
Hari-hari berlalu. Setelah pertemuannya dengan Mariana sore itu, Alex menjadi bertekad mendekati Armell. Setiap hari dia menemui Armell di kampus, berusaha untuk menjadi lebih dekat dengan Armell. Ia selalu mencuri waktu agar bisa selalu berdekatan dengan Armell.
Mulai dari menemani saat mengajukan skripsi ke dosen pembimbing, meskipun ia telah selesai dan tinggal menunggu waktu wisuda. Kemudian menemani Armell mencari referensi di perpustakaan, bahkan membantu Armell menyelesaikan skripsinya.
Sebenarnya, semenjak awal Armell tahu jika Alex punya perasaan terhadapnya. Tapi seiring berjalannya waktu, dan dengan tahunya Alex jika ia sudah menikah, ia sudah tidak mengambil pusing tentang perasaan Alex. Toh Alex sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaannya.
Dan jangan lupakan Mariana yang dengan senang hati mengambil kesempatan ini. Ia menyuruh anak buahnya mengambil gambar tiap Armell dan Alex ketika sedang bersama. Dengan sedikit mengedit di sana sini, jadi sempurnalah foto itu dan segera di kirim ke ponsel seno.
Beruntung Seno tidak begitu menggubris. Meskipun di hatinya juga terasa panas dan marah, ia tetap berusaha untuk mempercayai istrinya. Ia yakin istrinya tidak akan berselingkuh dan berpaling darinya. Meskipun ia tahu siapa itu Alex Wiradmaja.
Sore itu di kampus Armell.
" Hai, Armell. " sapa Alex.
" Oh hai, Alex. Tumben baru kelihatan. " sapa Armell balik. Akhir-akhir ini hubungan keduanya memang semakin akrab. Karena mereka sudah mengumandangkan persahabatan diantaranya.
" Iya. Biasalah bokap. Menyuruhku ke perusahaan. Beliau bilang aku harus belajar mengurus perusahaan. Beliau bilang gini, ' Alex, kamu itu sebentar lagi sudah jadi sarjana. Jadi kamu harus terjun ke perusahaan mulai sekarang. Jangan seneng-seneng aja terus-terusan. Kamu itu anak papi satu-satunya. Yang bakal mewarisi perusahaan ini. ' " ujar Alex sambil menirukan suara berat papinya.
" Ha...ha ..ha..." Armell dan Alex tertawa bersamaan.
Alex, seorang yang irit bicara, akan sangat berbeda jika sudah bersama Armell. Ia akan lebih banyak bicara dan bercanda. Tertawa lepas.
" Lex, papi kamu benar. Kamu memang harus belajar mengurus perusahaan. Kalau bukan kamu, harus siapa lagi. " sahut Armell setelah ia selesai tertawa.
" Iya juga sih. Tapi kadang aku berpikir terlalu pagi kalau papi mempercayakan perusahaan itu kepadaku. " jawab Alex.
" Tapi kan kamu sudah mampu, Lex. " ujar Armell karena ia sudah tahu banyak tentang Alex. Alex hanya menjawab dengan mengendikkan bahunya.
" Eh, kamu lagi nggak enak badan hari ini? Kok kelihatan agak pucat gitu. " tanya Armell.
" Ah, nggak kok. Mungkin karena tadi belum makan siang aja. Jadi badan aku rasanya agak lemes gitu." jawab Armell.
" Oh...Ngomong-ngomong, kamu udah ketemu dosen? " tanya Alex.
" Udah. Baru aja kelar. " jawab Armell sambil menunjuk ruang dosen.
" Gimana, udah ACC? " tanyanya lagi.
" Alhamdulillah, sepertinya mood pak dosen lagi bagus. Tanpa di buka-buka lagi, langsung di kasih tanda tangan. " ujar Armell.
" Bukan karena lagi bagus moodnya. Tapi karena udah bosen ketemu kamu melulu. " ejek Alex.
" Ha..ha..ha...bisa...bisa ..bisa...." Armell menanggapi dengan tertawa.
" Terus mau kemana habis ini? Mau langsung aku antar pulang? " tanya Alex.
" Udah selesai semuanya sih. Boleh deh di antar pulang kalau nggak ngerepotin. Tapi jujur, aku seneng sih ngerepotin kamu. Jadi ayo aku repotin. " ujar Armell sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih dan beranjak dari duduknya.
Alex ikut berdiri sambil tersenyum dan mengacak rambut Armell. " Dasar kamu. "
Kemudian mereka berjalan ke parkiran. Semua kejadian itu tidak lepas dari bidikan kamera anak buah Mariana. Secepat kilat, Mariana mengirim foto-foto itu ke Seno setelah di lakukan sedikit editan.
Selama perjalanan, Armell dan Alex saling ngobrol dan bercanda. Tiba-tiba Alex membelokkan mobilnya ke sebuah cafe.
" Kok, kita kesini? " tanya Armell bingung.
" Coklat latte di sini enak loh. Cup cake coklatnya juga terkenal enak. Kamu tadi bilang, nggak sempat makan siang. Paling tidak, kita isi perut kamu di sini. Kalau makan besar, pasti kamu nggak mau. Kan bentar lagi udah mau waktunya makan malam." jelas Alex.
" Iya deh. Kamu memang sahabat ter-the best lah. " puji Armell sambil mengacungkan dua jempolnya.
Lalu mereka turun untuk mencicipi cup cake di cafe itu. Alex mengajaknya duduk di sudut ruangan yang agak sepi pengunjung. Sampai sana, Alex memesan cup cake cokelat dan coklat latte untuk Armell, lalu cup cake vanila dan kopi latte untuk dirinya.
