruth tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia membalas pelukan sang anak semata wayangnya. Lalu tiba-tiba beliau melepas pelukan Seno.
" Ngomong-ngomong, cucu mama cewek apa cowok? " tanya beliau.
" Jagoan ma. Seorang prince. " sahut Seno.
" Lalu bagaimana keadaan istri kamu? " tanyanya lagi.
" Alhamdulillah, Armell baik-baik saja. " sahut Seno. Lalu ia menghampiri mertuanya dan memeluknya. " Terima kasih Bu, telah melahirkan dan mendidik Armell menjadi perempuan yang kuat. " ucapnya pada sang mertua.
Ibu Armell membalas pelukan menantunya sambil tersenyum dan mengangguk. Saking bahagianya, beliau tidak tahu harus berkata apa.
Lalu Seno bergantian memeluk sang papa.
" Selamat sudah menjadi Daddy. Papa cuma berpesan, jaga baik-baik keluarga kamu. Didik anak kamu menjadi laki-laki yang berakhlak mulia dan menjadi seseorang yang sukses kelak. " ujar tuan Adiguna. Seno mengangguk.
Bryan melihat Pipit menangis tersedu-sedu di belakang sang ibu. Ia lalu berjalan menghampiri Pipit.
" Hei, gadis. Kenapa menangis? Sini aku peluk, biar nggak nangis lagi. " ujar Bryan menggoda Pipit sambil merentangkan kedua tangannya. Entah sejak kapan Bryan sangat suka menggoda Pipit.
" Hisshh....." Pipit menepis tangan Bryan. Bryan tersenyum tipis.
Membuat Bryan langsung menarik tangannya seketika. Ia memberikan tatapan kesal ke Pipit. Tapi yang di tatap malah tersenyum mengejek. Sepertinya Pipit tahu kalau Bryan suka menggodanya.
" Eh, ngomong-ngomong, yang bantu persalinan cucu mama tadi siapa? Kok mama tadi lihat dokter Ratna baru masuk setelah cucu mama menangis. " tanya nyonya Ruth.
Seno menjawab dengan menunjuk Bryan dengan dagunya. Semua yang ada di situ menoleh ke arah Bryan bersamaan dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Membuat Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Yakin kamu El? " tanya Nyonya Ruth tanpa melihat Seno dan masih menatap Bryan.
" Iya ma. Tadi dokter Ratna sedang ada operasi. Terus El tanya ke dia, katanya dokter kandungan di rumah sakit ini yang perempuan cuma dokter Ratna. Daripada ada laki-laki lain yang melihat milik istri El, ya udah akhirnya El pilih dia aja. " jelas Seno.
" Bagaimana kamu bisa yakin dia bisa membantu proses persalinan keturunan Adiguna El? Dia kan spesialis penyakit dalam dan bedah. " ujar tuan Adiguna yang masih belum percaya.
" Wah, om ini mengejek ya. IQ Bryan ini 200 om. Semua ilmu yang pernah Bryan dapatkan, tertata rapi di sini. " sahut Bryan sambil menunjuk kepalanya. " Lagian perempuan melahirkan kan sama aja dengan kalau Bryan membedah seseorang. Sama-sama pakai pisau. " ujar Bryan tidak terima dengan ejekan tuan Adiguna.
Hubungan Bryan dengan keluarga Adiguna sudah sangat akrab memang. Jarang ada pembicaraan serius yang terjadi jika mereka sedang berkumpul bersama.
" Bukankah cucu om lahir dengan selamat? " kekeh Bryan.
" Iya...iya..." ucap tuan Adiguna dan sambil tersenyum beliau menghampiri Bryan dan memeluk Bryan.
" Terima kasih banyak. " ucap tuan Adiguna.
" Sama-sama om. " sahut Bryan.
Ceklek...( suara pintu di buka )
" Tuan Seno, anda silahkan masuk kembali untuk mengadzani si kecil. Si kecil sudah selesai di bersihkan. Dan untuk nona Armell, Sebentar lagi kami akan membawanya ke kamar rawat inap kembali. " ujar dokter Ratna memberitahu. Dan Seno langsung masuk ke dalam ruangan kembali.
Di sana, setelah mengadzani anaknya, suster memperlihatkan semua bagian tubuh si bayi. Lubang telinga, hidung, jumlah jari-jari tangan juga kakinya dan yang lainnya.
💫💫💫
" Duhhhh....cakepnya cucu granma....." puji Nyonya Ruth saat melihat cucunya untuk pertama kalinya.
The new baby berada di dalam box bayi saat ini. Pipit, nyonya Ruth, tuan Adiguna dan ibu Armell mengelilingi bayi mungil itu yang menggerak-gerakkan kaki mungilnya yang berada di dalam bedong.
" Jeng, saya dulu atau jeng dulu yang mau menggendongnya? " tanya ibu Armell.
" Jeng dulu saja yang menggendong. Nanti setelah itu, baru saya. " jawab nyonya Ruth. Beliau tidak mau egois. Karena setelah ini, si kecil itu akan lebih banyak bersama dirinya ketimbang bersama ibu Armell.
Ibu Armell mengangguk dan mengambil bayi itu dari dalam box perlahan.
" Duh, cucuku gantengnya...." puji ibu Armell.
" Iya kan jeng... Wajahnya itu perpaduan antara Lusi yang imut sama si El. " tambah nyonya Ruth.
" Iya jeng. Jadi ada bule-bulenya gitu. Hidungnya mancung, lancip. Memperbaiki keturunan banget ini teh. " ujar ibu Armell gemas. Dan di sambut dengan tawa semua orang.
Nyonya Ruth berjalan mendekati menantunya yang sedang duduk bersandar di ranjang dan Seno yang berada di sampingnya.
" Bagaimana keadaan kamu, sayang? " tanya nyonya Ruth sambil membelai lembut pipi Armell.
" Alhamdulillah, Armell baik-baik saja ma. Makasih ma, pa. Sudah memberikan semua yang terbaik dan istimewa buat Mell. " ucap Armell sambil mencium tangan mama mertuanya.
" Yang terpenting buat kami, kamu dan cucu papa baik-baik saja. " sahut tuan Adiguna.
" Oh iya, kalian sudah menyiapkan nama buat si kecil? " tanya Nyonya Ruth.
" Sudah dong ma. Sebelum dia lahir, kita udah siapin nama. Namanya Danique Francois Adiguna. Di panggilnya Daniq. " ucap Seno.
***
bersambung