My Handsome Police

My Handsome Police
Mau pulang ke kampung



Armell telah membuka matanya sejak pagi. Tapi ia enggan membuka mulutnya. Ia hanya berbaring tanpa merespon apapun yang orang katakan dan tanyakan. Pandangan matanya juga kosong.


Seno semakin dibuat bingung dan sedih dengan kondisi istrinya sekarang. Baginya, lebih baik Armell marah-marah, memukulnya, daripada terdiam seperti ini.


Tuan Adiguna dan istrinya serta ibu dan adik Armell juga di buat bingung. Sudah sejak pagi sebelum mereka tiba di rumah sakit, keadaan Armell seperti itu.


" Baby, makan dulu ya. Dari pagi kamu belum makan. " rayu Seno. Tapi tetap tidak ada jawaban dari Armell. Ia masih dengan posisinya. Duduk dengan kaki di tekuk dan kepala menyandar di kedua lututnya.


Seno menghela nafas panjang dan matanya kembali berkaca-kaca. Ibu Armell mendekat, dan mengambil alih piring dari tangan Seno.


" Biar ibu coba. " ucap sang ibu. Dan Seno mengangguk.


Ibu mendekati Armell. Beliau menyendok nasi dan lauk dengan sendok. Lalu membawanya ke depan mulut Armell.


" Makan, nak. Ibu suapi. Sudah lama kan nggak di suapi sama ibu? Ayo buka mulutnya. Aaa....." ujar ibu Armell.


Keadaan masih sama. Armell sama sekali tidak merespon. Ia tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Ibu mencoba menempelkan sendok berisi nasi dan lauk itu di bibir putrinya. Tapi tetap sama. Armell masih tidak bergeming. Akhirnya ibupun menyerah.


Sore menjelang. Seorang psikolog datang ke kamar Armell. Beliau berusaha mengajak Armell berbicara banyak hal. Tapi Armell tidak menunjukkan respon sama sekali. Ia tetap asyik dengan kesedihan dan rasa bersalahnya.


Seno sudah semakin frustasi. Kehilangan calon anaknya, rasa bersalah yang cukup besar dengan meninggalnya si janin, sekarang ia harus melihat perempuan yang sangat ia cintai seperti ini.


" Baby, jangan terlalu lama bersedih ya. Sekarang kamu boleh bersedih sepuas kamu. Tapi aku mohon, besok kamu harus sudah menjadi Armell si gadis kuat lagi. Aku membutuhkan kamu, baby. " ucap Seno sambil menatap wajah Armell yang terlihat kosong.


" Aku membutuhkanmu, baby. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. " tambahnya lalu ia mengecup kening Armell dan meninggalkan Armell masuk ke kamar mandi. Di sanalah Seno selalu meluapkan emosinya. Ia selalu menangis di dalam sana. Dan sekarang pun seperti itu. Ia sangat ingin menangis saat melihat kondisi istrinya. Lalu ia ke kamar mandi dan menangis sepuasnya di sana.


Setelah puas menangis, ia membasuh mukanya dengan air, lalu kembali ke ruangan. Ia membantu Armell untuk berbaring. Karena semenjak pagi tadi, yang berada di ruangan itu hanyalah raga Armell, tapi jiwanya entah di mana. Iapun menggerakkan anggota tubuhnya kalau ada yang menggerakkannya.


Hari berganti. Hari ini, Seno menolak kehadiran psikolog. Ia tidak yakin bahwa psikolog bisa membantu menyadarkan Armell kembali. Ia dan keluarga hanya berusaha memberikan semangat bagi Armell.


Dokter Ratna memasuki ruangan. Ini saatnya ia memeriksa kondisi fisik Armell.


" Tuan, kondisi fisik Nyonya Armell sudah sangat membaik. Kalau anda mau membawanya pulang, kami sudah memperbolehkan. " dokter Ratna memberitahu.


Seno mengangguk kemudian membelai rambut Armell. Sudah empat hari Armell di rawat di rumah sakit. Dan selama empat hari pula Seno tak meninggalkan rumah sakit. Ia menyerahkan semua pekerjaannya ke Rezky juga Dion, asisten sang papa. Dan untuk baju, nyonya Ruth setiap hari membawakannya.


Dokter Ratna berinisiatif duduk di kursi sebelah Armell. Ia ingin mencoba melakukan interaksi dengan pasiennya itu. Ia menggenggam sebelah tangan Armell.


" Nyonya, saya tahu anda adalah perempuan yang kuat. Boleh saya bercerita sedikit? Nyonya, saya pernah mempunyai pasien seperti anda. Dia juga mengalami kejadian seperti anda. Rahimnya bermasalah. Sama seperti anda. Cuma bedanya, janinnya bisa bertahan. Tapi anda tahu nyonya, saya justru malah kasihan dengan bayi itu. Dia lahir ke dunia ini, dengan keadaan yang tidak normal. Paru-parunya bermasalah. Ia hanya bisa bernafas dengan bantuan peralatan medis. Ia menderita. Ia kesakitan. Dan akhirnya iapun meninggal di usia 4 bulan. Bukankah keadaan yang seperti itu lebih menyakitkan nyonya? Anda seharusnya bersyukur, Tuhan mengambilnya kembali sebelum dia merasakan kesakitan. Ia tidak merasakan penderitaan." ujar dokter Ratna panjang lebar.