Tak lama kemudian, seorang waiters datang membawa pesanan mereka.
" Aku memesan yang coklat buat kamu. Karena kamu suka coklat kan? " ujar Alex. Dan Armell hanya mengangguk.
" Yuk, di makan. " ajak Alex.
Armell dan Alex sama-sama menyendok cup cake. Tapi belum juga Armell memasukkan cup cake itu ke dalam mulutnya, ia meletakkan kembali sendoknya.
" Kok, nggak jadi di makan? " tanya Alex.
" Mell..." panggil Alex.
" Ah, iya..." Armell baru mendengar setelah Alex memanggilnya.
" Kenapa cake nya tidak jadi kamu makan? " tanya Alex.
" Itu...." sahut Armell sambil menunjuk cake Alex dengan dagunya.
" Hem? " Alex menanggapi sambil melihat arah mata Armell.
" Kamu mau yang seperti ini? Sorry, aku pikir kamu kan suka coklat. Jadi tadi aku pesenin yang coklat. Bentar, aku pesenin lagi. " ujar Alex.
" Emmm.... nggak usah..nggak usah..." Armell segera melarang Alex beranjak. " Aku mau yang punya kamu aja. Kita tukeran. Kamu makan punyaku. Toh belum aku makan juga. Mubazir nanti." lanjutnya.
Akhirnya Alex urung berdiri. Ia menerima cake dari tangan Armell. Dan bukan hanya cake nya saja yang di tukar Armell. Tapi minuman mereka juga ia tukar. Meskipun Alex tidak begitu suka coklat, tapi karena Armell yang menginginkannya, maka ia menerima saja.
Mereka mulai menikmati makanan dan minuman yang sudah ada di depan mereka. Armell terlihat sangat menikmati. Alex di buat tersenyum simpul melihat Armell.
Setelah mereka makan, Alex mulai pembicaraannya.
" Armell, kita sudah dekat cukup lama, iya kan? " tanya Alex membuka omongan. " Beberapa bulan, bukan waktu yang sebentar ya kan? "
" Heem. " sahut Armell sambil mengangguk.
" Tapi sebelum itu pun, aku sudah merasa dekat denganmu. " lanjut Alex. Armell mendengarkan dengan serius.
" Armell, ...." Alex menatap mata Armell dalam-dalam. " Aku mencintaimu. " ucap Alex.
Uhuk...uhuk...uhuk ...
Armell yang sedang menyeruput kopinya, menjadi tersedak. " Alex....." panggil Armell.
" Mell, aku tahu aku sudah terlalu berani menyatakan perasaanku kepadamu. Seharusnya aku mengatakan ini sejak dulu. Karena aku sudah mencintaimu sejak lama. Sejak pertama kali aku melihatmu saat ospek. " potong Alex.
" Lex..."
" Seharusnya sudah lama aku berterus terang. Tapi aku pikir, aku akan langsung melamarmu saat kamu lulus dari kuliahmu. Tapi aku kalah cepat. Saat aku berusaha untuk mendekatimu, ternyata kamu sudah menikah. " potong Alex kembali.
" Alex, maaf. " jawab Armell sambil menunduk.
" Mell, aku tidak membutuhkan kamu meminta maaf. " jawab Alex.
" Lalu apa, Lex? Kamu tahu aku sudah menikah. Jadi tidak mungkin aku menerima cinta kamu, Lex. " jawab Armell tegas.
" Aku tahu. Aku tahu kamu sudah menikah. Tapi aku juga tahu, rumah tangga macam apa yang kamu jalani. " ujar Alex.
" Maksud kamu? " tanya Armell sambil mengernyitkan dahinya.
" Aku tahu, kamu menikah karena ingin mengadopsi seorang bayi. Dan sekarang bayi itu sudah diambil kembali oleh ibu kandungnya kan? Lalu buat apa kamu menjalani pernikahan yang seperti itu? Kamu berhak untuk bahagia, Mell. Kamu berhak untuk mendapatkan cinta dari seseorang. Dan aku yakin, aku bisa membuatmu bahagia. Karena aku mencintaimu. Tak apa jika sekarang kamu belum mencintaiku. Aku akan membuatmu mencintaiku dengan berjalannya waktu dan dengan kebersamaan kita. " ujar Alex.
" Tapi aku sudah bahagia, Lex. Aku bahagia dengan pernikahanku. Aku bahagia dengan suamiku. Ia memberiku cinta yang besar. " sahut Armell dengan serius.
" Kamu yakin? Kamu yakin suamimu mencintai kamu? Aku akan tetap diam saja jika memang suami kamu mencintai kamu dan membahagiakanmu. Aku akan tetap diam, Mell. Tapi nyatanya tidak, Mell. Tidak. Dia tidak mencintaimu." ujar Alex geram mengingat foto-foto Seno yang di kirimkan oleh mariana.
" Bagaimana kamu bisa seyakin itu, Lex? Kamu tidak melihat. Kamu juga tidak pernah menyaksikannya. Aku yang menjalaninya. Aku, Lex. Aku yang lebih tahu. " jawab Armell kesal.
" Armell, aku tahu semuanya. Bahkan akupun tahu apa yang tidak kamu tahu. " ujar Alex tegas.
Armell mengernyit.
" Bukalah ponselmu. Kamu lihat. Aku benar apa tidak. " ujar Alex.
Armell segera mengambil ponselnya di tas. Membuka kunci ponselnya dan jleb.....
Seketika hidup Armell terasa runtuh. Tubuhnya tiba-tiba lemas seperti tak bertulang. Air mata mulai menggenang. Ia tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.
***
bersambung