Armell sedikit memberikan responnya. Ia mengeluarkan setitik air mata. Seno hendak berbicara untuk melarangnya menangis lagi. Tapi dokter Ratna menggeleng. Menyuruh Seno membiarkan istrinya itu menangis.


" Oh iya Nyonya, saya sampai lupa. Mungkin saya belum mengatakan hal baiknya ya. Anda jangan bersedih terlalu lama. Karena anda, masih tetap bisa memiliki keturunan. Anda masih tetap bisa hamil lagi Nyonya. Asalkan, anda mau melakukan terapi, minum vitamin penguat kandungan, dan minum obat secara teratur. Juga makan nyonya. Jika anda ingin hamil lagi, rahim anda butuh nutrisi. Dan nutrisi itu di dapatkan dari makanan. Kalau nyonya tidak mau makan seperti ini, rahim anda tidak mendapatkan nutrisi. Bukankah nyonya ingin mempunyai bayi yang lain kan? " tanya dokter Ratna lembut.


Armell mengangguk tipis. Air matanya masih menetes. Ia benar-benar memberikan respon setiap omongan dokter Ratna. Seno, ibu mertua, juga mamanya pun yang melihat ikut tersenyum.


" Mau di suapi makannya? Mau di suapi sama siapa nih? Ada suami, ada ibu, ada mama, ada suster, atau mau saya yang menyuapi? " tanya dokter Ratna sambil menunjuk satu persatu orang yang ada di ruangan itu.


Armell memandang ke arah ibunya. Dan dokter Ratna memutuskan supaya Armell di suapi oleh ibunya.


" Baiklah, nyonya. Saya pamit dulu kalau anda tidak ingin di suapi sama saya. " canda dokter Ratna. Lalu dokter Ratna meninggalkan ruangan bersama suster.


Sepeninggal suster, ibu mulai menyuapi Armell. Sedikit demi sedikit perut Armell mulai terisi oleh nasi. Meskipun hanya tiga suap, sudah mending daripada tidak sama sekali.


" Mell mau pulang Bu. " tiba-tiba Armell berucap. Semua yang ada di situ menoleh ke arah Armell. Mereka sangat senang Armell sudah mau mengeluarkan suaranya.


" Iya, baby. Nanti sore kita pulang. Aku akan segera urus administrasi dan membawamu pulang. " ujar Seno dengan suara bahagianya sambil mengelus pipi Armell.


" Ibu..." panggil Armell. Ibupun mendekat. Setelah ibu berada di dekatnya, Armell memeluknya. " Mell mau pulang ke kampung kita, sama ibu dan Pipit. " ujarnya.


" Baby, kita akan pulang ke rumah kita nanti sore. Sama ibu dan Pipit juga. Kalau kamu mau, ibu dan Pipit, kita ajak pindah ke rumah kita. Kamu masih sakit, baby. Kamu belum sembuh total. Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, aku janji, akan mengajak kamu pulang ke kampung kamu. Kita akan menginap beberapa hari di sana kalau kamu mau. " sahut Seno.


Jujur, saat Armell mengatakan ingin pulang ke kampung dengan ibu dan adiknya, perasaan Seno menjadi tidak enak. Armell tidak mengajaknya. Ia merasa istrinya itu ingin menjauh darinya. Dan dia tidak bisa jika itu terjadi.


" Bu, Mell mau pulang sama ibu. " kini Armell menelusupkan kepalanya di perut sang ibu.


Seno menarik nafas berat. " Kamu mau meninggalkan aku, Mell? Kamu mau pulang ke rumahmu dan meninggalkan aku? " tanya Seno yang sudah di liputi emosi.


Nyonya Ruth tidak tega melihat Armell kembali menangis tersedu-sedu. Ia mendekati putranya, lalu menggandeng tangannya dan di ajak keluar dari ruangan itu.


" El, kamu nggak boleh egois. " itulah yang diucapkan nyonya Ruth pertama kali setelah mereka berada di luar kamar.


" Apa kamu tidak kasihan dengan istri kamu? " tanya beliau dengan nada suara tinggi. " El, kamu harus bisa ngertiin istri kamu. Ia masih trauma. Ia pasti masih mempunyai rasa bersalah yang sangat besar. Terutama ke kamu. Karena bagi dia, dialah yang menyebabkan anak kalian meninggal. El, Lusi butuh ketenangan. Supaya dia bisa melupakan traumanya." lanjut Nyonya Ruth.


" Tapi El tidak mempermasalahkan hal itu ma. El tidak menyalahkan Armell. El nggak bisa ma kalau harus pisah sama Armell. El sudah terlanjur mencintainya. Sangat ma. " ujar Seno lirih.


" Mama tahu. Tapi kamu harus yakin, kalau Lusi tidak akan meninggalkanmu. Dia hanya butuh memulihkan hatinya yang terluka. Mama yakin sayang, dia pasti kembali. Dia pasti kembali sama kamu. " nyonya Ruth tahu betapa putranya itu sangat mencintai istrinya. Dan saat ini, putranya itu juga terluka.


Seno menunduk. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


" Nak Seno, ijinkan Armell ibu bawa pulang. Hanya sebentar nak. Ibu akan berbicara dengannya perlahan. Nak Seno tidak usah khawatir. Mell akan kembali baik-baik saja. Dan pasti dia akan kembali sama nak Seno. Tidak lama nak. Ibu pastikan itu. "


Seno masih diam. Dia tidak bisa memutuskan begitu saja. Ia mengusap wajahnya kasar.


***


bersambung